Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Melestarikan Aksara Jawa Tidak Cukup dengan Kebijakan Sekolah

Oleh: Rafael Nurak

APAKAH pelestarian Aksara Jawa benar-benar akan berhasil hanya dengan memperbaiki pembelajaran di sekolah? Pertanyaan ini layak diajukan di tengah semakin banyaknya inovasi media pembelajaran, pelatihan guru, dan penguatan kurikulum yang bertujuan menjaga warisan budaya tersebut.

Berbagai upaya itu tentu patut diapresiasi. Namun, kajian dalam bidang sosiolinguistik, revitalisasi bahasa, psikologi pendidikan, dan kebijakan publik menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana meningkatkan kualitas pembelajaran. Sekolah memang mampu mengajarkan seseorang membaca dan menulis Aksara Jawa, tetapi kemampuan belajar tidak selalu berkembang menjadi kebiasaan menggunakan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara keberhasilan pendidikan dan keberhasilan pelestarian. Pendidikan berfokus pada pencapaian kompetensi, sedangkan pelestarian bertujuan memastikan suatu bahasa atau aksara tetap digunakan secara nyata dan berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat.

Sekolah adalah Fondasi, Bukan Tujuan Akhir

Selama ini, pembahasan mengenai pelestarian Aksara Jawa lebih banyak berpusat pada dunia pendidikan. Kurikulum diperkuat, metode pembelajaran diperbarui, media belajar dikembangkan, dan guru memperoleh berbagai pelatihan.

Semua langkah tersebut penting. Bahkan, tanpa pendidikan formal, regenerasi kemampuan dasar membaca dan menulis Aksara Jawa akan jauh lebih sulit dilakukan.

Meski demikian, pendidikan formal memiliki batas yang jelas. Sekolah dapat mengajarkan cara membaca dan menulis Aksara Jawa, tetapi tidak dapat memastikan bahwa para lulusan akan terus menggunakannya setelah meninggalkan ruang kelas. Sekolah dapat memberikan pengetahuan dan penilaian, tetapi tidak dapat menciptakan kebutuhan sosial yang mendorong masyarakat menggunakan Aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menjadikan sekolah sebagai instrumen utama pelestarian berarti menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Pelestarian Ditentukan oleh Ekosistem Penggunaan

Dalam kajian sosiolinguistik, keberlangsungan bahasa maupun aksara sangat dipengaruhi oleh ekosistem penggunaan, yaitu lingkungan sosial yang memungkinkan bahasa atau aksara digunakan secara alami dalam berbagai aspek kehidupan.

Ekosistem tersebut mencakup keluarga, komunitas, media massa, ruang publik, teknologi digital, dunia usaha, industri kreatif, lembaga kebudayaan, dan pemerintah. Semakin banyak ruang yang menggunakan suatu bahasa atau aksara, semakin besar peluangnya untuk bertahan.

Sebaliknya, apabila penggunaannya hanya berlangsung di sekolah, keberlangsungannya akan sangat bergantung pada sistem pendidikan. Ketika proses belajar berakhir, penggunaan pun berisiko ikut berhenti.

Inilah sebabnya UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) maupun berbagai penelitian tentang revitalisasi bahasa menempatkan penggunaan nyata dalam masyarakat sebagai ukuran yang lebih penting daripada sekadar keberadaan mata pelajaran di sekolah.

Pelajaran dari Berbagai Negara

Pengalaman berbagai negara menunjukkan pola yang serupa.

Bahasa Welsh di Wales bertahan bukan hanya karena diajarkan di sekolah, tetapi juga karena digunakan dalam media, layanan publik, ruang kerja, dan kehidupan masyarakat.

Bahasa Māori di Selandia Baru memperoleh momentum baru melalui keterlibatan keluarga, komunitas, media, dan lembaga kebudayaan.

Bahasa Basque dan Katalan berkembang karena hadir dalam pemerintahan daerah, dunia usaha, industri kreatif, media, serta ruang publik.

Persamaan dari berbagai contoh tersebut bukan terletak pada kurikulumnya, melainkan pada keberhasilan membangun ekosistem sosial yang memungkinkan masyarakat menggunakan bahasa mereka setiap hari.

