RPK Sememi Surabaya Sepi Pengunjung, Lurah Akui Tantangan Pemberdayaan Warga Masih Besar
Minimnya aktivitas pengunjung membuat sebagian besar fasilitas di kawasan tersebut terkesan mangkrak.
REKAYOREK.ID – Kondisi Rumah Padat Karya (RPK) Sememi, Kota Surabaya, kini menjadi sorotan. Fasilitas yang sebelumnya dibangun sebagai pusat kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat tersebut tampak sepi aktivitas, bahkan sejumlah fasilitas usaha sudah tidak lagi beroperasi.
RPK Sememi merupakan alih fungsi eks bangunan lokalisasi Sememi yang diresmikan Wali Kota Surabaya bersama camat, lurah, organisasi perangkat daerah (OPD), serta perangkat RT/RW pada 20 Juni 2022.
Berdasarkan pantauan di lokasi, fasilitas cuci kendaraan bermotor yang menjadi salah satu layanan utama terlihat tidak beroperasi. Sementara itu, 6 stan kuliner yang berada di sisi utara atau belakang bangunan juga tampak kosong dan diduga telah ditinggalkan para pelaku usaha.
Saat ini hanya beberapa unit usaha yang masih bertahan, di antaranya jasa jahit, laundry, dan penjual minuman yang berada di bagian depan RPK.
Minimnya aktivitas pengunjung membuat sebagian besar fasilitas di kawasan tersebut terkesan mangkrak. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan operasional RPK Sememi sebagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, Lurah Sememi, Tiyar Junaedi, menjelaskan bahwa program Rumah Padat Karya memang diperuntukkan bagi warga kurang mampu. Namun, menurutnya, tantangan terbesar terletak pada keberlanjutan usaha yang dijalankan para peserta.
“Jadi sebentar saja mereka itu sudah mutung (patah semangat). Berbeda lagi sama seseorang yang punya jiwa wirausaha. Dirasa keadaan berusaha sepi, sudah patang semangat (mutung),” kata Tiyar kepada REKAYOREK.ID, Kamis (9/7/2026).
Ia mengungkapkan, sebagian peserta yang sebelumnya mengikuti program RPK kini sudah beralih pekerjaan.
“Kalau orang yang ikut RPK Sememi sudah tidak lagi bekerja, tetapi sudah kerja lain menjadi Satuan Pengamanan (Satpam). Tapi pada saat buka RPK itu lebih banyak tutupnya, dari pada bukanya,” ungkapnya.
Menurut Tiyar, program tersebut sejatinya merupakan upaya pemberdayaan masyarakat. Namun, kedisiplinan dan komitmen peserta masih menjadi kendala.
“Karena kalau saya melihat itu kan, RPK Sememi pemberdayaan masyarakat. Jadinya kurang kurang kuat, dan rata-rata tidak tepat waktu kalau datang,” ujarnya.
Meski demikian, pihak kelurahan tetap berupaya membangkitkan kembali aktivitas di RPK Sememi dengan memberikan motivasi kepada masyarakat agar mau terlibat dalam program tersebut.
“Kita lebih mendorongnya itu ke motivasi, sampai mencari orang-orang yang punya niat kerja itu,” ucapnya.
Tiyar menambahkan, pengelolaan RPK Sememi berada di bawah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
Sementara Kelurahan Sememi berperan membantu mencari masyarakat yang bersedia bekerja dan mengelola fasilitas yang tersedia.
“Kalau RPK Sememi fasilitas cuci kendaraan bermotor itu BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Untuk cuci kendaraan bermotor kita dapat lagi orangnya (dipekerjakan),” imbuhnya.@ri / Fzi