Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Rajapatni dan Warga Nguri Nguri Sejarah Kota Lama Surabaya

REKAYOREK.ID Kampung Eropa Surabaya bukan literasi belaka. Keberadaannya nyata. Sebuah dokumen peta kawasan makam Peneleh, yang pernah tertulis sebagai Makam Belanda, ternyata bukan saja tempat peristirahatan terakhir warga Surabaya etnis Belanda. Tapi juga etnis Eropa.

Data itu tertulis pada peta Makam tinggalan era kolonial. Peta itu tertulis Situatie Europesche Begraaf Plaats Peneleh, Situasi Pemakaman Eropa Peneleh.

Mereka adalah warga Surabaya yang sebagian pernah menghuni Stad van Surabaya, yang sekarang dikenal dengan nama Kota Lama Surabaya. Ya Kota Lama Surabaya, khususnya Kampung Eropa yang lokasinya berada di barat sungai Kalimas.

Signage untuk tiang tiang lampu serta papan nama jalan secara eksplisit mengatakan Kota Lama Surabaya, yang keberadaannya identik dengan Kampung Eropa.

Warga setempat, yang tinggal di jalan Mliwis, Glatik dan Prenjak di lingkungan RT03/RW10 Kelurahan Krembangan Selatan menyambut datangnya Konsep Wisata Kota Lama Surabaya dengan membekali dirinya mau belajar sejarah kampungnya.

Hari ini, Rabu sore (12/6/24), warga setempat mengadakan kelas sinau sejarah Kota Lama (Kampung Eropa) Surabaya. Kelas ini bertempat di kediaman Ketua RT 03 yang klasik dan langka. Rumahnya bergaya Indiesch dengan aksentuasi pilar pilar. Di Kawasan ini hanya tersisa 3 unit bangunan. Dua di jalan Mliwis dan satu di pojokan ꦗꦭꦤ꧀ꦧꦿꦚ꧀ꦗꦔꦤ꧀ jalan Branjangan (d/h: Boomstraat) dan Rajawali (d/h: Herenstraat).

Pada abad 19, umumnya bangunan di Kota Lama bergaya Indiesch. Seiring dengan perubahan zaman, pada abad 20 banyak bangunan yang berubah. Sekarang di abad 21, ketiga bangunan ini tidak berubah. Sekarang menjadi gaya yang sangat langka dan menjadi ikonik di kawasan Eropa Surabaya.

Jalan Mliwis (d/h: Dwaarboomstraat = Jl. Duane Samping) dan Jalan Glatik (d/h: Stadhuizsteeg = Gang Balai Kota) secara fisik sangat indah. Secara non fisik sangat bermakna dalam perkembangan Kota Surabaya.

Warga setempat tidak mengenal itu semua. Karenanya mereka antusias belajar sejarah kampungnya. Bahkan pemilik rumah, belum banyak mengenal rumahnya. Dalam upaya pengembangan Kawasan Kota Lama Surabaya, adalah kesempatan bagi warga setempat untuk belajar tentang sejarah kampungnya. Kota Lama Surabaya memberi kesempatan bagi warga untuk belajar tentang kotanya.

Sentuhan seni dan budaya pun mulai mengisi kawasan Kota Lama Surabaya. Dalam peta lama 1767 (Asia Maior) terlihat jelas bahwa di sekitar Kota Bertembok (walled town) Surabaya ada Kampung Kampung Jawa. Kampung Jawa pastinya dihuni warga Jawa yang orang orangnya tentu berbahasa Jawa. Bahasa Tutur. Sedangkan bahasa tulisnya menggunakan Aksara Jawa.

Karenanya di Jalan Mliwis, Jalak, Prenjak dan di lingkungan yang berpenghuni juga diperkenalkan Aksara Jawa sebagai bentuk pemajuan literasi peradaban lokal kala itu.

Kini warga mulai mengenal Aksara Jawa di Kampung Eropa. Spanduk dan banner edukatif di warung warung dan jalan di sekitar RT 03 dan RT 02 /RW 10 Kelurahan Krembangan Selatan.@nanang PAR

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...