Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Pancamula Sejarah Kota Surabaya

Lima Sumber dan Bukti Sejarah Awal Mula Kota Surabaya

REKAYOREK.ID Lima sumber dan bukti sejarah Kota Surabaya hasil penelusuran dan kajian oleh Tim Begandring Soerabaia ini mengacu pada satu kawasan yang sama. Yaitu kawasan Delta Sungai diantara Sungai Kalimas dan Pegirian.

Sumber dan bukti sejarah apakah itu?

Dimanakah kawasan Delta itu?

Prasasti Canggu atau Trowulan I (1358 M)

Dalam prasasti ini, nama dan lokasi Surabaya terdeskripsikan dengan jelas.

Nama Surabaya tertulis dalam aksara Jawa Kuna, yang jika ditulis dalam aksara latin menjadi Curabhaya.

Surabaya (Curabhaya) adalah salah satu dari desa-desa di tepian sungai (naditira pradeca) yang menyediakan jasa penyeberangan atau tambangan (anambangi). Karenanya, Curabhaya dicatat ke dalam prasasti oleh Raja Hayam Wuruk (1350-1389).

Prasasti itu bernama Canggu. Prasasti Canggu adalah piagam kerajaan, yang berisi tentang peningkatan status desa-desa penyeberangan di seluruh Mandala Jawa dan aturan-aturan yang ditetapkan berkenaan dengan aktivitas penyeberangan yang dilakukan.

Prasasti Canggu (1358) menuliskan nama Curabhaya (Surabaya) berada di hilir sungai (naditira pradeca). Foto: repro

 

Prasasti ini terbuat dari tembaga, bentuknya lempeng persegi panjang dengan ukuran 36.5 x 10,5 cm. Prasasti Canggu berasal dari dukuh Pelem, desa Temon Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti Canggu ditulisi dengan baris kalimat pada dua sisi (depan dan belakang) lempeng.

Lempeng dimana nama Curabhaya ditulis adalah lempeng ke-5. Ketika pertama kali ditemukan, prasasti ini terdiri dari 5 lempeng, yaitu lempeng 1,3, 5, 9. (E.54 a-d) dan 10 (E.36).

Nama Curabhaya diketahui terrulis sebagai berikut:

“i bukul, °i surabhaya, muwa? prakarani? naditira pradesa sthanani?-anamba?i,

(….di Bungkul, di Surabaya, semua desa-desa ditepi sungai tempat perahu penyeberangan tambangan.).

Kitab Negara Kertagama (1356 M)

Kitab Negara Kertagama adalah sumber sejarah yang dapat mendeskripsikan keberadaan Surabaya bahwa Surabaya berada tidak jauh dari laut atau berada di hilir sungai.

Kitab ini sendiri merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit dalam bidang sastra, yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan selanjutnya menjadi sumber sejarah yang begitu dipercaya.

Naskah kitab ini ditulis dalam Bahasa Kawi pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi) di era Prabu Hayam Wuruk. Dari maknanya, Negara Kertagama berarti negara dengan tradisi spiritual. Oleh Mpu Prapanca, kitab ini juga disebut sebagai Desawarnana, yang berarti tulisan tentang daerah Majapahit.

Kitab ini diketemukan oleh JLA Brandes, saat Belanda menyerang Lombok. Saat istana dibakar pada penyerbuan tersebut, Brandes menyelamatkan naskah yang menjadi bagian Kitab Negarakertagama ini.

Kitab Negara Kertagama yang juga menyebut nama Surabaya, sebuah tempat yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk pada 1365 M. Foto: repro

 

Kitab yang menceritakan banyak hal tentang Kerajaan Majapahit ini, salah satunya menceritakan perjalanan Prabu Hayam Wuruk berkeliling wilayahnya, termasuk ke Jenggala dan Surabaya.

“Yan ring Janggala lot shaba nepati ring Churabhaya manurus mare Buwun”,

Artinya kalau di Jenggala  (Hayam Wuruk) selalu singgah di Surabaya, kemudian meneruskan ke Buwun. (Kakawin Nagarakretagama, pupuh 17: 5c-d).

Buwun diduga suatu tempat di seberang lautan yang kini bernama Bawean dan juga ada yang menduga suatu daerah di wilayah Jenggala, yaitu Kebowan.

