Renungan Pagi — Hobi sebagai Jalan Pulang
Hobi adalah pintu kecil tempat kesadaran belajar mengenali dirinya.
REKAYOREK. ID – Pagi ini aku merenung tentang sesuatu yang sederhana: hobi.
Dulu mungkin aku mengira hobi hanyalah kesenangan. Sesuatu yang dilakukan ketika ada waktu luang. Sesuatu yang membuat hidup tidak terlalu kering. Tetapi semakin jauh perjalanan batin ini, semakin aku merasa bahwa hobi bukan sekadar hiburan.
Hobi adalah pintu kecil tempat kesadaran belajar mengenali dirinya.
Ada orang menemukan dirinya dalam musik. Ada yang dalam tanaman. Ada yang dalam hewan. Ada yang dalam perjalanan. Ada yang dalam olahraga. Ada pula yang menemukan keheningan batinnya ketika memandang sebilah keris, membaca pamor, menyentuh warangka, dan merasakan jejak tangan manusia yang pernah hidup jauh sebelum dirinya.
Mungkin itulah yang membedakan manusia.
Kita tidak hanya hidup untuk makan, tidur, bertahan, dan berkembang biak. Di dalam diri manusia ada ruang aneh yang selalu ingin menyentuh makna. Kita bisa mencintai sesuatu yang tidak langsung berguna. Kita bisa menekuni sesuatu yang tidak selalu menghasilkan. Kita bisa berlama-lama pada satu benda, satu nada, satu warna, satu gerakan, lalu dari sana merasa lebih dekat dengan diri sendiri.
Barangkali hobi adalah cara semesta berbicara secara pribadi kepada tiap manusia.
Bukan semua orang akan memahami mengapa seseorang mencintai keris. Bukan semua orang akan mengerti mengapa seseorang rela menghabiskan waktu untuk mempelajari pamor, dhapur, tangguh, sejarah, dan filosofinya. Tetapi mungkin memang tidak semua cinta perlu dijelaskan.
Sebab yang paling dalam dari hobi bukanlah bendanya.
Bukan kerisnya.
Bukan koleksinya.
Bukan pengakuannya.
Melainkan keadaan batin yang muncul ketika kita hadir sepenuhnya bersamanya.
Saat itulah hobi berubah menjadi meditasi.
Saat tangan memegang pusaka, mata membaca lekuk bilah, dan hati diam tanpa banyak tuntutan, sebenarnya kita sedang belajar hadir. Tidak mengejar masa depan. Tidak menyesali masa lalu. Hanya ada aku, nafas, benda yang kupandangi, dan kesunyian yang perlahan membuka pintunya.
Dalam kesadaran oneness, mungkin tidak ada pemisahan antara yang melihat dan yang dilihat. Keris yang kupandangi, empu yang menempanya, tanah yang melahirkan besinya, api yang membakarnya, air yang mendinginkannya, leluhur yang merawatnya, dan aku yang hari ini memegangnya — semuanya berada dalam satu tarikan panjang kehidupan.
Maka hobi yang dijalani dengan sadar bukan lagi pelarian.
Ia menjadi jalan pulang.
Pulang dari keramaian menuju keheningan.
Pulang dari kepemilikan menuju penghormatan.
Pulang dari “aku punya” menuju “aku dititipi”.
Pulang dari kesenangan menuju kesadaran.
Pagi ini aku belajar, mungkin manusia diberi hobi bukan hanya agar hidupnya lebih menyenangkan, tetapi agar ia memiliki pintu-pintu kecil untuk menyadari kebesaran hidup.
Dan mungkin kesempurnaan bukan berarti berhenti mencintai hal-hal duniawi.
Mungkin kesempurnaan adalah ketika kita tetap mencintai, tetapi tidak lagi menggenggam.
Tetap merawat, tetapi tidak merasa memiliki.
Tetap menikmati, tetapi tidak kehilangan diri di dalamnya.
Sebab pada akhirnya, apa pun yang kita cintai dengan kesadaran akan membawa kita kembali kepada sumber yang sama.
Apakah aku sedang memiliki hobiku,
atau hobiku sedang membimbingku mengenal diriku sendiri?
Mungkin hobi bukan sekadar kesenangan, tetapi cara kesadaran berhenti sejenak untuk mengenali dirinya melalui apa yang dicintainya.”
Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan