Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Gus Kholil: Pondok Suro Menjadi Ruang Menyambung Ruh Budaya, Bukan Sekadar Melestarikan Tradisi

Padepokan Gema Qolbu

REKAYOREK.ID – Bulan Suro kembali dimaknai sebagai momentum membangkitkan kesadaran budaya melalui kegiatan Pondok Suro yang digagas Yayasan Pasopati Cakra Nusantara. Program tersebut mendapat apresiasi dari berbagai tokoh budaya, salah satunya Gus Kholil dari Padepokan Gema Qolbu, Pasuruan, Jawa Timur, yang hadir dalam kegiatan di Sanggar Omah Ndhuwur, Surabaya.

Dalam wawancara usai mengikuti rangkaian kegiatan, Gus Kholil memandang Pondok Suro bukan sekadar agenda tahunan ataupun seremoni budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan ruang pembelajaran untuk membangun kembali kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Nusantara.

“Budaya jangan dipahami hanya sebatas pertunjukan atau ritual. Budaya adalah cara manusia memuliakan kehidupan. Ketika budaya dijaga, sesungguhnya kita sedang menjaga akhlak, etika, dan jati diri bangsa,” ujar Gus Kholil kepada REKAYOREK.ID di Sanggar Omah Ndhuwur.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus globalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain perlahan mengikis akar budaya apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter.

Ia menilai generasi muda saat ini membutuhkan ruang belajar yang mampu mempertemukan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Kita tidak mungkin menolak kemajuan zaman. Yang harus dilakukan adalah membekali generasi muda dengan pondasi budaya agar mereka tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan dunia,” katanya.

Bulan Suro Momentum Introspeksi

Bagi Gus Kholil, Bulan Suro memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penanggalan Jawa. Suro merupakan momentum untuk membersihkan diri, memperbaiki niat, sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Menurutnya, nilai tersebut selama ini menjadi fondasi dalam berbagai tradisi Nusantara yang diwariskan turun-temurun.

“Hakikat Suro adalah mengendalikan hawa nafsu, memperhalus budi pekerti, memperkuat rasa syukur, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Kalau itu dipahami, maka budaya tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada simbol-simbol budaya semata tanpa memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

“Kalau hanya menjalankan tradisi tanpa memahami pesan moralnya, maka budaya akan kehilangan ruhnya,” imbuhnya.

Menjaga Harmoni Bangsa, Pendidikan Budaya Harus Menyentuh Generasi Muda

Gus Kholil mengapresiasi konsep Pondok Suro yang tidak hanya mengenalkan tradisi, tetapi juga memberikan materi tentang perilaku santun, tata krama, aksara Jawa, busana budaya, hingga wawasan kebudayaan Nusantara.

Menurutnya, pendekatan seperti itu menjadi bentuk pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan saat ini.

“Anak-anak muda harus dikenalkan bahwa budaya bukan barang kuno. Justru budaya adalah bekal menghadapi masa depan. Orang yang mengenal budayanya akan lebih percaya diri dan memiliki identitas yang kuat,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan di berbagai daerah melalui sanggar, komunitas budaya, pesantren, hingga lembaga pendidikan.

Lebih lanjut, Gus Kholil mengatakan bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan Indonesia yang harus dijaga bersama.

Ia menilai pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab seniman maupun budayawan, tetapi seluruh elemen masyarakat.

“Bangsa ini besar karena mampu hidup dalam keberagaman. Budaya mengajarkan kita saling menghormati, saling menghargai, dan hidup berdampingan. Nilai-nilai itulah yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Menurutnya, kebudayaan memiliki peran strategis dalam membangun persatuan karena di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Gus Kholil juga mengapresiasi keberadaan Sanggar Omah Ndhuwur yang dinilainya konsisten menjadi ruang berkumpulnya para pegiat seni, budaya, dan komunitas lintas daerah.

Ia berharap semakin banyak ruang-ruang budaya yang mampu menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.

“Sanggar bukan hanya tempat berkesenian. Sanggar adalah ruang bertemunya gagasan, nilai, dan peradaban. Dari tempat seperti inilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan budaya,” ungkapnya.

Di akhir wawancara, Gus Kholil mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak malu mempelajari budaya sendiri.

Baginya, menjaga budaya berarti menjaga martabat bangsa di tengah derasnya arus modernisasi.

“Kemajuan teknologi adalah keniscayaan, tetapi jangan sampai membuat kita tercerabut dari akar budaya. Mari jadikan Pondok Suro sebagai ruang belajar bersama untuk merawat warisan leluhur, memperkuat budi pekerti, dan menyiapkan generasi yang berkarakter. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budayanya sendiri,” pungkas Gus Kholil.@

Komentar
Loading...