Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Diary Pagi – Lima Saudara, Satu Pusat Kesadaran ” Memandang Keris Pandawa Cinarita Dari Bali “

Pancer bukanlah yang paling kuat. Ia adalah kesadaran yang diam di tengah, yang mampu melihat tanpa terhanyut.

REKAYOREK.ID – Pagi ini aku kembali memandangi sebuah keris Pandawa Cinarita dari Bali. Semakin lama kuperhatikan, semakin terasa bahwa keris ini tidak sekadar menceritakan kisah lima Pandawa. Ia seperti sedang mengingatkanku pada falsafah Jawa yang begitu dalam: Sedulur Papat, Limo Pancer.

Selama ini aku sering mencari jawaban di luar diriku. Padahal mungkin, kehidupan hanya sedang mengajakku mengenal lima unsur yang selalu berjalan bersamaku.

Empat saudara itu adalah berbagai kekuatan yang lahir bersama manusia—dorongan, emosi, naluri, pikiran, dan rasa. Mereka seperti karakter para Pandawa, masing-masing memiliki sifat yang berbeda. Ada yang tenang seperti Yudhistira, ada yang kuat seperti Bima, ada yang fokus seperti Arjuna, ada yang lembut seperti Nakula, dan ada yang hening seperti Sadewa.

Namun semuanya tidak diciptakan untuk saling mengalahkan.

Mereka membutuhkan Pancer.

Pancer bukanlah yang paling kuat. Ia adalah kesadaran yang diam di tengah, yang mampu melihat tanpa terhanyut. Ketika Pancer hadir, keberanian tidak berubah menjadi amarah. Kelembutan tidak berubah menjadi kelemahan. Kecerdasan tidak berubah menjadi kesombongan.

Barangkali inilah makna terdalam yang kurasakan dari Pandawa Cinarita. Lima bukan tentang jumlah tokoh, melainkan tentang harmoni berbagai sisi dalam diri manusia.

Pagi ini aku tidak ingin mengalahkan sisi mana pun dalam diriku.

Aku hanya ingin kembali duduk di tengah, menjadi Pancer yang menyaksikan semuanya dengan tenang.

“Ketika kesadaran menjadi Pancer, setiap sisi dalam diri berhenti saling bertarung dan mulai berjalan menuju tujuan yang sama.”

Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan

Komentar
Loading...