Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Ketika Doa dari Berbagai Keyakinan Bertemu di Bawah Langit Joko Dolog

Doa Bersama Lintas Agama

REKAYOREK.ID – Malam mulai turun di kawasan Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Surabaya, Kamis Kliwon, 2 Juli 2026. Di tempat yang telah berabad-abad menjadi saksi perjalanan sejarah itu, suara doa dari berbagai keyakinan mengalun bergantian, menyatu dalam satu harapan yang sama: keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi negeri serta masyarakatnya.

Doa Bersama Lintas Agama menjadi puncak rangkaian Festival Joko Dolog Surabaya 2026 yang selama dua hari dua malam menghadirkan perpaduan antara budaya, spiritualitas, dan tradisi Nusantara di jantung Kota Surabaya.

Di bawah rindangnya pepohonan dan di hadapan Arca Joko Dolog yang berdiri kokoh sebagai penjaga ingatan sejarah, para tokoh agama, budayawan, pegiat tradisi, serta masyarakat duduk berdampingan tanpa sekat. Perbedaan keyakinan tidak menjadi jarak, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan menghormati.

Ketika Doa dari Berbagai Keyakinan Bertemu di Bawah Langit Joko Dolog/Foto: doc-jokodolog

Momen itu menjadi gambaran sederhana tentang Indonesia: beragam, namun tetap mampu berjalan bersama.

Prosesi doa kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas segala nikmat dan keberkahan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Potongan tumpeng yang dibagikan kepada para peserta menjadi lambang kebersamaan, persaudaraan, dan harapan agar keberkahan turut dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Festival Joko Dolog Surabaya 2026 sendiri menghadirkan berbagai kegiatan budaya dan spiritual yang berlangsung selama dua hari dua malam, mulai dari Ruwatan Massal, Live Music Abdi Dalem Band, Talk Show Kebudayaan, pertunjukan Jaranan, Semedi Bersama 99 Orang, Kirab Budaya, Tari Remo, hingga Doa Bersama Lintas Agama.

Ketika malam semakin larut, suasana sakral berlanjut melalui Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Suwito Sei Mudo Darsono yang membawakan lakon Wahyu Ponco Mulyo. Kisah tersebut mengandung pesan tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, kemakmuran, serta kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.

Bagi masyarakat Jawa, wayang bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang perenungan, media pendidikan, sekaligus cermin nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Ketua Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog sekaligus Ketua Panitia, Khoirul Anam, S.H., memandang Festival Joko Dolog sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah meninggalkan jejak budaya dan nilai kehidupan yang masih relevan hingga hari ini.

Menurutnya, Bulan Suro bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat persaudaraan, gotong royong, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.

Rasa syukur juga disampaikan oleh Romo Arif bersama Mbah Sugianto selaku Juru Kunci Cagar Budaya Arca Joko Dolog. Bagi mereka, festival ini bukan hanya sebuah perayaan budaya, tetapi juga ikhtiar untuk mengenalkan kembali Arca Joko Dolog kepada masyarakat luas sebagai salah satu situs sejarah dan budaya penting di Kota Surabaya.

Di tengah laju modernisasi kota, keberadaan ruang-ruang budaya seperti Joko Dolog menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban besar tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan raya, tetapi juga oleh ingatan kolektif terhadap sejarah dan warisan leluhurnya.

Festival Joko Dolog Surabaya 2026 akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar rangkaian acara. Ia meninggalkan pesan bahwa budaya dan spiritualitas dapat berjalan beriringan, bahwa keberagaman dapat dirawat melalui dialog dan penghormatan, serta bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama masih ada generasi yang bersedia menjaganya.

Dan pada malam itu, di bawah langit Surabaya, doa-doa dari berbagai keyakinan telah bertemu dalam satu bahasa yang sama: harapan untuk Indonesia yang damai, rukun, dan berbudaya.@

Komentar
Loading...