Renungan Pagi “Benih yang Diam-Diam Bertumbuh”
Secangkir kopi masih mengepulkan uap hangat, sementara di hadapanku terbaring sebilah Carita Luk 9 berpamor Miji Timun.
REKAYOREK. ID — Pagi ini aku kembali duduk di ruang pusaka.
Secangkir kopi masih mengepulkan uap hangat, sementara di hadapanku terbaring sebilah Carita Luk 9 berpamor Miji Timun.
Aku memandangnya cukup lama.
Entah mengapa, pagi ini aku tidak melihat sebilah keris. Yang kulihat justru seperti cermin kecil yang sedang menceritakan hidupku sendiri.
Selama ini aku sering berpikir bahwa hidup berubah karena keputusan-keputusan besar. Karena keberanian yang luar biasa. Karena pencapaian yang bisa dilihat banyak orang.
Namun alam seolah berbisik pelan.
“Tidak… kehidupan selalu dimulai dari sesuatu yang kecil.”
Pamor Miji Timun tidak dibentuk oleh satu pola besar. Ia tersusun dari butiran-butiran kecil yang bila dipandang dari dekat tampak sederhana. Namun justru dari butiran itulah keindahan bilah ini lahir.
Bukankah hidup juga demikian?
Hubungan dengan anak-anak tidak dibangun oleh satu hadiah yang mahal, tetapi oleh percakapan-percakapan kecil yang mungkin suatu hari akan mereka kenang.
Persahabatan tidak bertahan karena satu pertolongan besar, tetapi karena perhatian-perhatian sederhana yang dilakukan berulang kali.
Bahkan kedamaian batin pun tidak datang sekaligus. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil untuk menerima, memaafkan, dan kembali sadar setiap kali ego ingin mengambil alih.
Mungkin itulah makna Carita.
Kisah hidup kita sesungguhnya sedang ditulis setiap hari, bukan oleh peristiwa-peristiwa besar, tetapi oleh benih-benih kecil yang kita tanam tanpa kita sadari.
Pagi ini aku tidak ingin tergesa-gesa mengejar panen.
Aku hanya ingin memastikan bahwa benih yang kutanam hari ini adalah benih yang kelak membuat hidupku, dan hidup orang-orang yang kusayangi, bertumbuh menjadi lebih baik.
Karena pada akhirnya…
“Tak ada kehidupan yang besar tanpa benih-benih kecil yang dirawat dengan kesadaran.”
Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan