Renungan Malam : Keris Bali Dhapur Sempaner berpamor Gubet (Buntel Mayit)

aku kembali memandangi sebilah Keris Bali Dhapur Sempaner berpamor Gubet (Buntel Mayit).

REKAYOREK. ID – Malam ini, di antara hening yang perlahan menyelimuti, aku kembali memandangi sebilah Keris Bali Dhapur Sempaner berpamor Gubet (Buntel Mayit).

Entah mengapa, semakin lama aku mengenal budaya Bali, semakin aku merasa bahwa keindahannya tidak pernah lahir dari kemewahan semata. Ia lahir dari cara masyarakatnya menghormati kehidupan, alam, leluhur, dan setiap langkah kecil yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Begitu pula keris ini.

Nama Buntel Mayit mungkin terdengar menyeramkan bagi orang yang baru mendengarnya. Namun malam ini aku justru melihatnya sebagai pengingat bahwa pada akhirnya, semua yang kita banggakan akan ditinggalkan. Jabatan, kekayaan, pujian, bahkan nama besar… semuanya tidak ikut pulang bersama kita.

Yang mungkin tetap tinggal hanyalah kualitas kesadaran yang kita bangun selama hidup.

Lalu aku memandangi Dhapur Sempaner. Seolah ia berbisik bahwa cita-cita memang penting, tetapi cita-cita yang benar harus lahir dari hati yang juga benar. Sebab keberhasilan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kegelisahan yang baru.

Mungkin itulah mengapa budaya Bali begitu indah.

Di balik tarian, gamelan, pura, sesajen, dan pusaka-pusakanya, selalu ada ajakan untuk mengingat keseimbangan. Bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar, tetapi juga tentang tahu kapan berhenti, bersyukur, dan kembali mendengarkan suara batin.

Malam ini aku bertanya kepada diriku sendiri…

Jika suatu hari semua yang selama ini kubanggakan harus kulepaskan, apakah aku masih mengenali siapa diriku yang sesungguhnya?

Selamat malam, Teman Seperjalanan. Semoga malam ini bukan hanya mengistirahatkan tubuh kita, tetapi juga melembutkan hati kita.

“Pada akhirnya, yang pulang bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa diri kita ketika semua kepemilikan itu telah dilepaskan.”

Oleh : — Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan»