Pondok Suro Hadir, Ki Mpu Batu: Membangun Generasi Berkepribadian Adiluhung Melalui Pendidikan Budaya
REKAYOREK.ID – Bulan Suro tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Lebih dari itu, momentum ini menjadi saat yang tepat untuk menengok kembali akar kebudayaan, memperhalus budi pekerti, serta menanamkan etika sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Silaturahmi dan Sarasehan Budaya Bulan Suro yang digelar di Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Jalan Dupak Bangunrejo Gang I Nomor 30, Surabaya, Minggu (12/7/2026) malam. Selain diisi prosesi jamasan keris oleh Padepokan Gema Qolbu Pasuruan, kegiatan ini juga menjadi tonggak lahirnya Pondok Suro, sebuah ruang pembelajaran budaya yang diinisiasi Yayasan Pasopati Cakra Nusantara.

Ketua Umum Yayasan Pasopati Cakra Nusantara, Ki Bagus Mpu Batu, menjelaskan bahwa Pondok Suro bukan sekadar kegiatan seremonial Bulan Suro. Ia dirancang sebagai pusat edukasi budaya dengan sistem pembelajaran yang berkelanjutan agar masyarakat memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
“Pondok Suro kami gagas sebagai ruang belajar kebudayaan. Bukan hanya belajar tentang keris atau tradisi, tetapi bagaimana budaya itu membentuk etika, karakter, dan kepribadian manusia. Budaya harus hidup dalam perilaku sehari-hari, bukan berhenti sebagai simbol atau seremoni,” ujar Ki Bagus Mpu Batu.
Menurutnya, Pondok Suro akan dikembangkan dengan konsep program pembelajaran atau kurikulum kebudayaan. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas filosofi Jawa, tetapi juga menyentuh aspek pembentukan karakter dan moral masyarakat.

Ia menjelaskan, peserta nantinya akan memperoleh pemahaman mengenai etika dalam kehidupan sosial, unggah-ungguh atau tata krama, penggunaan bahasa yang santun dan positif dalam pergaulan, filosofi jamasan pusaka, pemahaman kepribadian, hingga pengenalan nilai-nilai spiritual yang tumbuh dalam budaya Jawa.
Selain itu, pembelajaran juga mencakup wawasan mengenai cikal bakal peradaban Jawa, keris sebagai karya budaya adiluhung, aksara Jawa, ritus budaya, serta pemahaman mengenai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sehingga masyarakat tidak hanya memahami budaya dari sisi tradisi, tetapi juga mengetahui landasan hukumnya sebagai bagian dari identitas nasional.

“Banyak masyarakat mengenal budaya hanya sebatas pertunjukan. Padahal budaya itu sangat luas. Ada pengetahuan, ada etika, ada ritus, ada bahasa, ada manuskrip, ada teknologi tradisional, ada seni, sampai cagar budaya. Semua itu harus dipahami agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.
Ki Bagus Mpu Batu menilai, krisis yang dihadapi generasi muda saat ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan mulai pudarnya kesantunan dalam berbahasa, bergaul, dan menghormati sesama.

Karena itu, Pondok Suro diharapkan mampu menjadi ruang pendidikan karakter berbasis kebudayaan yang melahirkan generasi dengan budi pekerti luhur.
“Kami ingin melahirkan manusia yang berkepribadian adiluhung. Adiluhung bukan hanya pintar secara intelektual, tetapi memiliki kecerdasan moral, kecerdasan budaya, mampu menghormati orang lain, bertutur kata baik, serta memahami jati dirinya sebagai bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, gerakan Pondok Suro tidak diperuntukkan bagi kalangan muda semata. Para pelaku seni, pegiat budaya, akademisi, komunitas, hingga para sesepuh kebudayaan juga diharapkan ikut terlibat agar terjadi proses pewarisan pengetahuan lintas generasi.
“Belajar budaya tidak mengenal usia. Justru para pelaku budaya, komunitas, bahkan sesepuh perlu terus berdialog agar ilmu yang dimiliki tidak terputus. Pondok Suro kami siapkan menjadi ruang silaturahmi, ruang belajar, dan ruang kaderisasi kebudayaan.”
Menurut Ki Bagus Mpu Batu, Surabaya menjadi kota awal pengembangan program tersebut. Sebelum dilaksanakan di Sanggar Seni Omah Ndhuwur, pihaknya telah melakukan komunikasi dan penjajakan dengan sejumlah sanggar budaya di Kota Pahlawan.

“Kami sudah mendatangi beberapa sanggar di Surabaya. Yang pertama berada di kawasan Kodam V/Brawijaya, kemudian Sanggar Seni Omah Ndhuwur. Kegiatan malam ini menjadi pelaksanaan perdana Pondok Suro sekaligus titik awal membangun jejaring pendidikan kebudayaan di Surabaya.”
Sementara itu, prosesi jamasan keris yang dipandu Gus Kholik dari Padepokan Gema Qolbu Pasuruan menjadi pengingat bahwa merawat pusaka bukanlah praktik mistik, melainkan simbol penyucian diri dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Filosofi tersebut selaras dengan semangat Pondok Suro yang ingin mengembalikan kebudayaan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa.
Melalui Pondok Suro, Yayasan Pasopati Cakra Nusantara berharap kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai warisan masa lalu yang hanya dikenang, tetapi menjadi ilmu pengetahuan yang dipelajari, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ketika etika, kesantunan, dan nilai-nilai budaya kembali tumbuh di tengah masyarakat, maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian luhur dan berkarakter Indonesia.@