Titik Nadhir #35

Menyantap Ular Kobra  

Oleh: Jendra Wiswara          

Matahari waktu Dhuha condong di atas jalanan, kemudian semakin condong ke arah barat. Kukebut motor mengejar mahatari, bahkan berlomba-lomba dengannya. Kutinggalkan Ponorogo. Kulewati Madiun. Daa…

Tujuanku berikutnya bukan Pacitan melainkan Yogyakarta. Pengelihatanku semakin kupertajam antara jalanan dan arah mata angin. Sepanjang perjalanan aku hanya menyeret-nyeret masa lalu. Masa lalu yang dahan-dahan tumbuh dari pohonnya, dan masa lalu yang dekat di mana dahan-dahan itu terhempas jatuh dari induk pohon karena terjangan angin. 

Setiap kali aku menghadirkan kembali apa yang telah terjadi pada diriku, selalu muncul detail-detail baru yang semula lepas dari ingatanku. Aku terperangah menghadapi kenyataan bahwa dahan tempat hidupku bergantung sewaktu-waktu dapat terlepas dari pohon induknya, dan akan lebih mengagetkan lagi bila kejatuhan itu muncul tiba-tiba.

Setelah merenung beberapa saat, aku yakin tidak ada sesuatu yang hilang. Aku masih berdiri di atas motor kesayanganku. Meski demikian aku menyimpan memori yang tak terhingga jumlahnya: aroma laut, wajah ibu, tawa perempuan-perempuan pengisi hidupku, keganasan hutan dan pegunungan, kengerian kegelapan malam, tetesan hujan, kehabisan bekal di tengah perjalanan, dan ketakutan akan ban bocor. Semua pesan-pesan yang menggelorakan batin itu kuhirup melalui nafasku; masuk dari hidung, keluar melalui mulut.           

Tiba di Magetan, ah, kau selalu memaksaku untuk tinggal. Panorama gunung Lawu menghanyutkan angan-anganku untuk menggapainya. Tapi tidak, mungkin kapan-kapan. Saat ini aku masih ingin berjalan tanpa ada keinginan untuk berhenti.

Berhenti pun hanya mampir ke masjid, sholat dan melanjutkan perjalanan lagi. Begitu juga Ngawi, kau juga mengejek-ngejekku dengan tontonan keindahan masa lalu. Di sini aku memang pernah menghabiskan waktu bersamamu. Budayamu, kotamu, rutinitasmu, orang-orangmu, kulinermu, panoramamu persis Madiun. 

Kalian bahkan bagai pinang dibelah dua. Namun sekali lagi aku minta maaf karena tak bisa berhenti di tempatmu. Masih banyak kota-kota yang belum kulalui, dan mereka sudah menanti kehadiranku. Sebut saja Sragen, adalah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Khusus Sragen, aku menaruh hormat. Sebelum sore aku berhenti di atas jembatan yang menghubungkan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Untuk Sragen, aku berdoa dengan menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Semoga kau suka dengan aroma khas yang kutebarkan di atas jembatan yang menghubungkan batas propinsi. Sebagai jaminan aku akan mendoakan penghunimu, semoga masyarakatnya makmur dan sejahtera.           

Tak terasa matahari nyaris tenggelam dari ufuk barat. Kupacu motor dengan sekencang-kencangnya. Meninggalkan Magetan, Ngawi, Sragen, dan bertemu Solo. Yang kusuka dari kota ini, dulu aku sering mengolok-ngoloknya dengan sebutan Solo Kothok. Entah apa maksudnya. Yang jelas aku suka meniru ocehan orang-orang tua pada waktu itu.

Dari Solo pula aku pernah meninggalkan kesan mendalam dimana dia penentu masa depanku yang suram. Di Solo-lah aku menghabiskan waktu mengumpulkan data-data untuk bahan skripsi yang molor bertahun-tahun. Nyaris aku kena D.O. alias drop out. Beruntung aku berhasil mendapatkan menyelesaikan skripsiku pada waktu yang tepat. Terima kasih Solo. 

Untuk menghormatinya aku singgah di Solo. Kebetulan saat itu hujan turun dengan lebat. Selama perjalanan, ini kali pertama aku diguyur hujan. Jas hujanku tidak memungkinkan untuk kukenakan. Sebagian ada yang robek. Sekian jam berjalan memang kurasakan berat tas ranselku tak seimbang. Tulang punggung serasa bengkok.

Kembali aku dihadapkan pada sebuah kenyataan. Seberapa jauh lagi aksiku, yang oleh seorang teman disebut “gagah”. Aku tak tahu pasti, tetapi aku mulai menduga dan kupikir benar, bahwa sifat definitif dari aksiku adalah tak jauh-jauh dari kata “tolol”. Namun demikian aku tetap berjalan dengan semangat di bawah tatapan penduduk kota yang kulalui. 

