Misteri Kaligrafi Sadasarama di Mimbar Kuno Masjid Leran Gresik
REKAYOREK.ID Pelatihan mengenai optimalisasi dan pemanfaatan desa sebagai destinasi wisata religi serta kebudayaan maritim unggulan di Desa Leran, Kabupaten Gresik, sukses digelar oleh Musee ID pada Sabtu (6/6/2026).
Agenda ini berhasil memantik antusiasme baru bagi masyarakat setempat, khususnya mereka yang tergabung dalam komunitas Leran Heritage.
Adies, salah seorang warga Desa Leran yang turut serta dalam program tersebut, mengungkapkan rasa syukurnya selepas acara atas bimbingan yang telah diberikan.
“Sebetulnya sudah lama kami merancang upaya pemanfaatan dan pengembangan ini tapi belum ketemu jalan lebih lanjut. Dengan adanya pendampingan ini saya sangat reterima kasih. Kami semakin tau harus melakukan apa”, demikian kata Adies di Balai Desa Leran.
Lebih lanjut, Adies membagikan kisah mengenai keberadaan sebuah mimbar bersejarah di Masjid Baitul Muttaqin yang berlokasi di RT 01/01 Leran.
Berdasarkan penuturannya, mimbar tersebut dulunya berasal dari Dusun Pesucinan. Secara administratif, Dusun Pesucinan merupakan bagian dari wilayah Desa Leran dengan jarak sekitar 600 meter dari Balai Desa.

Adies kemudian memaparkan bahwa area permukiman purba Dusun Pesucinan dulunya berada di kawasan babut (sebelah selatan Pesucinan). Hal ini diperkuat dengan penemuan berbagai artefak berupa fragmen tembikar, pecahan genting, dan benda sejenisnya. Di kawasan tersebut juga terdapat pelabuhan sungai kuno, di mana jarak antara Pelabuhan Kedung dengan Masjid Pesucinan hanya berkisar 100 meter.
“Tahun 1900-an terjadi pagebluk (wabah pes) di wilayah tersebut, yang mengakibatkan menyusutnya penduduk akibat kematian dan perpindahan penduduk ke wilayah Malang, Kediri dan Blitar”, tutur Adies.
Dampak dari wabah tersebut membuat kawasan permukiman berangsur sepi dan aktivitas pelabuhan pun terhenti total. Masjid Pesucinan yang dulunya selalu dipadati jemaah mendadak lengang, hingga jumlah maslahatnya tidak lagi mencukupi batas minimal untuk menyelenggarakan salat Jumat.
“Sehingga penduduk Pesucinan dan sekitarnya menjadikan Masjid Leran sebagai tempat berkumpul untuk sholat Jum’at. Menurut dugaan kala itu, Masjid Leran juga belum punya mimbar yang bagus. Sehingga pada saat itu ada inisiatif memanfaatkan mimbar yang tidak di pakai di Masjid Pesucinan untuk diletakkan dan digunakan di Masjid Leran”, tambah Adies.
Daya tarik utama dari mimbar kuno tersebut terletak pada pahatan kaligrafinya. Berdasarkan telaah mandiri oleh Adies yang kemudian divalidasi oleh Epigrafer Diaz Nawaksara serta Siti Zaenab (warga NU Surabaya), untaian huruf tersebut terbaca “Allahu muhammadurrasulullah, Sadasarama (Sidaserma)”.

Temuan ini memicu teka-teki mendalam mengenai makna sejati dari teks kaligrafi tersebut, sekaligus membuka spekulasi apakah ada keterkaitan historis dengan wilayah Sidaserma (Ndresma), yang dikenal sebagai salah satu poros pesantren kuno dan pusat santri di Surabaya.

Jika ditinjau dari studi linguistik Sansekerta, kata Sada (सदा) mengandung makna abadi, selamanya, konstan, atau sepanjang masa. Sementara itu, kata Sharma (शर्मन् / शर्मा) merepresentasikan kegembiraan, kenyamanan, kebahagiaan, atau bentuk perlindungan.
Dalam tatanan kebudayaan India, Sharma merupakan klan atau nama marga terhormat yang secara turun-temurun disandang oleh kaum Brahmana sebagai simbol otoritas spiritual dan intelektual.
Sementara dalam khazanah bahasa Jawa, kata “sida” memiliki arti konkret yaitu jadi, terealisasi, atau sukses terlaksana.
Uniknya, istilah “Sarma” tidak dikenal dalam leksikon bahasa Jawa, begitu pula sebaliknya, kata “Sida” sama sekali tidak dijumpai dalam kosakata Sansekerta.
“Ada kemungkinan nama nama sidasarma ditujukan sebagai komunitas kaum santri”, demikian hipotesis Adies.
Terlepas dari dinamika penafsiran yang ada, gagasan dan wawasan yang dimiliki Adies ini menjadi tambahan khazanah yang berharga dalam proses pendataan potensi lokal Leran, sekaligus memperkaya proyeksi pengembangannya sebagai kawasan wisata religi dan budaya.

Langkah Musee ID turun langsung ke Desa Leran, Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini merupakan bagian dari komitmen untuk merevitalisasi kawasan berbasis situs maritim. Sektor maritim sendiri mencakup segala dimensi yang bertalian dengan kelautan dan perairan, mulai dari navigasi, aktivitas pelayaran, niaga laut, eksplorasi potensi sungai dan air, hingga aspek pertahanan. Ruang lingkup ini juga menyentuh industri turunan seperti pelabuhan, perikanan, hingga pariwisata bahari.
Secara rekam jejak sejarah dan kebudayaan, Desa Leran memiliki posisi strategis karena secara geografis bertempat di titik pertemuan antara Kali Tebalon dan Kali Wangen, yang alirannya kemudian menyatu menuju Sungai Mireng sebelum akhirnya bermuara ke Selat Madura.

Musee ID menaruh harapan besar agar masyarakat Desa Leran dapat terlibat secara aktif dalam mengidentifikasi kekayaan dasar desa mereka.
Melalui berbagai stimulan kegiatan komunitas, pemahaman mengenai potensi lokal tersebut diharapkan dapat diamplifikasi dan ditularkan kepada warga yang lebih luas.

“Dengan begitu ada proses pembelajaran dari warga untuk warga”, demikian kata Nanang Purwono, salah satu tim Musee ID, yang juga ketua komunitas budaya Puri Aksara Rajapatni Surabaya, dalam pelatihan di Balai Desa Leran.@PAR/nng