Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Mengulik Nisan-nisan Penjaga Zaman, Sisi Lain Lahirnya Perkampungan Surabaya

REKAYOREK.ID ​Aliran sungai senantiasa menjadi kompas bagi lahirnya peradaban awal di Surabaya. Secara alamiah, eksistensi air menjadi fondasi utama penopang kehidupan, seperti yang terlihat pada Kali Surabaya dan Kalimas.

Dua jalur air ini merupakan titik lokasi Naditira Pradesa, sebagaimana yang telah diabadikan dalam Prasasti Canggu berangka tahun 1358 M.

​Di luar wilayah Gesang, Bekul, dan Śūrabhaya yang tertulis dalam prasasti tersebut, terdapat wilayah-wilayah lawas lain yang tidak tercatat namun menyimpan bukti heritase sebagai cikal bakal permukiman.

Struktur kuno yang kerap dianggap punden oleh warga setempat menjadi indikator penting awal mulanya suatu kawasan.

​Berpatokan pada lanskap alami sungai ini, upaya pelacakan sejarah permukiman di Surabaya dilakukan dengan mengidentifikasi keberadaan punden maupun kompleks makam tua yang disakralkan oleh masyarakat lokal.

​Berdasarkan jalur aliran sungai dari hulu di selatan hingga hilir di utara, berikut adalah sebaran punden dan makam kuno penanda sejarah Surabaya.

​Makam Kethu Bogangin

​Situs makam ini berlokasi di Dukuh Bogangin, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya, tepat di sisi utara Kali Surabaya.

​Pusara kuno ini berada di area pemakaman Islam Dukuh Bogangin yang terletak di Jalan Makam. Di bagian tengah kompleks, terdapat sebuah bangunan cungkup yang dipercaya warga setempat sebagai makam keramat “Mbah Kethu”.

​Narasi lokal menyebutkan bahwa Mbah Kethu merupakan figur sesepuh yang melakukan babat alas (membuka lahan pertama kali) di Kampung Bogangin. Bukti masa lampau pada makam ini tampak dari struktur nisan yang tersusun dari bata kuno, serta temuan berbagai fragmen batu bata purba di area sekitarnya.

​Salah satu ritus tahunan yang rutin digelar adalah doa bersama di Punden Nyai Suci dan Makam Mbah Kethu. Agenda ini diintegrasikan ke dalam rangkaian tradisi Sedekah Bumi di Kelurahan Kedurus sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan permohonan keselamatan bagi seluruh warga desa.

​Upacara ini dimeriahkan dengan tradisi tumpengan sebagai simbol kerukunan antarwarga, yang dipadukan dengan ziarah leluhur demi menghormati para tokoh perintis kampung.

​Lokasi punden ini juga kerap didatangi warga yang hendak menggelar hajatan besar melalui tradisi selamatan. Ritual ziarah dan kirim doa ini bertujuan memohon kelancaran serta berkah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum pergelaran acara dimulai.

​Punden Pagesangan

​Pagesangan kini berstatus sebagai kelurahan di bawah wilayah administratif Kecamatan Jambangan. Kawasan yang bertumpu di pinggiran Kali Surabaya ini tercatat dalam Prasasti Canggu (1358 M) serta dokumen yang jauh lebih sepuh, yakni Prasasti Kencana (860 M).

​Di samping referensi tekstual berupa prasasti, heritase faktual di lapangan juga menguatkan aspek historis wilayah ini. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan makam tua yang disakralkan sebagai sosok pembuka Desa Gesang.

​Pada mulanya, masyarakat Pagesangan merawat tiga makam yang difungsikan sebagai punden. Namun, akibat himpitan permukiman yang kian padat, kini hanya tersisa dua situs punden saja karena salah satu areanya telah tertutup oleh bangunan Taman Kanak-Kanak (TK).

​Merujuk keterangan warga setempat via Arek Institute, punden tersebut awalnya berpasangan dan dikenal sebagai makam Mbah Gede, Mbah Punosani, serta Mbah Zakaria. Sayangnya, identifikasi kronologis secara mendalam sulit dilakukan lantaran bagian nisannya telah mengalami pemugaran total.
​Kendati demikian, punden-punden ini tetap berdiri kokoh sebagai tengara kekunoan kampung.

Keyakinan kolektif masyarakat terhadap kesakralan situs ini diwujudkan melalui ritus Sedekah Bumi Punden Pagesangan yang dihelat rutin tiap tahun dengan festival budaya dan pentas seni.

​Makam Mbah Bungkul

​Situs makam legendaris ini terletak di bantaran Sungai Kalimas (yang di masa lampau dinamakan Kali Surabaya). Bungkul secara administratif berada di Kelurahan Darmo, wilayah Kecamatan Wonokromo.

