Perlukah Seseorang Mengetahui Nama Rohnya? Bagaimana Menurut Al-Qur’an?

Oleh: Tg. DR. Miftah el-Banjary, MA

PERTANYAAN yang diajukan diantara murid-murid kami sewaktu kami mengkaji kitab “At-Tadzkirah” Imam al-Qurthubi adalah “Apakah kita memiliki nama Roh dan sepenting apa kita mengenal nama roh tersebut?”

Barangkali pertanyaan ini muncul seiring persoalan yang kini sedang hangat terkait polemik nama Roh dari seorang da’i muda yang sedang viral dan naik daun akhir-akhir ini. Semoga Allah menjaga dan melindungi beliau.

Ok! Saya tidak ingin masuk dalam ranah polemik tersebut atau memaksakan diri masuk dalam ranah persoalan ilmu roh yang agak “langka” rujukan referensinya dan hampir jarang dibicarakan oleh para ulama-ulama tasawuf sebelumnya, melainkan dari sudut pandang kajian Ilmu Roh yang berdasarkan pandangan al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw.

Memang persoalan tentang hakikat Roh ini kemudian menjadi sempit dan semakin misterius untuk diungkap dan disingkapkan, sebab Allah Swt membatasi kekasih-Nya Muhammad untuk membukanya secara gamblang dan terbuka.

Manakala serombongan orang-orang Yahudi Madinah meminta pada pemuka Quraisy untuk mempertanyakan sekaligus menguji kebenaran kenabian Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi meminta mereka untuk mempertanyakan tentang persoalan Roh.

Allah Swt melalui kekasih-Nya Muhammad hanya menyampaikan jawaban diplomatis melalui wahyu al-Qur’an:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, maka katakanlah bahwa Roh itu urusan Rabbku dan tiadalah kalian diberikan ilmu pengetahuan tentang itu melainkan hanya sedikit jua.” [Qs. al-Isra: 85]

Meskipun lagi-lagi, persoalan Roh ini misterius dan sulit diungkap hakikatnya, namun bukan berarti al-Qur’an menutup rapat-rapat persoalan ini. Dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an, Allah Swt masih membuka celah-celah kecil bagi orang yang ingin mengetahuinya.

Paling tidak, di dalam al-Qur’an terdapat 10 kali kemunculan dalam penyebutan kata Roh itu sendiri. Ada beberapa kali penyebutan istilah Roh, misalnya, dalam proses penciptaan manusia.

Dalam proses penciptaan manusia, Allah Swt sebutkan Roh itu dari-Nya atau dari hembusan Allah secara langsung dengan menggunakan kata “Nafakha” yang bermakna “Ditiupkan” atau “Dihembuskan”.

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” [al-Hijr: 29]

Imam al-Jurjani mendefinisikan Roh itu adalah sesuatu wujud yang halus dan terdapat dalam diri manusia serta bersifat meliputi keseluruhan tubuhnya. Imam al-Aini mendefinisikan Roh itu sebagai inti kehidupan.

Jadi dari sini kita sudah mulai bisa memahami bahwa Roh itu merupakan inti dari sumber kehidupan, dengan dia adanya wujud makhluk hidup ini.

Roh adalah hembusan energi kehidupan dari Allah terhadap makhluk-Nya. Roh adalah dzat yang dikekalkan oleh Allah Swt yang kelak akan kembali hanya kepada-Nya jua.

Roh diibaratkan suplai tenaga listiknya yang menghidupkan dan menggerakkan sebuah robot. Atau baterai yang menggerakkan mesin. Atau energi hidup yang melahirkan adanya sebuah kehidupan makhluk yang bernyawa.

Namun tidak sampai di sana. Setelah proses peniupan roh tersebut, masih ada proses yang tidak kalah pentingnya, yaitu proses “Instalasi Nafs” yang menjadi spirit penggerak Roh yang telah dihembuskan tadi. “Nafs” bisa dimaknai sebagai karakter utama yang menjadi spirit manusia.

Proses inilah merupakan sebagai proses penyempurnaan penciptaan bagi manusia, yaitu pengilhaman Nafs (jiwa) baik dan Nafs buruk.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“..dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya…”

Dari sinilah kemudian, muncul istilah lain dari Roh yaitu Nafs (Jiwa). Meskipun ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa “Roh” sama juga dengan Jiwa, seperti Ibn Arabi, namun lagi-lagi kita akan mendapati banyak pakar ulama yang membedakannya.

Bahkan, ada lagi ulama, semisal Imam al-Ghazali yang membagi Roh ini menjadi dua bagian, yaitu: “Roh” (Nyawa) dan “Qalb” (Hati). Ada lagi yang membagi lebih detail lagi menjadi beberapa bagian, yaitu “Roh”, “Nafs” (Jiwa), “Qalb” (Hati) dan “Aql” (Akal Pikiran).