Di tengah guyuran hujan aku berhenti di sebuah warung. Tempatnya sangat sederhana. Kuberdiri di bawah bayang papan nama warung yang tampak dari depan. Aku tidak mengerti maksudnya, cat pada tulisannya sedikit kabur. Mungkin sudah hilang dimakan waktu. Hanya kulihat gambar ular yang aku sendiri masih bingung mengartikannya.

Dua hingga tiga orang nampak menikmati makanannya. Semula kukira itu warung kopi. Pikirku penjualnya menyediakan makanan ringan seperti mie rebus. Dingin-dingin menikmati mie rebus pasti enak. Akan tetapi saat memasukinya, yang kulihat justru pemandangan di luar dugaan. 

Bukan penjualnya yang bermasalah, mungkin aku saja yang menganggapnya aneh dan tidak masuk akal. Penjualnya sendiri seorang wanita dan pria setengah baya. Warungnya memang menyediakan panganan ringan dan tentu saja kopi beserta wedang jahe penghilang rasa dingin. Hanya saja ketika aku melongok ke dalam, ternyata bukan sembarang panganan yang disajikan melainkan panganan khusus binatang melata alias ular.

Barulah aku paham maksud gambar papan nama yang dipajang di luar. Pada dinding-dinding warung kulihat papan nama jenis-jenis ular. Dari atas tertulis dalam huruf besar: sedia makanan ular. Lalu terpampang jenis-jenis ular beserta namanya. Ada ular kobra, sanca, dan masih banyak sajian yang tidak kuhafal jenis ularnya. Di bagian bawah papan nama juga tertera tulisan begini: daging ular sekian rupiah, digoreng atau dibakar dengan tusuk sate. Sementara empedu ular dijual sekian rupiah–katanya dipercaya dapat membantu memulihkan stamina.            

Entah berapa banyak ular-ular di belakang warung. Semoga saja tak ada ular yang berusaha meloloskan diri dari sarang. Dan semoga penjualnya sangat berhati-hati menjaga jualannya bila tidak ingin digigit. Aku tak bisa membayangkan berapa banyak ular yang disembelih setiap harinya. Kukira si penjual lebih tahu daripada aku. Mereka sudah berjualan makanan ular selama bertahun-tahun. Pastilah mereka tahu bagaimana cara menjinakkan ular sehingga tidak menyebabkan kerugian bagi sang pemilik.

Sempat kulihat seorang pengunjung menggerak-gerakkan kedua pahanya, tak sabar menanti hidangan yang dipesannya. 

“Mbok, kok lama banget sih.” Dia mengingatkan pada penjual warung.

“Sabar toh, Mas, kan namanya juga menyembelih ular tidak seperti menyembelih ayam atau sapi. Harus butuh kesabaran dan keuletan. Kami harus mengelupas kulit ular dulu. Belum lagi memilah-milah antara daging dan empedu, juga mengeluarkan bisanya.” Kata Si Embok yang berjaga di depan warung. 

Sambil menunggu pesanan datang, pria tersebut mengatakan padaku bahwa dia sering datang ke tempat itu jika staminanya sudah drop. Katanya empedu ular mampu membangkitkan vitalias tubuh. Ah, itu kan cuma tahayul, kataku menimpali.

Kemudian pria berperawakan sedang-sedang, tidak tua juga tak muda itu berujar, “Memang kata orang itu cuma mitos. Tapi kebanyakan mereka ngomong di bibir saja tanpa pernah merasakan sendiri. Buktinya sampai sekarang saya masih suka mengkonsumsi daging ular,” katanya menambahkan sambil berbisik lirih ke telingaku, “ular juga bisa membuat ‘adik’ tambah jreng lho. Istri saya di rumah sering kuwalahan menghadapi jurus ularku. Hehehe…”    

Antara percaya dan tidak, aku terpaksa mengangguki omongannya. Yang jelas mitos tidak bakal menjadi kenyataan bila tidak membuktikannya sendiri. Kukira hari ini menuku sangat spesial: daging ular kobra. Kulirik pada menu harganya sangat terjangkau. Jadi, aku tak perlu khawatir uangku kehabisan. Lagipula sebentar lagi aku akan tiba di Jogya. Di sana aku punya banyak kenalan, setidaknya tak perlu kebingungan akan kekurangan bekal.

Sekian menit kutunggu hidangan ular kobra. Penjualnya tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dari dapur tercium aroma wangi. Asap putih yang keluar dari dalam menyembul melalui hidungku. 