​Kompleks ini sangat masyhur karena menjadi pesarean Ki Ageng Supo atau Sunan Bungkul, seorang tokoh syiar Islam abad ke-15 sekaligus bangsawan dari era Majapahit. Statusnya kini ditetapkan sebagai cagar budaya, destinasi ziarah Wali Songo, serta menjadi asal-usul penamaan Taman Bungkul.

​Nilai arkeologis situs ini terpancar dari arsitektur kuno berupa pagar dan gerbang lengkung bergaya Hindu-Jawa khas masa Majapahit.

Berdasarkan rilis Disbudporapar Kota Surabaya, di dalam kompleks religi ini tidak hanya terdapat makam Mbah Bungkul saja, melainkan juga fasilitas orisinal lain berupa musholla dan sumur tua peninggalan sang tokoh yang masih lestari hingga saat ini.

​Eksistensi Mbah Bungkul diyakini berumur lebih tua ketimbang era Sunan Ampel. Dari kacamata geografis, posisi Bungkul yang berada di sisi selatan dibanding Ampel membuktikan usianya yang lebih lawas akibat proses sedimentasi sungai. Maka tidak heran jika ziarah makam para wali sering kali menempatkan Makam Mbah Bungkul sebagai titik awal perjalanan.

​Makam Ki Ageng Pengging

​Kompleks makam Ki Ageng Pengging bertempat di Jalan Ngagel No. 87, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Sejak pertengahan tahun 2022, situs bersejarah ini telah resmi dihibahkan kepada pihak Pemerintah Kota Surabaya untuk keperluan konservasi.

Lokasi makam Ki Ageng Pengging. Foto: google

Letak makam ini berada di tepi aliran Kalimas dan langsung menghadap ke sungai. Prosesi serah terima aset berupa lahan dan bangunan di Jalan Ngagel No. 87 dari pihak ahli waris kepada Pemkot Surabaya dilakukan langsung di lokasi makam.

​Serah terima tersebut ditandai dengan penandatanganan berita acara hibah serta prasasti resmi oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, bersama perwakilan dari pihak keluarga waris, yakni Raden Erwin P. Sosrokusumo.

​Dalam momentum tersebut, Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan apresiasi mendalam kepada Raden Erwin atas penyerahan situs religi ini. Pihak Pemkot pun berkomitmen penuh untuk melakukan pemeliharaan serta restorasi fasilitas di dalam area makam.

​Sosok Ki Ageng Pengging dihormati sebagai tokoh spiritual sekaligus perintis wilayah. Catatan babad dan folklor setempat memposisikan beliau sebagai salah satu leluhur pembentuk Kota Surabaya serta tokoh pejuang dari era Mataram Islam.

​Wali Kota Eri Cahyadi kala itu menegaskan peran vital beliau sebagai pionir Surabaya yang perjuangannya mendasari berdirinya kota ini, sehingga pelestarian situsnya sudah menjadi kewajiban mutlak bagi pemerintah daerah.

​Punden Dinoyo

​Kawasan Dinoyo di Surabaya tercatat sebagai salah satu permukiman tua yang bertumpu di bantaran Kalimas, dengan jejak historis yang diduga membentang hingga era Kerajaan Majapahit. Di perkampungan ini, terdapat makam keramat Mbah Joyo Prawiro yang sangat dihormati oleh penduduk sekitar.

​Guna menghormati jasa pendiri wilayah, warga bersama jajaran perangkat kampung rutin menggelar ziarah massal setiap tahun yang dikemas dalam upacara adat Bersih Desa.

​Hikayat tutur setempat mengidentifikasi Mbah Joyo Prawiro (atau Mbah Cagak Joyo Prawiro Dinoyo) sebagai sosok perwira militer atau panglima perang dari zaman Majapahit. Eksistensi makam ini menguatkan teori bahwa Dinoyo dan sekitarnya (termasuk Bungkul) telah berkembang menjadi pusat aktivitas manusia sejak ratusan tahun silam.

​Unsur menarik lainnya dari wilayah ini adalah keberadaan toponimi Dinoyo Alun-Alun. Pada masa kolonial Belanda awal abad ke-20, kawasan Dinoyo disekat menjadi beberapa zona tata kota, di mana area ini memiliki tanah lapang terbuka serta lapangan parade militer yang bersisian langsung dengan kompleks barak tentara (Dinoyo Tangsi).

​Walau lahan lapang tersebut kini telah bertransformasi menjadi area permukiman yang padat, beberapa sisa arsitektur bergaya kolonial masih kokoh berdiri di wilayah perkampungan Dinoyo Tangsi.

