Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Kisah Panjang Jakarta, Dari Tiga Shift Sekolah ke Kota Global

REKAYOREK.ID Sabtu malam, 27 Juni 2026. Bundaran Hotel Indonesia kembali menjadi panggung sejarah. Ribuan warga berkumpul merayakan Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta. Cahaya lampu menari di atas air mancur, musik menggema, dan wajah-wajah penuh harapan memenuhi jantung ibu kota.

Namun, Jakarta tidak dibangun hanya oleh gemerlap malam.

Kota ini lahir dari peluh, kemacetan, banjir, kemiskinan, dan mimpi-mimpi yang terus diperjuangkan selama ratusan tahun.

Menjelang usianya yang ke-500 tahun, Jakarta ingin dikenal sebagai kota global: modern, inklusif, nyaman, dan mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia. Gubernur Pramono Anung dalam peringatan HUT ke-499 menegaskan bahwa pembangunan Jakarta tidak boleh melupakan hak-hak dasar warga. Pendidikan, kesehatan, dan transportasi publik harus tetap menjadi prioritas, bahkan ketika dunia sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik.

Pesan itu sesungguhnya mengingatkan kita pada Jakarta puluhan tahun silam.

Pada dekade 1960-an, ibu kota menyimpan dua wajah yang sangat berbeda.

Di satu sisi, Presiden Sukarno membayangkan Jakarta sebagai etalase Indonesia di mata dunia. Hotel Indonesia berdiri megah. Stadion Gelora Bung Karno dibangun. Monumen Nasional menjulang. Jalan-jalan protokol diperlebar. Jakarta dipersiapkan menjadi kota mercusuar yang menunjukkan bahwa bangsa muda ini mampu berdiri sejajar dengan negara-negara besar.

Jakarta pada awal 1960-an sesungguhnya merupakan laboratorium pembangunan terbesar di Indonesia. Presiden Sukarno ingin mengubah wajah ibu kota menjadi simbol kebangkitan bangsa yang baru merdeka.

Momentum penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962 dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur modern. Di sepanjang poros Jalan Thamrin hingga Sudirman berdiri Hotel Indonesia sebagai hotel bertaraf internasional pertama di Indonesia, Monumen Selamat Datang di Bundaran HI, kompleks olahraga Gelora Bung Karno di Senayan, serta pelebaran jalan-jalan utama yang menjadi wajah baru ibu kota.

Tak lama kemudian dimulai pula pembangunan Monumen Nasional (Monas) sebagai penanda semangat perjuangan bangsa.

Semua proyek itu merupakan bagian dari gagasan Jakarta sebagai “kota mercusuar”, yaitu kota yang memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.

Namun, kemegahan pembangunan tersebut berjalan beriringan dengan berbagai keterbatasan kehidupan rakyat. Pertumbuhan penduduk Jakarta berlangsung sangat cepat akibat urbanisasi.

Kampung-kampung padat bermunculan di berbagai sudut kota, sementara kebutuhan rumah, sekolah, dan layanan publik belum mampu mengimbangi laju pertambahan penduduk.

Banyak sekolah negeri terpaksa menerapkan sistem belajar bergantian hingga tiga shift karena ruang kelas tidak mencukupi. Di jalan-jalan ibu kota, becak masih menjadi alat transportasi utama masyarakat kecil, sedangkan kereta api dipenuhi penumpang yang berdesakan setiap hari.

Intinya, kehidupan rakyat masih jauh dari kemegahan. Para guru mengeluhkan minimnya ruang kelas. Banyak sekolah terpaksa menerapkan sistem belajar tiga shift. Ada murid yang masuk pagi, sebagian siang, dan sebagian lagi menjelang petang. Bangunan sekolah tidak cukup menampung anak-anak yang ingin belajar.

Jakarta kala itu adalah kota yang sedang mengejar modernitas, tetapi masih bergulat dengan persoalan-persoalan dasar warganya.

Kontras itulah yang membuat Jakarta hari ini layak disyukuri. Apa yang dahulu hanya berupa cita-cita—transportasi massal modern, jalan-jalan yang tertata, dan wajah kota yang mendunia—perlahan mulai terwujud melalui hadirnya MRT, revitalisasi ruang publik, serta berbagai pembangunan infrastruktur perkotaan.

Namun sejarah juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari monumen dan gedung pencakar langit, melainkan dari kemampuannya memastikan setiap warga memperoleh pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang baik, dan kesempatan hidup yang lebih sejahtera.

Ya, Jakarta ketika itu adalah kota yang sedang tumbuh, tetapi belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warganya.

Begitu pula dengan transportasi.

Di jalan-jalan ibu kota masih terlihat becak yang ditarik oleh tenaga manusia. Sukarno pernah menyampaikan kegelisahannya melihat manusia menjadi alat angkut bagi manusia lain. Baginya, kemajuan sebuah bangsa tidak boleh dibangun di atas penderitaan sesama.

Kereta api perkotaan pun belum memberikan kenyamanan. Gerbong-gerbong dipenuhi penumpang yang berdesakan. Perjalanan menjadi rutinitas yang melelahkan bagi jutaan warga.

Puluhan tahun kemudian, sejarah perlahan menjawab cita-cita itu.

Becak semakin menghilang dari jalan-jalan utama Jakarta. Moda transportasi modern bermunculan. Bus TransJakarta berkembang menjadi salah satu sistem Bus Rapid Transit terbesar di dunia. MRT hadir melintas di bawah dan di atas permukaan kota, membawa warga dengan cepat, nyaman, dan lebih manusiawi.

Apa yang dahulu hanya menjadi impian, kini mulai menjadi kenyataan.

Meski demikian, Jakarta belum selesai.

Kota ini masih menghadapi banjir, polusi udara, kepadatan penduduk, kesenjangan sosial, hingga tantangan perubahan iklim. Menjadi kota global bukan hanya soal gedung pencakar langit atau jalur kereta bawah tanah. Kota global adalah kota yang memberi kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan, setiap keluarga untuk mendapatkan layanan kesehatan, serta setiap warga untuk bergerak dengan aman dan terjangkau.

Barangkali itulah pelajaran terbesar dari Jakarta tempo dulu.

Sejarah mengajarkan bahwa pembangunan bukan sekadar mendirikan monumen, melainkan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi manusia yang tinggal di sekitarnya.

Ketika Jakarta memasuki usia ke-499, kota ini sesungguhnya sedang berdialog dengan masa lalunya. Dari ruang kelas yang sempit menuju sekolah yang lebih layak. Dari becak yang mengandalkan tenaga manusia menuju transportasi modern. Dari mimpi menjadi kota mercusuar menuju ikhtiar menjadi kota global.

Usia boleh bertambah, tetapi cita-cita sebuah kota tidak pernah benar-benar selesai.

Jakarta terus berjalan, membawa kenangan masa lalu sebagai pelajaran, sekaligus menatap masa depan dengan harapan bahwa kemajuan bukan hanya tampak pada bangunan-bangunan tinggi, melainkan juga terasa dalam kehidupan setiap warganya.@ji

Komentar
Loading...