Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Renungan Pagi, Warangka Kesadaran

Bukan karena takut menghadapi dunia, melainkan karena aku mulai memahami bahwa tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

REKAYOREK. ID  – Pagi ini aku kembali memandangi sebilah keris yang berdiam di dalam warangkanya.

Aku teringat satu falsafah Jawa: “Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

Sering kali kalimat itu dipahami sebagai ajakan untuk bekerja tanpa mengharap pujian. Namun semakin lama aku merenung, semakin terasa bahwa maknanya jauh lebih dalam.

Yang harus menjadi sepi bukan hanya pamrih kepada manusia, tetapi juga pamrih kepada diri sendiri.

Keinginan untuk diakui. Keinginan untuk selalu benar. Keinginan untuk menang dalam setiap percakapan. Bahkan keinginan untuk terlihat lebih spiritual daripada orang lain.

Semuanya adalah bilah yang terlalu sering terhunus.

Keris yang terus berada di luar warangka akan kehilangan kehormatannya. Bukan karena bilahnya tumpul, melainkan karena ia kehilangan makna kapan harus hadir dan kapan harus diam.

Begitu pula kesadaran.

Orang yang benar-benar mengenal dirinya tidak sibuk menunjukkan kedalaman dirinya. Ia seperti warangka yang tenang: melindungi ketajaman tanpa memamerkannya.

Mungkin itulah sebabnya para leluhur begitu menghormati warangka. Ia bukan sekadar sarung kayu, tetapi pengingat bahwa kekuatan selalu membutuhkan wadah yang bernama kebijaksanaan.

Dalam keheningan itulah aku mulai melihat bahwa batas antara “aku” dan “yang lain” perlahan menjadi tipis.

Jika semua kehidupan berasal dari sumber yang sama, untuk apa aku terus menghunuskan ego kepada bagian lain dari diriku sendiri?

Barangkali oneness bukanlah pengalaman yang spektakuler. Ia lahir ketika kita berhenti merasa harus lebih tinggi daripada siapa pun. Saat itu, kita tidak kehilangan jati diri. Kita justru menemukan tempat yang tepat bagi diri kita.

Hari ini aku ingin belajar menjadi seperti keris yang tetap tajam, tetapi memilih berdiam di dalam warangkanya.

Bukan karena takut menghadapi dunia, melainkan karena aku mulai memahami bahwa tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

Jika hari ini tidak ada lagi yang perlu kubuktikan kepada siapa pun, siapakah aku yang sebenarnya?

“Warangka menjaga bilah, sebagaimana keheningan menjaga kesadaran. Semakin sedikit yang ingin kita buktikan, semakin dekat kita pada diri yang sejati.”

Oleh:  Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan

Komentar
Loading...