Hmm, nikmat, aromanya meninggalkan khas tersendiri. Usus di perutku saling berkelonjotan, berdemo agar segera disuapi. Hidangan pun tiba. Tapi bukan untukku, melainkan untuk pria di sampingku.

Mataku mengawasi setiap gerak-geriknya menyantap hidangan ular. Dia mencicipinya, sedetik kemudian pria tersebut mengacungkan ibu jarinya padaku. Di hadapannya juga kulihat sebuah empedu ular diletakkan dalam piring kecil. 

Sebelum menikmati hidangan daging ular, dia mengambil empedu dan menelannya mentah-mentah. Katanya kalau empedu sampai pecah di tenggorokan bisa menimbulkan rasa pahit tidak ketulungan. Minumannya juga tak kalah seru. Sebuah minuman bisa ular yang telah dicampur dengan madu, telur dan entah apalagi.

Pemandangan ini jelas membuatku menelan ludah dalam-dalam. Lidah terasa ngilu. Enakkah? Nikmatkah? Aku sendiri belum pernah merasakannya. 

Sebelum pesanan tiba, kucoba bertanya-tanya pada penjual warung mengenai sajian istimewanya:

“Sudah berapa lama berjualan ular, Bu?” 

“Ya, sudah cukup lama, Nak.”

“Dari mana ibu mempunyai pikiran menjual makanan ular? Apakah tidak sulit mencarinya?” 

“Entahlah, Nak, dulu ibu dan suami ibu berjualan sate. Tapi karena daging kambing mahal, jadi ibu beralih ke ular. Selain itu, sampai sekarang panganan ular masih jarang di kota ini. Jadi tak ada salahnya bila kami berjualan ular. Toh, ular juga dapat menyehatkan badan. Masalah dari mana dapatnya, ada beberapa orang yang khusus mencari ular. Setiap hari ular-ular tersebut dikirim kemari.”

“Mencari sesuatu yang baru nih ceritanya!” Aku menimpali dengan senyum lebar. 

“Ah, nggak juga. Tapi dibilang begitu juga ga apa-apa.”

“Berapa harga ular?” 

“Tergantung, Mas. Jika ularnya masih hidup dibelinya berdasarkan ukuran dan panjang ular. Sebaliknya jika sudah mati ular tersebut harganya bisa turun dan cuma dihargai dengan kiloan.” 

“Emangnya ada berapa ular di dalam sana, Bu?” 

“Banyak, Mas. Kalau pengin lihat silahkan masuk saja.” Dengan sopan Si Embok mempersilahkanku.

Sebetulnya aku ragu, namun didorong rasa keinginantahuanku yang menggebu-gebu akhirnya kuberanikan melongok dapur warung. Ternyata benar dugaanku, di dalam dapur tersedia banyak sekali ular berbisa. Beberapa ekor dipisah dalam sangkar sesuai dengan jenisnya. 

Ular-ular tersebut nampak diam, sebagian lagi bergerak-gerak, berputar dengan sangat lambat seakan mencari tempat meloloskan diri. Ada kulihat seekor ular berwarna hitam berdiri tegap dengan moncongnya siap menyerang sewaktu kumasukkan sapu lidi.

Ular ini adalah jenis kobra yang sebentar lagi bakal kusantap. Mungkin bukan dia, mungkin temannya. Untuk ular jenis sanca kebanyakan hanya diam mematung. Di sampingnya terdapat tikus yang mondar-mandir kebingungan hendak melepaskan diri dari sarang ular. Kasihan tikus tersebut, sebentar lagi kau bakal menjadi mangsa ular. 

Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki membawa seekor ular yang baru dibunuhnya. Itulah santapanku. Lelaki tersebut menjelaskan padaku bagaimana cara menaklukkan ular. Katanya untuk menaklukkan ular cukup dengan memegang kepala dan ekor kemudian ditarik. Dengan begitu ular menjadi lemas. Berikutnya bisa ditebak, kepala ular dipotong, kulitnya dikelupas dan diiris-iris sesuai permintaan pembeli; mau digoreng atau disate.

Makanya pada tembok rumah kulihat pajangan kulit ular yang dikeringkan. Katanya kulit ular akan dijual lagi untuk kemudian diolah menjadi sebuah kerajinan handycraft, seperti sabuk, tas, dompet dan lain-lain.           

Beberapa menit hidanganku pun tiba. Daging ular sudah tidak bisa dibedakan dengan daging-daging lainnya. Sebab sudah dicampuri dengan segala macam bumbu. Air liurku sampai-sampai menetes dibuatnya.

