Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Telapak Indonesia Luncurkan JAGA SUNGAI NUSANTARA, Libatkan 4.000 Pemuda Pantau DAS

REKAYOREK.ID Perkumpulan Telapak Indonesia meluncurkan JAGA SUNGAI NUSANTARA, sebuah gerakan nasional yang menargetkan keterlibatan 4.000 anak muda sebagai citizen science untuk memantau kesehatan daerah aliran sungai (DAS) di berbagai wilayah Indonesia. Program ini dirancang untuk memperkuat pemantauan lingkungan berbasis masyarakat sekaligus memperluas partisipasi anak muda dalam upaya pemulihan sungai.

Peluncuran JAGA SUNGAI NUSANTARA dilakukan di tengah kondisi kualitas sungai Indonesia yang masih memprihatinkan. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan hanya sekitar 21,8 persen sungai yang memenuhi baku mutu air, sementara sisanya menghadapi tekanan pencemaran dengan tingkat yang bervariasi.

Ketua Perkumpulan Telapak Indonesia, Prigi Arisandi, mengatakan pemulihan DAS membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas.

Menurutnya, anak muda memiliki potensi besar menjadi penggerak pemantauan lingkungan berbasis data yang dapat mendukung pengambilan kebijakan.

“Melalui JAGA SUNGAI NUSANTARA kami ingin membangun anak muda yang tidak hanya peduli terhadap sungai, tetapi juga mampu menghasilkan data ilmiah melalui pemantauan langsung di lapangan. Data tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong perlindungan dan pemulihan DAS di Indonesia,” kata Prigi Arisandi.

Program ini mengajak peserta melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi sungai melalui pendekatan citizen science dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi, kampanye publik, serta penyebarluasan hasil pemantauan. Data yang dikumpulkan diharapkan mampu melengkapi informasi mengenai kondisi DAS dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.

JAGA SUNGAI NUSANTARA lahir sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan terhadap ekosistem sungai di Indonesia. Pencemaran air, berkurangnya tutupan hutan di kawasan hulu, alih fungsi lahan, pertambangan ilegal, hingga pembalakan di luar izin konsesi menjadi persoalan yang saling berkaitan dalam menurunkan kualitas DAS.

Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih, keanekaragaman hayati, produktivitas lahan, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir maupun kekeringan.

Kondisi di kawasan hulu menunjukkan tantangan yang tidak kalah besar. Dalam periode pendataan terakhir, Sumatera Barat kehilangan hutan seluas 5.817 hektare, sedangkan Sumatera Utara kehilangan 5.598 hektare.

Kali Tebu di Kenjeran, Surabaya, dipenuhi sampah plastik yang mencemari aliran sungai dan terbawa hingga ke laut, mencerminkan tantangan pengelolaan sampah di kawasan perkotaan. Foto: Telapak Indonesia/Fully Syafi

 

Dalam kurun lima tahun, kehilangan hutan alam di Sumatera Utara bahkan mencapai sekitar 120 ribu hektare. Sementara itu, Riau dan Aceh secara historis masih menjadi wilayah dengan laju kehilangan hutan primer yang tinggi.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit masih menjadi penyebab utama hilangnya kawasan hutan alam. Selain itu, aktivitas pembalakan liar, perambahan kawasan hutan, serta pertambangan ilegal turut mempercepat degradasi daerah tangkapan air yang berfungsi menjaga keseimbangan hidrologi.

Prigi menjelaskan bahwa kerusakan di kawasan hulu akan berpengaruh langsung terhadap kondisi sungai di bagian hilir. Oleh karena itu, upaya pemulihan DAS harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Menurutnya, JAGA SUNGAI NUSANTARA tidak hanya berorientasi pada kegiatan edukasi lingkungan. Program ini juga dirancang untuk menghasilkan data lapangan yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan maupun evaluasi pengelolaan DAS.

Peserta akan memperoleh pembekalan mengenai metode pemantauan kondisi sungai, pengamatan keanekaragaman hayati, identifikasi sumber pencemaran, dokumentasi lapangan, hingga teknik pelaporan menggunakan pendekatan citizen science.

Dengan metode yang seragam, data yang dihasilkan diharapkan memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain membangun kapasitas peserta, JAGA SUNGAI NUSANTARA juga memperkuat kolaborasi antara komunitas lokal, perguruan tinggi, sekolah, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas jangkauan pemantauan di berbagai DAS di Indonesia.

Wakil Ketua Perkumpulan Telapak Indonesia, Budi Setiawan, mengatakan data yang dihasilkan masyarakat memiliki peran penting dalam memperkuat sistem pemantauan lingkungan. Semakin luas partisipasi warga, semakin cepat perubahan kondisi sungai dapat dikenali dan ditindaklanjuti.

“JAGA SUNGAI NUSANTARA membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat langsung dalam pengamatan lingkungan berbasis data. Kami ingin membangun budaya pemantauan yang berkelanjutan sehingga masyarakat memiliki informasi yang kuat untuk mendukung perlindungan sungai dan DAS,” ujar Budi Setiawan.

Menurut Budi, pendekatan citizen science juga mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi ikut menghasilkan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya. Cara tersebut diharapkan memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sumber daya air.

Program ini juga menjadi ruang belajar bagi anak muda untuk memahami hubungan antara kondisi hutan, daerah tangkapan air, kualitas sungai, dan kehidupan masyarakat. Kerusakan di kawasan hulu berpengaruh terhadap sedimentasi, penurunan kualitas air, meningkatnya potensi banjir, hingga berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau.

Melalui keterlibatan 4.000 anak muda dari berbagai daerah, Perkumpulan Telapak Indonesia menargetkan terbentuknya jaringan pemantau sungai berbasis masyarakat yang mampu mendokumentasikan perubahan kondisi DAS secara konsisten. Informasi tersebut diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah, akademisi, maupun masyarakat dalam menyusun langkah pemulihan lingkungan yang lebih tepat sasaran.

JAGA SUNGAI NUSANTARA merupakan bagian dari upaya jangka panjang Perkumpulan Telapak Indonesia dalam memperkuat perlindungan ekosistem sungai melalui kolaborasi multipihak. Organisasi ini menilai pemulihan DAS memerlukan perlindungan kawasan hulu, pengendalian pencemaran, pengawasan terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, serta dukungan data lapangan yang kredibel.

Melalui gerakan ini, Telapak berharap lahir anak-anak muda yang memiliki kapasitas ilmiah, kepedulian lingkungan, dan kemampuan bekerja sama dalam menjaga kesehatan sungai Indonesia. Dengan demikian, pemulihan DAS tidak hanya menjadi agenda pemerintah atau organisasi lingkungan, tetapi juga menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari masyarakat.@pry

Komentar
Loading...