​Makam Plampitan

​Masih berada di koridor aliran Kalimas, tepatnya di kawasan Kampung Plampitan XI, Kelurahan Peneleh, tersimpan makam pejuang lokal yang diyakini sebagai perintis kawasan tersebut.

​Situs ini merupakan tempat peristirahatan terakhir Abdur Rachman yang terletak berdampingan dengan makam Raden Ayu Siti Kholifah, figur yang sama-sama berjasa dalam merintis Kampung Plampitan.

​Berdasarkan narasi yang dihimpun dari warga lokal oleh Radar Surabaya, Abdur Rachman dikenal sebagai pejuang tangguh asal Plampitan yang gugur akibat luka tembak dari arah gedung PLN Gemblongan di dekat Jembatan Peneleh pada 17 November 1945.
​Sebagai lambang heroisme dalam mempertahankan kemerdekaan, makam beliau ditandai dengan lambang bambu runcing di atas pusaranya.

​Warga setempat sempat menolak rencana pemindahan makam sang pejuang ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa pada dekade 1960-an, karena masyarakat menghendaki agar jasad Abdur Rachman tetap bersemayam di kampung halamannya.

Sementara itu, makam Raden Ayu Siti Kholifah di sebelahnya juga terus dirawat dengan baik oleh warga sekitar.

​Makam Joko Jumput

​Pesarean Joko Jumput berada di Jalan Praban No. 6, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Konon, dahulu di depan area ini mengalir sebuah sodetan kecil dari pecahan Kalimas yang membentang dari Jalan Genteng Kali melewati Praban, Bubutan, hingga bermuara ke utara.

​Letaknya kini berada tepat di pusat keramaian Jalan Praban. Kondisi makam ini memerlukan perhatian khusus lantaran posisinya yang kian terhimpit oleh deretan bangunan pertokoan modern.

​Dalam khazanah cerita rakyat, Joko Jumput digambarkan sebagai sosok ksatria legendaris yang berjasa meletakkan fondasi peradaban Surabaya. Legenda menyebutkan ia berhasil menumpas pangeran pemberontak demi menyelamatkan Kadipaten Surabaya, yang kemudian membawanya mempersunting putri Adipati Jangrana, Dewi Purbawati.

​Struktur makam ini berada saling membelakangi dengan wilayah Kampung Praban Kinco. Istilah “Kinco” disinyalir berakar dari nama ibunda Joko Jumput yang dikisahkan berprofesi sebagai pembuat jamu tradisional sejak awal bermukim di sana. Di area makam, ditemukan pula sebuah artefak lumpang batu yang terbuat dari andesit.

​Makam Joko Jumput bersama ibunda dan istri. Foto: ist

Di dalam bangunan cungkup tersebut, makam Joko Jumput berdampingan pula dengan makam ibundanya (Mbok Nyai Rondo Praban Kinco) serta sang istri tercinta, Dewi Purbowati.

​Makam Mbah Singo dan Mbah Panjang di Peneleh

​Wilayah Peneleh menyimpan banyak sebaran makam lawas yang berada di tengah-tengah pemukiman padat warga. Salah satu titik yang paling dekat dengan jalur Kalimas adalah makam Mbah Singo dan Mbah Panjang yang terletak di Peneleh VII, tidak jauh dari kediaman historis HOS Tjokroaminoto.

Makam Mbah Si go di Peneleh VII. Foto: radarsurabaya

Kedua figur ini diyakini sebagai penasihat atau abdi setia dari Sunan Ampel, salah satu tokoh utama dalam penyebaran syiar Islam di tanah Jawa pada abad ke-15.

​Walaupun riwayat lisan mereka tidak terarsip dalam buku sejarah formal, kisah perjuangan dan keteladanan Mbah Singo serta Mbah Panjang tetap hidup melalui penuturan turun-temurun warga lokal.

​Di dalam kebudayaan Jawa, para pengikut setia atau abdi dalem mendapatkan tempat penghormatan tersendiri karena kesetiaannya menemani perjalanan spiritual maupun politik sang tokoh utama.

​Uniknya, posisi kedua makam ini melintang tepat di tengah-tengah gang kampung. Tata letak pemakaman seperti ini merupakan hal yang lumrah dalam tata ruang kuno Peneleh sebelum adanya pemakaman umum, dan warga setempat tetap menghormati keberadaan area keramat tersebut tanpa merasa terganggu.

​Makam Buyut Tonggo di Pecinan

​Konsep Kota Lama Surabaya merujuk pada pembagian wilayah etnis masa lalu, meliputi kawasan Pecinan, Melayu, Arab, dan Eropa.

