Pondok Suro Edisi Jamasan Keris, Semut: Ini Ikhtiar Merawat Warisan Leluhur dan Membersihkan Batin
REKAYOREK.ID – Kepulan asap dupa menari perlahan di antara cahaya temaram lampu Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Jalan Dupak Bangunrejo Gang I Nomor 30, Surabaya. Terpaan angin malam membuat aroma bunga setaman bercampur minyak wangi tradisional menyebar ke seluruh ruangan, menghadirkan suasana hening yang sarat permenungan.
Dalam balutan Bulan Suro, puluhan peserta duduk melingkar mengelilingi pusaka-pusaka yang akan dijamas. Tak terdengar riuh percakapan. Yang ada hanya doa-doa lirih, lantunan tembang Jawa, serta gemericik air yang digunakan untuk membersihkan bilah keris. Suasana itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Pondok Suro yang diselenggarakan Sanggar Seni Omah Ndhuwur sebagai ruang edukasi kebudayaan.

Penggagas Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Abdoel Semut, menegaskan bahwa tradisi jamasan tidak boleh dipahami sebagai praktik mistik, melainkan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan pendidikan karakter.
“Jamasan adalah bentuk penghormatan kepada karya para empu sekaligus pengingat agar manusia juga membersihkan dirinya sendiri. Jangan berhenti melihat keris sebagai benda, tetapi pahami nilai yang dikandungnya,” ujar Abdoel Semut.
Ia menjelaskan, dalam kajian kerisologi (krisologi), tradisi jamasan pada dasarnya dapat dipahami melalui tiga bentuk utama sesuai tujuan perawatannya.

Pertama adalah jamasan rutin atau preventif, yakni pembersihan berkala untuk menghilangkan kotoran, menjaga kondisi bilah, serta mencegah timbulnya karat sehingga pusaka tetap terawat secara fisik.
Kedua adalah jamasan konservatif atau restoratif, yaitu perawatan yang dilakukan ketika keris mulai mengalami kerusakan akibat usia, kelembapan, atau korosi. Proses ini memerlukan ketelitian agar tidak menghilangkan nilai artistik maupun karakter asli bilah keris.

Ketiga adalah jamasan ritual atau seremonial, yang lazim dilakukan pada momentum tertentu seperti Bulan Suro. Dalam tradisi ini, jamasan menjadi simbol penyucian batin, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus pengingat agar manusia senantiasa menjaga akhlak dan keseimbangan hidup.
“Ketiga jenis jamasan itu saling melengkapi. Ada aspek pelestarian benda, ada aspek keilmuan, dan ada nilai filosofinya. Yang perlu dipahami masyarakat, seluruh proses itu bukan penyembahan kepada keris, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya bangsa,” jelasnya.

Menurut Abdoel Semut, keris merupakan karya adiluhung Nusantara yang di dalamnya menyatu kemampuan teknologi tempa logam, seni rupa, estetika, hingga falsafah kehidupan masyarakat Jawa. Karena itu, merawat keris juga berarti menjaga ingatan sejarah bangsa.
Ia mengakui, perkembangan zaman membuat banyak generasi muda mengenal keris hanya melalui cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat. Padahal, bila dipelajari secara akademis, keris merupakan salah satu mahakarya budaya Indonesia yang telah diakui dunia.
“Kalau generasi muda hanya mendengar kisah mistisnya, mereka akan menjauh. Tetapi kalau dikenalkan sejarahnya, filosofi pembuatannya, nilai etikanya, mereka akan bangga memiliki warisan budaya sebesar ini,” katanya.
Melalui kegiatan Pondok Suro, Sanggar Seni Omah Ndhuwur ingin mengembalikan fungsi jamasan sebagai media edukasi kebudayaan. Peserta tidak hanya diajak menyaksikan prosesi pembersihan pusaka, tetapi juga memahami makna di balik setiap tahapan, mulai dari penggunaan air, bunga setaman, minyak pusaka, hingga doa-doa yang dipanjatkan sebagai simbol introspeksi diri.

Malam semakin larut. Kepulan asap dupa perlahan memudar bersama embusan angin, sementara harum bunga setaman masih memenuhi ruangan. Di tengah keheningan itu, prosesi jamasan seakan menyampaikan pesan sederhana bahwa pusaka bukan sekadar benda peninggalan masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai kehidupan yang patut diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Pondok Suro bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang belajar yang mengajak masyarakat memandang tradisi secara lebih jernih: bukan melalui kacamata mitos, melainkan sebagai kekayaan peradaban yang menyimpan pengetahuan, etika, dan identitas bangsa.@