Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Bagaimana Penaklukan Surabaya oleh VOC Abad 17?

Oleh: Nanang Purwono

DI awal abad 17, setelah VOC masuk Nusantara pada 1602, seorang pengusaha VOC Hendrik Brouwer menginjakkan kaki di pelabuhan sungai Surabaya pada 1612. Sebagai pengusaha dan sekaligus penguasa VOC, ia menjajagi potensi pergagangan melalui Surabaya.

Lima tahun kemudian, 1617, Gubernur Jendral Jaan Pieterson Coen juga datang ke Surabaya untuk tujuan yang sama. Yakni berdagang. Melihat potensi yang luar biasa itu, maka pada 1617, sebuah pos dagang dibuka di Surabaya oleh J. P. Coen.

Kedatangan para petinggi VOC di Surabaya ini menemui dan ditemui oleh penguasa Surabaya yang disebut Pangeran (Oud Soerabaia) untuk urusan urusan perdagangan. Entah pangeran siapa yang pernah menjalin kontak dagang dengan VOC kala itu. Diduga sang Pangeran Surabaya ini adalah Pangeran Jayalengkara. Dalam jalinan kontak dagang itu, VOC menghadiahkan sebuah meriam kepada Pangeran Surabaya sebagai cindera mata.

Tahun 1625 Surabaya ditaklukkan oleh Mataram di bawah Sultan Agung. Selain itu, Pos VOC di Batavia juga diserang oleh Mataram. Dampaknya, Pos Dagang VOC di Surabaya ditutup pada 1628 dan dilarang beroperasi. Sejak itu hubungan perdagangan yang sudah terjalin antara VOC dan penguasa Surabaya menjadi terganggu.

Lima tahun kemudian setelah penaklukan Surabaya oleh Mataram (1625), tepatnya pada tahun 1630, Pangeran Jayalengkara wafat karena usia tua dan otomatis secara hirarki digantikan puteranya Pangeran Pekik.

Tidak lama kemudian, Sultan Agung menjalin persaudaraan dengan Pangeran Pekik. Ia dinikahkan dengan adiknya yang bernama Ratu Pandansari.

Pangeran Pekik Dalam Penaklukan Giri Kedaton

Pada 1633 Giri Kedaton di Gresik mencoba untuk lepas dari kekuasaan Mataram. Namun semua perwira Mataram segan menghadapi Panembahan Kawis Guwa yang merupakan keturunan Sunan Giri.

Karenanya Sultan Agung mencari siasat untuk menaklukkan Giri Kedaton. Caranya adalah dengan memerintahkan Pangeran Pekik untuk menghadapi Giri Kedaton yang administrasi nya di bawah Panembahan Kawis Guwa, yang tidak lain adalah keturunan Sunan Giri.

Inilah alasan Sultan Agung memerintahkan Pangeran Pekik menghadapi Giri Kedaton. Pangeran Pekik sendiri adalah keturunan Sunan Ampel. Sementara Sunan Giri adalah muridnya Sunan Ampel. Ketika Pangeran Pekik (keturunan Sunan Ampel) harus menghadapi Panembahan Kawis Gowa (keturunan Sunan Giri), maka yang terjadi adalah perang sungkan.

Tentu Kawis Gowa dibuat sungkan ketika menghadapi Pangeran Pekik. Dampaknya, Panembahan Kawis Gowa dapat dikalahkan Pangeran Pekik. Artinya Giri Kedaton berhasil ditaklukkan Mataram pada 1636. Akhirnya, Panembahan Kawis Guwa dapat dibawa menghadap ke Mataram.

Pangeran Surabaya

Menurut literasi Wikipedia bahwa Pangeran Pekik melanjutkan memimpin Surabaya, termasuk Ampel setelah meninggalnya Pangeran Jayalengkara pada 1630. Tersebut berurutan bahwa pemimpin Surabaya adalah Pangeran Jayalengkara, Pangeran Pekik, Pangeran Trunojoyo, Pangeran Indrajit dan Pangeran Wirodarmo.

Ketika Sultan Agung wafat pada 1645 dan digantikan puteranya, Amangkurat I (1646-1677), maka perubahan politik terjadi. Mataram di bawah Amangkurat I, kembali menjalin hubungan baik dengan VOC. Dampaknya pos pos dagang VOC baik di Batavia maupun di Surabaya bisa buka dan beroperasi lagi.

Ketika Pangeran Pekik boyong ke Mataram karena dinikahkan dengan Ratu Pandansari, adik dari Sultan Agung, maka kepemimpinan Surabaya berada di tangan Trunojoyo.

Raden Trunojoyo

Siapa Raden Trunojoyo itu?

Raden Trunajaya (1649-1680) dikenal sebagai Panembahan Maduretna Panatagama yang juga dikenal sebagai seorang bangsawan Madura yang pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram.

Sumber literasi Wikipedia menuliskan bahwa pasukan Trunojoyo yang bermarkas di Kediri pernah menyerang dan berhasil menjarah Kraton Mataram tahun 1677, yang mengakibatkan Amangkurat I melarikan diri dan meninggal dalam pelariannya.

Dalam diskusi dan berhipotesa (begandringan di Ampel Menara pada 18/12/21) tentang kedatangan Laksamana Speelman di Surabaya pada 1677,dimana tentara VOC di bawah komando Gubernur Jendral Cornelis Speelman berhadapan dengan Trunojoyo, Trunojoyo “menduduki”, “menguasai” Surabaya diakibatkan karena ada kekosongan kekuasaan ketika Pangeran Pekik boyong ke Mataram.

Di saat kekosongan itulah, Raden Trunojoyo yang sudah tidak suka terhadap Mataram segera menempati Surabaya karena Surabaya dianggap sebagai daerah taklukan Mataram sejak 1625. Karena itulah, maka Mataram dengan dibantu oleh VOC melakukan penyerangan terhadap Trunojoyo di Surabaya.

GH von Fabet dalam “Oud Soerabaia” menampikan peta Surabaya 1677 yang menggambarkan titik titik pertahanan Trunojoyo dan posisi tentara Speelman.

Dengan dibantu oleh Emile Leushuis menterjemahkan dan memaknai keterangan peta yang berbahasa Belanda lama, diskusi berjalan lancar dan berhasil mengurai sejarah kota Surabaya pada abad 17.

Dari keterangan gambar dapat diperoleh informasi penting betapa peta yang dibuat Speelman begitu terperinci dan sangat informatif. Peta itu menggambarkan titik titik Pertahanan Trunojoyo dan posisi pertahanan Speelman yang masing masing sudah menggunakan persenjataan artileri, meriam meriam.

Posisi Speelman berada di kawasan Ampel atau timur Kalimas. Sedangkan posisi Trunojoyo berada di barat Kalimas. Kedua kubu ini menempati kawasan Kota lama Surabaya. Pertempuran ini berlangsung lama (1677-1679) termasuk pengejaran tentara Speelman terhadap Trunojoyo.

Perang Surabaya 1677

Ringkas cerita, pada April 1677, Speelman bersama pasukan VOC berangkat untuk menyerang Surabaya dan berhasil menguasainya. Speelman yang memimpin pasukan gabungan berkekuatan sekitar 1.500 orang berhasil terus mendesak Trunojoyo. Benteng Trunojoyo di Surabaya sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC.

Trunojoyo sempat lari ke markas tentaranya di Kediri. Namun akhirnya Trunojoyo dapat dikepung, dan menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker. Trunojoyo kemudian diserahkan kepada Amangkurat II yang berada di Payak, Bantul. Pada 2 Januari 1680, Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo.[Bersambung]

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...