Anom Surahno: Jurnalisme Progresif Harus Berpihak kepada Rakyat Kecil

Pelatihan Jurnalistik Batch #2

REKAYOREK.ID – Arus informasi yang bergerak semakin cepat di era digital menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Di tengah dominasi algoritma media sosial yang turut membentuk persepsi publik, Senior GMNI, Anom Surahno, menilai mahasiswa harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme yang kritis, jujur, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Jurnalistik Batch #2 yang diselenggarakan DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Hanaka Social Space, Surabaya, Rabu (10/6/2026).

Mengangkat materi bertajuk “Merawat Jalan Pedang Jurnalisme Progresif Revolusioner”, Anom menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi.

“Dulu media besar menjadi sumber utama informasi. Sekarang, algoritma di telepon genggam ikut menentukan apa yang dianggap penting dan benar oleh masyarakat,” ujar Anom Surahno.

Menurutnya, perubahan tersebut menghadirkan sedikitnya tiga tantangan besar bagi dunia pers. Pertama, tuntutan kecepatan dalam penyebaran informasi. Kedua, hilangnya monopoli sumber informasi karena siapa pun kini dapat menjadi penyampai berita. Ketiga, menjaga kepercayaan publik di tengah berkembangnya jurnalisme warga.

Anom menekankan bahwa tuntutan kecepatan tidak boleh mengorbankan prinsip dasar jurnalistik, yakni verifikasi.

“Lima detik setelah sebuah peristiwa terjadi, masyarakat sudah menuntut informasi. Namun kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran. Kebenaran harus melewati proses cek dan ricek,” tegasnya.

Menurut Anom, mahasiswa memiliki peran penting sebagai jurnalis warga yang mampu menghadirkan informasi yang berimbang sekaligus menjadi suara bagi kelompok-kelompok yang kerap terpinggirkan.

Ia mengingatkan bahwa perhatian media tidak boleh semata-mata diarahkan pada isu yang sedang viral. Pers, kata dia, juga harus memberi ruang kepada persoalan yang dihadapi masyarakat kecil.

“Jangan hanya menjadi pengikut algoritma. Kita harus mampu mengatur algoritma melalui narasi yang jujur dan berpihak kepada rakyat kecil,” katanya.

Anom mencontohkan berbagai persoalan yang sering luput dari perhatian publik, mulai dari petani yang kehilangan lahan, pengemudi ojek daring yang terkena suspend, hingga pelaku UMKM yang terdampak perubahan algoritma digital.

Baginya, fungsi sosial jurnalisme tidak hanya sebatas menyampaikan informasi, melainkan juga menjadi sarana pendidikan dan perjuangan bagi masyarakat.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk terus mengasah kemampuan menulis dan tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajar.

“Jangan takut salah ketika belajar menulis. Yang harus ditakuti adalah ketika kita memilih diam saat kebenaran dibengkokkan,” pungkas Anom Surahno.@peq

Anom SurahnoGMNIHanakaRLD