Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Diary Pagi — Merapi, Keris, dan Api yang Menempa

REKAYOREK – Pagi ini aku di Jogja, hening dari jauh memandang Merapi.

Diam.
Tegak.
Tua.

Dan anehnya, di hadapannya aku merasa kecil.

Bukan kecil karena lemah,
tetapi kecil karena sadar:
betapa luas hidup ini,
dan betapa sedikit yang sungguh kupahami.

Orang Jawa melihat Merapi bukan sekadar gunung.

Ia adalah api.

Api yang menghancurkan,
sekaligus menyuburkan.

Seperti hidup.

Seperti perjalanan batin.

Aku teringat keris.

Bilah yang lahir bukan dari besi yang utuh,
tetapi dari besi yang dibakar,
dipukul,
dilipat,
dan ditempa berkali-kali.

Tanpa api,
ia tidak akan menjadi pusaka.

Dan mungkin manusia juga begitu.

Luka,
kehilangan,
kesalahan,
dan pencarian—
sering terasa seperti panas yang membakar.

Tetapi mungkin justru itulah tungku
yang membentuk watak terdalam kita.

Merapi mengajarkan api.

Keris mengajarkan tempaan.

Dan hidup mengajarkan:
tidak semua yang membakar datang untuk menghancurkan.

Kadang ia datang untuk membentuk.

Pagi ini aku melihat Merapi,
dan seperti melihat diriku sendiri.

Masih menyimpan api.
Masih membawa bekas tempaan.
Masih berdiri.

Dan dalam sunyi itu aku bertanya:

Apakah api yang selama ini membakarku…
sedang menghancurkanku,
atau justru sedang menempa diriku menjadi sesuatu yang lebih jujur?

— Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan

Komentar
Loading...