Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Menjaga Napas Nusantara dari Kaki Kirab Joko Dolog

Warna-Warni Budaya Tradisional

REKAYOREK.ID – Di bawah langit Surabaya pada Kamis Kliwon, 2 Juli 2026, langkah demi langkah mulai berderap dari kawasan Cagar Budaya Arca Joko Dolog. Bukan sekadar barisan manusia yang berjalan bersama, melainkan potongan-potongan wajah Nusantara yang menyatu dalam satu irama melalui Kirab Budaya Cakrawala Mandala Dwipantara.

Ratusan peserta mengenakan beragam busana adat dari berbagai daerah di Indonesia. Warna-warni kain tradisional, aksesoris budaya, serta ragam simbol kearifan lokal menghadirkan pemandangan yang seolah membawa masyarakat menelusuri perjalanan panjang peradaban Nusantara dalam satu ruang dan waktu yang sama.

Sekitar 500 peserta dari Surabaya maupun luar daerah hadir bukan hanya sebagai peserta kirab, tetapi sebagai penjaga ingatan kolektif bangsa terhadap warisan budaya leluhur yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Kirab Budaya Cakrawala Mandala Dwipantara menjadi salah satu rangkaian penting Festival Joko Dolog Surabaya ke-3 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Di tengah hiruk-pikuk kota modern, kirab ini menghadirkan ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, spiritualitas, dan semangat persaudaraan.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Abdi Dalem Eyang Joko Dolog, Khoirul Anam, S.H., menilai bahwa budaya tidak cukup hanya disimpan dalam catatan sejarah, tetapi harus terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat.

“Kirab Budaya Cakrawala Mandala Dwipantara bukan sekadar arak-arakan budaya, melainkan ikhtiar bersama untuk mempererat persaudaraan, menjaga warisan leluhur, dan memperkuat jati diri bangsa melalui semangat gotong royong serta keberagaman budaya Nusantara,” ujarnya.

Baginya, keberagaman yang hadir dalam kirab tersebut merupakan gambaran nyata Indonesia yang sesungguhnya: berbeda-beda namun tetap berjalan dalam tujuan yang sama.

Semangat serupa juga dirasakan oleh Koordinator Kirab Budaya, Nessy. Ia menyaksikan sendiri bagaimana peserta datang dari berbagai daerah dengan membawa identitas budaya masing-masing, namun melebur dalam suasana persaudaraan tanpa sekat.

Menurutnya, antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya Nusantara masih tumbuh kuat dan terus diwariskan lintas generasi. Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan energi sosial yang mampu mempererat persatuan di tengah keberagaman.

Di kawasan Arca Joko Dolog yang telah lama menjadi saksi perjalanan sejarah Surabaya, kirab budaya itu seolah menghadirkan kembali pesan lama yang tetap relevan hingga hari ini: sebuah bangsa akan tetap berdiri kokoh selama masih mengenali akar budayanya sendiri.

Festival Joko Dolog Surabaya yang kini memasuki tahun ketiga pun perlahan berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk merawat sejarah, menjaga tradisi, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Ketika langkah terakhir kirab usai dan peserta mulai meninggalkan lokasi, yang tertinggal bukan hanya jejak kaki di jalanan Surabaya, melainkan juga harapan bahwa budaya Nusantara akan terus hidup, dirawat, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebab budaya tidak pernah benar-benar hilang selama masih ada orang-orang yang bersedia berjalan bersama untuk menjaganya.@

Komentar
Loading...