Terlepas dari semua perbedaan dan pembagian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada perbedaan antara “Roh” dan “Nafs” (Jiwa). Adanya “Nafs” (jiwa) bergantung dengan adanya Roh. Akan tetapi, “Roh” bisa saja berdiri sendiri tanpa adanya Nafs (Jiwa).

Kita bisa lihat orang yang sedang dalam keadaan koma atau pingsan. Rohnya tetap masih ada, meski Nafs (jiwa)-nya entah kemana, bukan?

Adakah orang yang memiliki Roh tanpa jiwa?

Ada!! Orang gangguan kejiwaan contoh bahwa dia memiliki roh, tapi tanpa memiliki Jiwa atau kejiwaannya sedang terganggu atau sakit, bukan?!!

Adakah orang yang bisa hidup hanya bermodalkan Jiwa saja, tanpa memiliki Roh?!!

Tidak ada!! Kalau ada ya itu namanya Boneka Arwah, hehe..

Ok!! Lanjut..

Nah, jadi dengan demikian dapatlah mulai kita pahami bahwa Roh itu menunjukkan adanya kehidupan, sedangkan Nafs itu menunjukkan signal atau pertanda dari hidupnya kehidupan itu sendiri.

Nafs ini yang telah Allah ciptakan tadi -lebih tepatnya Allah ilhamkan- dia seakan menjadi “Software” yang akan menggerakkan piranti-piranti organ, seperti akal, hati, indera penglihatan, pendengaran, penciuman untuk tunduk atau tidak tunduk pada Sang Maha Pencipta.

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur..” [QS. As-Sajadah:9]

Nah, selanjutnya ketika “Nafs” ini tidak mudah tunduk taat pada ketentuan Tuhannya, senang bermaksiat, senantiasa memperturutkan hawa nafsunya, maka dia disebut “Nafs Amarah” atau sering kita menyebutnya dengan istilah “Hawa Nafsu”.

Bilamana “Nafs” ini kadang taat dan kadang pula bermaksiat pada Tuhannya, maka dia disebut “Nafs Lawwamah”.

Bilamana Nafs ini telah benar-benar mampu menahan dirinya untuk tidak berbuat maksiat, sepenuhnya secara totalis menundukkan dirinya pada kehendak dan aturan Tuhannya, maka pantaslah dia disebut “Nafs Muthmainnah”.

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya..” [An-Naziyat: 40]

“Nafs al-Muthamainnah” (Nafs Suci) inilah yang kemudian dipanggil dan diseru dengan mesra oleh Allah dengan panggilan:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya…”

Sedangkan yang dikembalikan ke alam Barzakh setelah berpisahnya antara jasad dengan “Roh” adalah “Nafs” tadi.

Bila baik dia akan mendapatkan kenikmatan, sebelum kenikmatan surga. Sebaliknya bila buruk Nafsnya dia akan mendapatkan azab kubur sebelum azab neraka.

Dimanakah Roh setelah dicabut dan berpisah dengan Jasad dan Nafs?

Roh itu urusan Allah. Roh akan kembali pada Allah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari Allah akan kembali pada Allah. Roh-roh suci akan ditempatkan di langit yang ke-7, kata Ibnu Abbas.

Maka pertanyaannya, apakah Roh memiliki nama khusus di dunia atau alam akhirat?

Apakah kita perlu mencari-cari nama Roh kita di dunia ini agar dikenali oleh penghuni langit atau para roh-roh suci?

Terkait pemberian nama Rasulullah Saw menyatakan:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ.

“Kelak kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perindahkan nama-nama kalian..” [HR. Abu Darda]

Maka pertanyaannya, yang bergelanyut di pikiran saya, nama-nama yang dimaksud Nabi Saw pada hadits tersebut di atas, apakah nama jasad saja, ataukah nama jasad juga sekaligus nama Roh?!!

Tentu nama jasad sekaligus nama Roh yang akan kelak dipergunakan pada hari kiamat, bukan?!!

Bukankah nama-nama yang diberikan pada kita oleh orang tua kita dulu juga diberikan saat kita memiliki Roh, Nafs dan Jasad?!!

Bukankah sighat tasmiyyah itu redaksinya demikian, “Sammaituka ya ghulam bima sammakallah fi Lauhil Mahfudz fulan bin fulan/fulanah binti fulanah..” (kami beri engkau nama, wahai anak bayi, sebagaimana Allah nama yang tertulis di Lauhul Mahfudz..)

Demikian setelah kematian kita pun orang akan menyebut nama kita sebagaimana nama-nama jasad yang dikenal sewaktu masih hidup di dunia, bukan?!!

Misalnya, “Al-Fatihah ila rouh fulan bin fulan..”

Nisan kita ditulis nama jasadkah atau nama roh?

Nama Roh dari bahasa Arab kah atau berbagai bahasa di dunia? Bukankah Roh bersifat netral, suci dan universal?