Hmm, jadi penasaran untuk mencoba. Seperti halnya pria tadi, penjualnya menyajikan empedu di hadapanku. Sebelum makan aku harus menelan empedu tersebut. Yang ini juga membuatku penasaran. Sebelum kutelan penjualnya mengingatkan agar tidak memecahkan empedu dalam tenggorokan. Akan kuingat baik-baik pesannya. 

Sepintas kuciumi aroma empedu sedikit anyir. Wajar sebab itu masih mentah. Kusorongkan pelan-pelan dalam tenggorokanku. Para penjual dan pembeli melihatku dengan tegang. Maklum karena ini adalah pertama kali bagiku.

Tentu aksiku ini merupakan tontonan menarik bagi mereka. Pelan-pelan…dan hap! Empedu sudah kutelan mentah-mentah. Bau anyir yang tersembur keluar membuat ususku menolak-nolak. Rasanya mau muntah dibuatnya. Setelah kuredam akhirnya si usus bersedia menerima empedu. Kulihat raut wajah orang-orang di sekelilingku masih menunjukkan ketegangan dan penasaran menunggu responku.           

“Enak. Tapi sayang aku belum punya istri,” kata-kataku itu disambut gelak tawa seluruh orang di tengah kesunyian akibat guyuran hujan di atas genting.

Percakapan kami ini terus diulang-ulang sebagai ritual keintiman yang memaklumkan dimulainya waktu untuk melepas seluruh endapan percakapan yang tertahan seharian dengan penuh kekuatan dan keriuhrendahan. 

Santapan berikutnya aku ingin mencoba kenikmatan daging ular. Begitu masuk mulut, daging ular kukunyah perlahan. Sedikit keras. Kurasai bumbu-bumbunya menari di atas lidahku. Sedap. Gurih. Nikmat. Sepintas mirip daging belut, tapi yang ini lebih enak.

Mengenai khasiatnya, saat itu aku belum mengetahui. Mungkin beberapa jam lagi. Semoga saja apa yang dikatakan orang-orang benar. Sebab dalam perjalananku ini memang membutuhkan stamina yang prima.

Malam itu suasana kekeluargaan kurasakan begitu indah bersama orang-orang sekitarku, kendati kami baru kenal. Setidaknya itulah yang ditunjukkan masyarakat Jawa Tengah, dimana nilai-nilai kesopanan terasa sangat kental.

Aku menghabiskan malam di Solo, bernaung di ruang yang lebar tapi terbuka. Aku tidur di Stasiun Solo Balapan. Dengan alasan menunggu jemputan, kuparkir motor dan membeli tiket masuk seharga seribu perak. 

Hari semakin larut. Dan rasa kantuk kian tak terbendung. Sesekali aku merasakan perutku mengocok-ngocok meninggalkan kehangatan di dalamnya. Mungkin inilah reaksi ular. Semoga cuma meningkatkan stamina, jangan sampai membawa gairah berapi-api. Sebab ujung-ujungnya sangat berbahaya.

Kusandarkan tubuh di atas kursi-kursi penumpang. Kupandangi langit-langit stasiun. Di sekelilingku tiada kutemui penumpang satu pun. Kereta api terakhir sudah lewat beberapa jam yang lalu. Mataku mulai sendu. Rasa dingin setelah turun hujan menyambutku dengan riang. Kututupi seluruh badan dengan jaket tipis berwarna biru yang kubawa kemana-mana. Hanya, aku masih mengenakan celana pendek. Kemana-mana celana pendek ini menjadi teman setia penghilang malu. Dan memang inilah satu-satunya barang berharga yang tersisa dari Bali.

Aku sendiri juga tolol kenapa harus mengirim seluruh barang bawaan kembali ke Surabaya. Toh, sekarang aku cuma bisa menyesali diri. Akibat ketololanku aku harus menanggung resikonya: berjuang mati-matian di hawa terbuka dengan mengenakan celana pendek yang sewaktu-waktu disapu oleh udara dingin dan sambutan nyamuk-nyamuk nakal. 

Sebenarnya aku bisa saja bermalam di masjid, di sana lebih hangat. Namun dikarenakan pakaianku yang tidak sopan, maka kuputuskan bermalam di tempat terbuka. Begitu juga ketika hendak sholat, sebenarnya aku malu setiap kali masuk masjid selalu meminjam sarung kepada penjaga masjid.

Sudahlah mungkin itu sudah menjadi nasibku, tak ada yang perlu disesali. Malam merayap perlahan membawa keheningan. Mataku semakin berat. Kubersedekap melingkarkan kedua tangan menghindari hawa dingin yang menusuk-nusuk persendian. Tak berapa lama, aku pun tertidur. [bersambung]

titik nadhir
Komentar (0)
Tambah Komentar