​Di sektor Pecinan, jejak pemakaman kuno yang terlacak adalah kawasan “Bong” (pekuburan Tionghoa) lama yang kini telah beralih fungsi menjadi pusat niaga modern yang populer dengan nama Pasar Bong.

​Berdasarkan data historis, terdapat marga Tionghoa terpandang yang mulai menetap di kawasan ini sejak abad ke-18, yakni Keluarga Han. Kediaman mereka masih berdiri kokoh hingga kini sebagai Rumah Abu Keluarga Han di Jalan Karet. Tokoh perintis pertamanya adalah Han Bwee Kong (1727–1778).

Menurut catatan, Han Bwee Kong dimakamkan di lahan belakang rumahnya, area yang di kemudian hari berkembang menjadi Pasar Bong.

​Walau areanya telah berubah, sisa-sisa nisan kuno masih dapat dijumpai di pekarangan belakang Rumah Abu Han. Keluarga ini diyakini menjadi salah satu motor penggerak pembukaan permukiman Pecinan yang posisinya langsung menghadap ke Kalimas.

​Di sela-sela kepadatan Pasar Bong, terdapat pula makam bercorak Islam. Berdasarkan garis keturunan, beberapa anggota Keluarga Han memang memeluk agama Islam, salah satunya diduga berasal dari trah Han Tjien Kong, saudara kandung Han Bwee Kong.
​Han Tjien Kong, yang juga menyandang nama Soero Pernollo, merupakan seorang Muslim yang pernah mengabdi pada Residen Rembang, Hendrik Breton, pada tahun 1763. Jasad Soero Pernollo sendiri diketahui dikebumikan di wilayah Besuki.

​Fenomena menarik dalam dinasti Han ini adalah adanya konversi keyakinan yang dialami oleh Soero Pernollo, sementara sebagian anggota keluarga lainnya tetap teguh memegang tradisi leluhur. Kendati berbeda iman, keharmonisan keluarga tetap terjaga dengan baik.

​Dalam catatan resmi silsilah di Rumah Persembahyangan Surabaya, nama Han Tjien Kong sengaja dipisahkan karena beliau membentuk garis keturunan tersendiri di Besuki, sedangkan Han Bwee Kong mendominasi trah Surabaya. Keduanya merupakan putra dari Han Siong Kong.

​Han Siong Kong lahir di Fujian pada 1673 dan wafat di Binangun dekat Lasem pada 1743. Pasca-wafatnya sang ayah, anak-anaknya memutuskan bermigrasi ke wilayah Surabaya dan Besuki.

​Melalui riset sejarah di dalam Pasar Bong, ditemukan sebuah kompleks makam Islam kuno yang oleh masyarakat lokal dinamakan Punden Buyut Tonggo atau makam Syech Sin Abdurrahman.

Makam Sin Abdurrahman di pasar Bong. Foto: dok

Makam keramat ini berada di sebuah ruangan di dalam lorong yang sempit. Struktur gang-gang di Pasar Bong ini memang sengaja terbentuk mengikuti pola jalan setapak kompleks pemakaman lawas tersebut.

​Makam Datuk Melayu

​Penyematan gelar Datuk (atau Datuak) sangat lekat dengan kebudayaan Minangkabau dan rumpun Melayu, yang selain bermakna kakek, juga berfungsi sebagai simbol kehormatan bagi tokoh yang berjasa besar bagi masyarakat.

​Selain kawasan Pecinan dan Arab, Surabaya juga memiliki kawasan Kampung Melayu lama yang terpusat di sekitar Jalan Panggung dan wilayah Pabean.

​Salah satu heritase makam Melayu yang masih bertahan adalah makam Datuk Ibrahim yang terletak di Ketapang Gang 3, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantian. Posisi geografis makam ini berada tepat di koridor antara Kalimas dan Kali Pegirian.

​Makam Raden Rahmat

Raden Rahmat, yang kemudian lebih mahsyur dengan gelar Sunan Ampel, merupakan salah satu figur sentral dari keanggotaan Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

​Kompleks pemakaman beliau juga bertumpu di kawasan antara Kalimas dan Kali Pegirian. Nama besar Sunan Ampel tentu sangat legendaris karena peran historisnya dalam membuka wilayah Ampel Denta.

​Di samping perannya sebagai ulama, Sunan Ampel juga bertindak sebagai tokoh pemerintahan (umarah) sekaligus saudagar kaya. Jejak-jejak kiprahnya tergambar jelas dari keberadaan Masjid Ampel (simbol ulama), prasasti beraksara Jawa di gapura (simbol umarah), serta relief cengkeh pada arsitektur gerbang (simbol saudagar). Kompleks religi ini berada di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya.@nang

Komentar
Loading...