Ketika menafsirkan ayat:

﴿ألَسْتُ بِرَبِّكم قالُوا بَلى شَهِدْنا﴾

Al-Imam Fakhru ar-Razie pada tafsirnya berpanjang lebar menjelaskan bahwa ikatan perjanjian roh-roh manusia sewaktu di alam roh, memang pernah terjadi, meski tidak ada sedikit pun menyinggung persoalan “Nama-Nama Roh” meskipun jamak para mufassir menyatakan peristiwa tersebut terjadi di alam Arwah (bentuk plural dari Roh).

Demikian jika kita merujuk pada karya tafsir sufistik, seperti kitab “al-Bahr al-Madid” karya Ibn Ajibah pun, beliau hanya menyebutkan bahwa penyaksian itu dilakukan dalam hal keadaan roh-roh itu masih dalam keadaan suci.

Ok. Saya akan mencoba mengambil jalan tengah..

Sekiranya ada nama lain atau alias pun tentu identitasnya tidak akan terlepas pada nama jasad sewaktu masih hidup di dunia, bukan?

Artinya, sekiranya memang kita boleh jadi menerima ada “Nama Roh” bagi setiap orang -berdasarkan pengetahuan seorang Wali berpangkat Ghahuts- maka boleh jadi nama itu bukan nama utama yang dipanggil dengan nama itu dalam perkara-perkara ibadah semasa hidupnya atau selepas kematiannya, misalnya penyebutan nama almarhum untuk menghadiahkan bacaan al-Qur’an atau perkara badal haji atau badal shaum.

Jika sumber rujukan utama “Nama Roh” itu berdasarkan “Nama Roh Ahmad” ketika masih di dalam alam arwah, dan kemudian terlahir dalam bentuk fisik dengan “Nama Jasad Muhammad”, sampai di sini saya masih bisa melandaskan pada dasar ucapan Nabi:

اسمي أحمد في السماء واسمي محمد في الأرض

“Namaku Ahmad di langit dan Muhammad di bumi..”

Tapi hal itu, nampaknya hanya berlaku masyhur di kalangan para Nabi, keturunan ahli bait Nabi serta orang-orang shaleh dari kalangan Awliya dan Shiddiqin. Bagaimana para pendosa yang memiliki “Nama Roh” yang indah, misalnya nama rohnya “Maulana Abdul Rahim al-Arasy”, tapi hingga akhir hayatnya tiada bertaubat dari maksiatnya?

Memang sekiranya jika kita tetap ingin hubung-hubungkan dengan periwayatan semacam ini boleh jadi juga ada dari periwayatan Imam Bukhari, Nabi Saw bersabda:

إذا أحبَّ الله العبدَ نادى جبريل: إن الله يحبُّ فلانًا فأحبِبْه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إن الله يحب فلانًا فأحِبُّوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka ia menyuruh Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah ia, maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit:

”Sesungguhnya Allah mencintai Si Fulan maka cintailah ia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” (HR Al Bukhari).

Dengan dasar kecintaan itulah, kemudian boleh jadi, Allah Swt memberikan nama-nama khusus atau gelar pangkat kehormatan atas hamba yang dicintai itu atas para wali-Nya itu yang kemudian ditenggarai sebagai sebuah “Nama Roh”.

Namun hal itu sekali lagi, haruslah diperoleh dengan cara kesungguhan dan keistiqamahan serta keikhalasan para wali tersebut beribadah, bukan diperoleh dengan mudah dan gampang oleh semua orang awam. Apalagi dicari-cari apa dia punya nama rohnya?

Walhasil, persoalan nama-nama roh bukanlah masuk pada bab ranah akidah yang harus dan wajib dipercayai atau tidak boleh diinkari. Bagi yang mempercayai silahkan, tapi bagi yang tidak mempercayainya juga tidak ada masalah. Tergantung pada pilihan masing-masing.

Namun, sependek pembacaan saya pada kitab karya Sulthanul Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang berjudul “Sirrul Asrar wa Madzhar al-Anwar fiima Yahtajul Ilaihi al-Abrar” yang katanya di sana ada memuat pembahasan tentang “Nama-Nama Roh”, belum saya temukan pembahasan tersebut, melainkan nama terbanyak yang muncul dan disebutkan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani hanyalan “al-Asma at-Tauhid”. Mungkin saya yang kurang cermat.

Bagaimana pun saya tetap menjadi pengagum keilmuan beliau, saya tetap mencintai beliau, meski dalam masalah nama roh ini saya agak kebingungan untuk harus belajar kemana lagi, dan ke sosok wali Ghauts mana kah kami harus mencari nama roh kami, wahai guru?

Mungkin keilmuan kita kita belum sampai…

Wallahu ‘alam.

*) Pakar Ilmu Linguistik Arab, Pimpinan Majelis Dalail Khairat Komunitas Indonesia-Malaysia

Al-Qur'anMiftah el-BanjaryRohruh
Komentar (0)
Tambah Komentar