Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Tiga Kurator Bersertifikat BNSP Bersatu Jaga Identitas Keris, Ethnic Indonesia Terbitkan Sertifikat Keris Dokumentasi Warisan Budaya

REKAYOREK. ID – Upaya pelestarian keris sebagai warisan budaya Nusantara tidak cukup hanya dilakukan melalui perawatan fisik. Dokumentasi ilmiah terhadap identitas, sejarah, dan nilai budaya yang melekat pada setiap bilah keris dinilai menjadi langkah penting agar pengetahuan mengenai pusaka tidak hilang seiring pergantian generasi.

Berangkat dari semangat tersebut, Ethnic Indonesia menghadirkan Keris Curatorial & Certification Service, sebuah layanan kajian dan sertifikasi kuratorial yang bertujuan mendokumentasikan identitas setiap pusaka secara profesional melalui proses kuratorial yang dilakukan oleh tenaga bersertifikat.

Bagi Ethnic Indonesia, layanan ini bukan sekadar menghadirkan sertifikat, melainkan menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya melalui pendokumentasian yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Bagi Ethnic Indonesia, sertifikasi bukan sekadar menerbitkan dokumen. Lebih dari itu, sertifikasi adalah upaya menyelamatkan pengetahuan, menjaga sejarah, dan memastikan bahwa cerita di balik sebuah pusaka tetap hidup untuk generasi yang akan datang.”

Proses kuratorial dilakukan oleh tiga Kurator Keris Bersertifikat BNSP yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda sehingga mampu saling melengkapi dalam proses kajian.

Ilham Triadi merupakan Asesor dan Kurator Keris LSP Perkerisan Indonesia sekaligus Ahli Cagar Budaya yang telah lama berkecimpung dalam kajian pelestarian warisan budaya Nusantara.

Sementara Harjo Herlambang berperan dalam proses identifikasi, autentikasi, serta kajian karakteristik keris berdasarkan pendekatan kuratorial.

Adapun KRA Rivo Cahyono, pendiri Ethnic Indonesia sekaligus, ketua Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi, selama lebih dari satu dekade aktif mengedukasi masyarakat melalui Ethnic Indonesia Channel serta mengembangkan berbagai program pelestarian budaya Nusantara.
Kolaborasi ketiganya diharapkan mampu menghadirkan proses kajian yang objektif, independen, dan bertanggung jawab.

Menurut Ethnic Indonesia, banyak keris yang selama ini diwariskan atau berpindah kepemilikan tanpa disertai catatan mengenai asal-usul, tangguh, dhapur, pamor, ricikan, hingga nilai sejarah yang melekat padanya.
Akibatnya, ketika pemilik pertama telah tiada, informasi penting mengenai pusaka tersebut ikut menghilang.
“Pusaka Tidak Hanya Diwariskan, Tetapi Juga Harus Didokumentasikan.” Tegas Rivo.
Melalui proses kuratorial, seluruh informasi mengenai sebuah keris dikaji, diverifikasi, kemudian didokumentasikan agar menjadi bagian dari identitas pusaka yang dapat diwariskan bersama bendanya.

Ethnic Indonesia juga menegaskan bahwa sertifikasi tidak dimaksudkan sebagai instrumen untuk meningkatkan harga jual keris.
“Ethnic Indonesia menegaskan bahwa sertifikat bukanlah alat untuk menaikkan harga sebuah keris.” Imbuh Rivo.

Sebaliknya, sertifikat menjadi dokumen profesional yang memuat hasil kajian mengenai keaslian, tangguh, dhapur, pamor, ricikan, warangka, hingga nilai sejarah dan budaya yang dimiliki sebuah pusaka.

Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi keluarga pewaris, kolektor, komunitas budaya, maupun lembaga yang menyimpan koleksi keris agar informasi mengenai setiap pusaka tetap terjaga.

Melalui layanan Keris Curatorial & Certification Service, Ethnic Indonesia mengajak kolektor, keluarga pewaris pusaka, museum, komunitas budaya, hingga masyarakat luas untuk mulai mendokumentasikan koleksi yang dimiliki.
“Karena setiap pusaka yang berhasil didokumentasikan berarti satu langkah nyata dalam menjaga memori budaya bangsa.”
Ethnic Indonesia meyakini bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan merawat fisik pusaka, tetapi juga menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
“Hari ini mungkin kita adalah pemilik sebuah keris. Namun sesungguhnya, kita hanyalah penjaga sementara. Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika pusaka itu berpindah kepada generasi berikutnya, ceritanya tetap utuh, identitasnya tetap terjaga, dan nilai budayanya tetap hidup.” Jelas Rivo.
Ethnic Indonesia percaya bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan merawat fisik pusaka. Yang jauh lebih penting adalah menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Ethnic Indonesia mengajak seluruh pemilik pusaka untuk bersama-sama melakukan kajian dan sertifikasi kuratorial.

“Mari bersama melestarikan pusaka melalui kajian dan sertifikasi kuratorial. Karena pusaka yang terdokumentasi dengan baik akan terus bercerita, bahkan ketika zaman telah berganti.” pungkas Rivo. @ri

Komentar
Loading...