Kemelut Hidup: Film Asrul Sani yang Relevan Hingga Kini
Oleh: Tengsoe Tjahjono
Di tengah rangkaian kegiatan Seabad Setahun Asrul Sani (1925–2026) yang diselenggarakan oleh Pelaku Sanggar Pelakon, HISKI, dan Perpustakaan Nasional RI pada 9–17 Juni 2026, salah satu acara yang paling menyentuh perhatian publik adalah pemutaran film Kemelut Hidup (1977), karya sutradara Asrul Sani. Pemutaran film ini bukan sekadar nostalgia terhadap karya sinema Indonesia masa lalu, melainkan juga sebuah perjumpaan kembali dengan realitas sosial yang ternyata masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia hari ini.
Peringatan Seabad Setahun Asrul Sani dirancang sebagai penghormatan kepada sosok yang jejak intelektual dan kebudayaannya begitu luas. Ia dikenal bukan hanya sebagai budayawan dan seniman, tetapi juga teaterawan, politikus, pendidik, dan sineas yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan kebudayaan Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pameran, dialog budaya, pemutaran film Kemelut Hidup, penulisan buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia, peluncuran buku, serta seminar nasional.
Di antara seluruh rangkaian acara itu, pemutaran Kemelut Hidup menghadirkan pengalaman yang istimewa. Film yang diadaptasi dari novel karya Ramadhan K.H. tersebut seperti mengajak penonton memasuki lorong kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh kegelisahan dan ketidakpastian.
Tokoh utamanya, Abdurahman, diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Soekarno M. Noor. Ia adalah seorang pegawai negeri yang jujur, rajin, dan hidup sederhana.
Menjelang masa pensiun, ia berusaha mempersiapkan masa depannya dengan menempuh pendidikan dan meraih gelar sarjana ekonomi. Baginya, pendidikan adalah jalan keluar dari kecemasan ekonomi yang akan datang. Dengan bekal gelar sarjana itu, ia membayangkan masa tua yang tenang bersama istri dan kelima anaknya.
Namun, kenyataan berkata lain.
Setelah pensiun, pekerjaan yang diharapkan tak kunjung datang. Gelar akademik ternyata tidak otomatis membuka pintu kesejahteraan. Kesulitan ekonomi mulai menggerogoti keluarga yang semula tampak harmonis.
Di sinilah Asrul Sani memperlihatkan kemampuannya membaca persoalan sosial secara tajam: kemiskinan bukan sekadar soal tidak adanya uang, melainkan keadaan yang perlahan menggerus martabat manusia dan meretakkan sendi-sendi keluarga.
Penderitaan Abdurahman bertambah ketika Susana, salah seorang anaknya, memilih menjual diri sebagai pelacur. Keputusan itu bukan lahir dari kebebasan, melainkan dari tekanan sosial dan ekonomi yang menghimpit.
Sementara itu, Ina, sang istri, berusaha membantu keuangan keluarga, tetapi justru terjerat rayuan ayah mertua tirinya. Penderitaan keluarga itu mencapai puncaknya ketika Aminah, anak yang sedang belajar di Belanda dan menjadi harapan keluarga, kembali ke tanah air dengan membawa tiga tragedi sekaligus: gagal studi, hamil di luar nikah, dan mengalami gangguan jiwa yang serius.
Bila dicermati, persoalan-persoalan yang dihadirkan film ini terasa sangat kontemporer. Indonesia hari ini masih dihadapkan pada persoalan pensiunan yang kehilangan kepastian ekonomi, sarjana yang sulit memperoleh pekerjaan, tekanan hidup yang memicu disintegrasi keluarga, persoalan kesehatan mental, hingga kerentanan perempuan akibat tekanan sosial dan ekonomi.
Film yang dibuat hampir setengah abad lalu itu ternyata masih berbicara kepada masyarakat Indonesia masa kini.
Di sinilah letak kekuatan Asrul Sani sebagai sineas. Ia tidak menjadikan film sebagai hiburan semata, melainkan sebagai cermin sosial. Ia menangkap kegelisahan masyarakat, lalu mengolahnya menjadi narasi yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran.
Kemelut Hidup mengajarkan bahwa persoalan sosial tidak pernah berdiri sendiri. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan mental, dan keretakan keluarga saling terkait dan membentuk mata rantai penderitaan yang panjang.
Yang menarik, Asrul Sani tidak menghadirkan tokoh-tokoh hitam-putih. Abdurahman bukan pahlawan sempurna, demikian pula anggota keluarganya bukan tokoh-tokoh yang layak dihakimi. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha bertahan dalam keadaan yang terus menekan. Dengan demikian, film ini mengajak penonton untuk melihat persoalan sosial dengan empati, bukan dengan prasangka.
Pemutaran film kali ini juga terasa lebih bermakna karena dihadiri oleh Mutiara Sarumpaet Sani, pemeran Aminah sekaligus istri Asrul Sani. Kehadirannya seolah menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan masa ketika film ini dilahirkan. Ia bukan sekadar saksi sejarah, melainkan bagian dari sejarah itu sendiri.
Pada akhirnya, Kemelut Hidup menunjukkan bahwa karya seni yang besar tidak pernah benar-benar menjadi tua. Ia terus menemukan pembacanya, penontonnya, dan zamannya sendiri. Ketika berbagai persoalan yang digambarkan dalam film itu masih terus hadir di sekitar kita, sesungguhnya Kemelut Hidup belum selesai diputar. Film itu masih berlangsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Karena itu, memperingati seabad kelahiran Asrul Sani bukan semata mengenang seorang tokoh besar kebudayaan Indonesia. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk membaca kembali karya-karyanya, menyelami kegelisahan yang pernah ia suarakan, dan menyadari bahwa banyak persoalan kemanusiaan yang diangkatnya masih menuntut jawaban hingga hari ini.@
Tentang penulis
Bionarasi Tengsoe Tjahjono lahir di Jember 3 Oktober 1958. Penyair ini pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies Korea (2014-2017). Sejak pensiun dari Universitas Negeri Surabaya (2023) ia mengajar di Universitas Brawijaya Malang.
Terpilih sebagai Dosen Teladan 1 IKIP Surabaya (1996). Pada tahun 2012 mendapat penghargaan sebagai Sastrawan Berprestasi dari Gubernur Jawa Timur. Buku puisinya Meditasi Kimchi memperoleh Anugerah Sutasoma 2017 dari Balai Bahasa Jawa Timur. Atas dedikasinya berkarya 40 tahun di bidang sastra ia memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia melalui Badan Bahasa pada tahun 2024. Tahun 2025 memperoleh Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang.
Karya terbaru: Dari Menjerat Sepatu Sampai Membuka dan Menutup Jendela (2021), Pelajaran Menggambar Bentuk (2023), 17-an di Kampung Halaman (2024), Jenggirat (2025), Onggi (kumpulan pentigraf tentang Korea, 2025), dan Kursi Malas di Depan Jendela (kumpulan monolog, 2026). Artikelnya dimuat di beberapa terbitan HISKI: Sastra Wayang (2025), 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi Kemanusiaan (2025), Jejak Tutur di Punggung Aksara (2025), dan Seabad Setahun Asrul Sani (2026).
Penggagas Cerpen Tiga Paragraf (pentigraf), Cerita Tiga Kalimat (tatika), dan Puisi Tiga Bait (putiba).