Hingga kini, belum ada contoh yang diakui luas dalam kajian revitalisasi bahasa yang menunjukkan keberhasilan pelestarian hanya dengan mengandalkan sekolah.

Tantangan Aksara Jawa di Era Digital

Tantangan terbesar Aksara Jawa saat ini bukan lagi sekadar bagaimana mengajarkannya, melainkan bagaimana menjadikannya relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

Generasi muda menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang digital. Mereka berkomunikasi melalui telepon pintar, media sosial, aplikasi pesan, dan berbagai platform daring.

Apabila Aksara Jawa sulit digunakan di ruang digital, kesempatan masyarakat untuk memakainya akan semakin terbatas.

Sebaliknya, apabila tersedia papan ketik yang mudah digunakan, jenis huruf yang berkualitas, aplikasi pembelajaran, konten kreatif, komik digital, permainan, desain grafis, hingga karya seni berbasis Aksara Jawa, peluang penggunaannya akan meningkat secara signifikan.

Pelestarian pada abad ke-21 tidak cukup dilakukan di ruang kelas. Aksara Jawa juga harus hadir di ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mengubah Orientasi Kebijakan

Sudah saatnya orientasi pelestarian Aksara Jawa bergeser dari sekadar meningkatkan proses pembelajaran menuju memperluas penggunaan di masyarakat.

Keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah sekolah yang mengajarkan Aksara Jawa, banyaknya pelatihan guru, atau jumlah media pembelajaran yang diproduksi.

Ukuran yang lebih bermakna adalah:

1. Apakah jumlah pengguna aktif Aksara Jawa bertambah?

2. Apakah masyarakat menggunakannya di luar sekolah?

3. Apakah komunitas pengguna terus berkembang?

4. Apakah Aksara Jawa semakin hadir di ruang digital?

5. Apakah generasi muda terdorong menggunakannya secara sukarela?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mencerminkan tujuan pelestarian yang sesungguhnya.

Dari Program Menuju Ekosistem

Pelestarian budaya tidak cukup diwujudkan melalui serangkaian program yang berdiri sendiri. Yang diperlukan adalah membangun hubungan yang saling menguatkan antara pendidikan, kebudayaan, teknologi digital, media massa, komunitas, keluarga, dunia usaha, dan industri kreatif.

Sekolah membangun kemampuan.
Komunitas membentuk kebiasaan.
Media memperluas jangkauan.
Teknologi mempermudah penggunaan.
Industri kreatif menciptakan nilai ekonomi.
Keluarga mewariskan kepada generasi berikutnya.

Ketika seluruh unsur tersebut saling mendukung, Aksara Jawa memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar menjadi materi pelajaran.

Penutup

Tidak ada alasan untuk mempertentangkan pendidikan dengan pendekatan berbasis ekosistem. Keduanya justru harus saling melengkapi.

Sekolah tetap merupakan fondasi yang sangat penting. Namun, fondasi bukanlah bangunan itu sendiri. Pelestarian baru dapat disebut berhasil ketika kemampuan yang diperoleh di sekolah berkembang menjadi kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, fokus pembahasan bukan lagi “Bagaimana cara mengajarkan Aksara Jawa dengan lebih baik?“, melainkan “Bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat masyarakat ingin, mampu, dan terbiasa menggunakan Aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari?

Mari menjadikan pelestarian Aksara Jawa sebagai tanggung jawab bersama dengan membangun ekosistem penggunaan yang melibatkan keluarga, komunitas, media, dunia pendidikan, pelaku industri kreatif, dunia usaha, dan pemerintah agar warisan budaya ini tetap hidup serta relevan bagi generasi masa kini dan masa depan. ***

 

Rafael Nurak adalah jurnalis independen dan pendiri “The Nurak News“, media berita daring yang berbasis di Surabaya dengan slogan “Konteks untuk Publik“. Ia juga menginisiasi Aksara Jawa Project, sebuah proyek pembelajaran, penelitian, dan dokumentasi Aksara Jawa yang berfokus pada proses belajar mandiri, literasi publik, dan pelestarian berbasis masyarakat.

Komentar
Loading...