Diary Malam : Dholog, Lima Luk, dan Butiran Padi
Kesadaran ternyata bukan memilih satu karakter yang paling hebat, melainkan mengetahui kapan setiap karakter itu harus hadir dalam kehidupan.
REKAYOREK.ID – Malam ini aku kembali memandangi sebilah keris tua.
Bilahnya tidak berteriak tentang kemewahan. Tidak pula memamerkan kemegahan. Namun semakin lama kupandangi, semakin terasa bahwa para empu dahulu ternyata tidak sekadar menempa besi. Mereka sedang menitipkan sebuah cara memandang kehidupan.
Dhapurnya bernama Dholog.
Konon, Dholog dikaitkan dengan pohon jati. Bukan pohon yang tumbuh paling cepat, tetapi pohon yang mengajarkan keteguhan. Ia rela melewati musim demi musim, menggugurkan daun ketika waktunya, lalu kembali bertunas tanpa pernah kehilangan jati dirinya.
Aku bertanya dalam hati…
Bukankah manusia pun sering kehilangan dirinya hanya karena ingin menjadi seperti orang lain?
Lalu pandanganku mengikuti lima luk pada bilah itu.
Entah mengapa, malam ini lima luk itu mengingatkanku pada Pandawa.
Ada saatnya aku harus jujur seperti Yudhistira.
Ada saatnya aku harus berani seperti Bima.
Ada saatnya aku harus tenang dan fokus seperti Arjuna.
Ada saatnya aku harus lembut seperti Nakula.
Dan ada saatnya aku harus bijaksana seperti Sadewa.
Kesadaran ternyata bukan memilih satu karakter yang paling hebat, melainkan mengetahui kapan setiap karakter itu harus hadir dalam kehidupan.
Kemudian kulihat pamornya…
Wos Wutah.
Butiran-butiran putih yang seolah bertebaran di sepanjang bilah.
Aku teringat bulir padi.
Semakin berisi, semakin ia menunduk.
Semakin memberi kehidupan, semakin ia tidak sibuk menunjukkan dirinya.
Mungkin itulah tujuan dari seluruh perjalanan manusia.
Bukan sekadar menemukan jati diri seperti pohon jati.
Bukan sekadar menempa lima kebajikan dalam dirinya.
Tetapi akhirnya menjadi seperti bulir padi… hadir dengan sederhana, namun kehadirannya mampu menghidupi banyak kehidupan.
Barangkali para empu Mataram telah lama memahami sesuatu yang sering terlupakan di zaman ini.
Bahwa manusia yang paling matang bukanlah yang paling banyak dipuji.
Melainkan yang keberadaannya membuat dunia di sekitarnya menjadi sedikit lebih damai.
Malam ini aku menutup hari dengan satu kesadaran kecil.
Mungkin hidup bukan tentang menjadi sebilah keris yang paling indah dipajang.
Melainkan menjadi sebilah keris yang diam-diam mengingatkan pemiliknya untuk terus menempa dirinya, hingga hidupnya sendiri berubah menjadi berkah.
Pertanyaan sunyi…
“Ketika usiaku semakin bertambah, apakah aku hanya semakin dikenal… atau sungguh semakin bermanfaat?”
Jati diri adalah awal perjalanan, karakter adalah prosesnya, dan manfaat bagi sesama adalah puncak dari kehidupan.”
Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan