Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Diary Malam — Dialog dengan Waktu

Keris ini berdhapur Sinom, lambang tunas yang baru tumbuh. Bukan tentang usia yang muda, melainkan kesediaan untuk terus belajar, meski perjalanan telah panjang.

REKAYOREK. ID – Malam ini aku kembali duduk dalam diam, memandangi sebilah keris tua. Semakin lama kuperhatikan, semakin terasa bahwa yang sedang kubaca bukan hanya lipatan pamor atau tempa besinya, melainkan perjalanan manusia yang pernah menghidupinya.

Keris ini berdhapur Sinom, lambang tunas yang baru tumbuh. Bukan tentang usia yang muda, melainkan kesediaan untuk terus belajar, meski perjalanan telah panjang. Mungkin begitulah seharusnya kesadaran: semakin bertambah pengalaman, semakin ringan berkata, “Aku masih ingin belajar.”

Di bilahnya mengalir Pamor Wengkon Isen. Dalam tradisi perkerisan, wengkon adalah bingkai, batas yang menjaga isi agar tetap utuh. Aku pun bertanya pada diriku sendiri, berapa banyak batas yang sebenarnya perlu kujaga? Bukan untuk membatasi dunia, tetapi agar kesadaran tidak hanyut oleh pujian, ketakutan, amarah, atau keinginan yang tak pernah selesai.

Keris ini lahir di era Mataram, masa ketika pusaka tidak hanya dibuat untuk menang dalam peperangan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kemenangan terbesar adalah mampu menaklukkan diri sendiri.

Mungkin itulah sebabnya malam ini aku tidak merasa sedang memegang sebuah benda kuno. Aku sedang bercermin. Sebab setiap gores pamor, setiap bekas tempaan, seakan berbisik bahwa manusia pun ditempa dengan cara yang sama: dipanaskan oleh cobaan, dipukul oleh kehidupan, lalu perlahan menemukan bentuknya.

Dan mungkin… perjalanan ini bukan tentang menjadi semakin hebat, melainkan menjadi semakin jujur kepada diri sendiri.

> “Yang kupandangi bukan sekadar sebilah besi, tetapi jejak manusia yang pernah hidup sebelumku.”

Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan

Komentar
Loading...