Buku Ying-Yai Sheng-Lan (1433)

Buku Ying-Yai Sheng-Lan adalah kumpulan catatan Mahuan, juru tulis Laksamana Cheng Ho, yang ditulis ketika menyertai Laksamana Cheng Ho dalam ekspedisinya dari Cina ke Majapahit pada 1433 M.

Dalam catatan itu, Surabaya adalah salah satu tempat yang disinggahi sebelum sampai di Majapahit. Ia mengisahkan ekspedisinya bahwa sesampainya Armada (kapal kapal besar) di pelabuhan laut Tuban, selanjutnya dari Tu-pan (Tuban) berlayar ke timur Jawa, lalu ke tenggara-selatan melewati Chi-li-shih (Gresik) dan sampailah di Su-lu-ma-i (Surabaya), tempat dimana armada berhenti selama sekitar empat bulan, antara bulan Maret dan Juli.

Rute Laksamana Cheng Ho dan Mahuan datang ke Majapahit melalui Surabaya pada 1433. Foto: repro

 

Dari Surabaya Cheng Ho naik perahu (sekoci) menyusuri Kali Mas hingga sampai ke Chang-ku (Canggu), dan dari sana ia melakukan perjalanan darat ke Man-che-po-i (Majapahit).

Dari deskripsi ekspedisi ini, diketahui bahwa Surabaya berada di dekat laut besar atau di hilir sungai. Hanya perahu perahu kecil (sekoci) yang bisa menyusuri sungai (Kalimas) yang menjadi tumpangan Laksamana Cheng Ho beserta rombongan untuk menuju ke Majapahit.

Buku “Er Werd Een Stad Geboren” (1953 M)

Buku ini menceritakan kelahiran atau awal mula sebuah kota. Sebagaimana arti dari judul buku “Er Werd Een Stad Geboren” yang berarti lahirnya sebuah kota. Kota yang dimaksud dari buku ini adalah kota Surabaya.

“Er Werd Een Stad Geboren” ditulis oleh seorang sejarawan, budayawan yang sekaligus wartawan di era pemerintahan Hundia Belanda. Yakni GH Von Faber pada 1953.

Buku ini adalah salah satu dari trilogi karya tulis Von Faber tentang kota Surabaya. Dua lainnya adalah Oud Soerabaia dan Nieuwe Soerabaja.

Surabaya dikabarkan sudah ada pada 1275 M sesuai karya GH Von Faber. Foto: repro

 

GH Von Faber menuliskan bahwa di kawasan Delta Sungai di antara sungai Kalimas dan Pegirian, disanalah sebuah permukiman baru dibuka (1275 M) untuk para jawara yang telah berhasil membantu Raja Kertanegara dalam menumpas pemberontakan Kanuruhan (1270 M).

Kawasan ini meliputi Peneleh dan Pengampon – Semut (utara Peneleh). Kawasan inilah yang disebut oleh Raja Kertanegara sebagai Surabaya. Deskripsi Von Faber ini tidak lepas dari ilustrasi yang tersebut dalam sumber Prasasti Canggu (1358) dan Kitab Negara Kertagama (1365).

Sumur Jobong (2018)

Sumur Jobong adalah satu satunya temuan arkeologi di kota Surabaya. Wujudnya adalah sumur kuno yang terbuat dari tanah liat (terakota) yang umum dijumpai di wilayah kota Raja Trowulan, kabupaten Mojokerto.

Benda arkeologi ini ditemukan di kampung Pandean I, kelurahan Peneleh, kecamatan Genteng, Surabaya pada Oktober 2018. Setelah dilakukan uji karbon di Australian National University, Canberra, Australia, diketahui bahwa sumur ini sudah apa pada tahun 1430.

Sumur Jobong (1430) ditemukan di Pandean yang berada di tepi sungai. Foto: nanang

 

Menurut Delta Bayu Murti, S.Sos., M.A.. ahli Paleopathology, Paleoanthropology and Primatology, Universitas Airlangga bahwa sumur Jobong di Pandean diduga selain sebagai sumber air untuk kebutuhan domestik, juga sebagai sarana ritual kematian.

Sumur ini menjad sarana penempatan tulang tulang manusia dan dari hasil uji karbon pada tulang manusia inilah diketahui bahwa manusia Pandean yang mati dan tulangnya ditempatkan di sumur ini, tahun kematian tertua adalah 1430. Bisa jadi keberadaan sumur sudah ada sebelum 1430 [email protected]

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...