Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Surabaya Mampu Hadirkan Aksara Lokal di Era Global dan Dunia Digital

REKAYOREK.ID Aksara Jawa, salah satu aksara Nusantara, menjadi tanggung jawab kita bersama karena menjadi identitas bangsa. Sesuai undang undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, keberadaannya dilindungi sebagaimana tersebut dalam pasal 5 tentang 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

Sejak September 2023, Aksara Jawa mulai kembali ke bumi Surabaya. Secara formal tertuang dalam Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah Kota Surabaya nomor: 000/20389/436.7.17/2023 tertanggal 19 September 2023 atas nama Walikota Surabaya tentang penggunaan Aksara Jawa di lingkungan pemerintah kota Surabaya.

Lalu secara faktual, Aksara Jawa mulai dipasang di atap gedung Balai Kota pada 24 September 2023 yang secara resmi menandai digunakannya Aksara Jawa di perkantoran di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

Kini di bulan Mei 2024 di saat Kota Surabaya dalam rangkaian acara menyambut HUT Kota Surabaya ke 731, Aksara Jawa sudah menghiasi seluruh kantor kantor kelurahan, kecamatan, dinas, bagian, Balai Kota dan DPRD Kota Surabaya. Ya, Aksara Jawa mewarnai Hari Jadi Kota Surabaya ke 731. Ini pertama kali dalam sejarah!

“Kota Surabaya menjadi wadah dimana tradisi bertemu modernisasi, dan keduanya bisa berdampingan bagai tut piano yang berwarna hitam dan putih. Harmoni” kata Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni, sebuah komunitas budaya yang fokus pada Aksara Jawa.

Rabu siang (15/5/24) Nanang Purwono beserta tim Rajapatni, yang terdiri dari Novita (sekretaris) dan Christ Wibisono (sineas dan sutradara film) memenuhi undangan Wali Kota Surabaya untuk mendiskusikan Aksara Jawa ke depan. Tim Rajapatni diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Ikhsan, mewakili Wali kota Surabaya di ruang kerjanya di Balai Kota Surabaya.

Turut mendampingi Sekda Ikhsan adalah Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, beserta staf. Turut mendampingi lainnya adalah staf dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar).

Kedatangan Tim Puri Aksara Rajapatni tidak lain adalah menyampaikan apa yang sudah dilakukan, sedang dilakukan dan akan dilakukan terkait dengan upaya pelestarian dan pemajuan Aksara Jawa.

“Terima kasih pak Sekda Ikhsan, bu Kadis Mia dan staf pak Anang serta pak Totok, atas fasilitasi tempat untuk kegiatan Sinau Aksara Jawa di Museum Pendidikan dan perpustakaan di komplek museum”, buka Nanang dalam mengawali pembicaraan.

“Surabaya ini hebat karena mampu mengembalikan Aksara lokal di era global dan dunia digital”, sambung Nanang.

“Ini semua karena Njenengan (Rajapatni). Kalau gak didorong dorong gak bakal bisa begini”, respon Ikhsan kepada pernyataan Nanang.

“Wah ini semua justru karena Surat Edaran Bapak”, saut Nanang kepada Sekda.

Itulah kolaborasi, gotong royong, statement yang sering dikatakan oleh Walikota Eri Cahyadi. Bahwa maju dan tidaknya sebuah kota bukan karena walikotanya, tapi semata mata karena peran warganya.

Selain melaporkan kegiatan kegiatan ke Aksara Jawaban, Nanang juga menyampaikan rencana kegiatan ke depan. Diantaranya adalah peringatan Hari Aksara Internasional bersama Wisma Jerman dan agenda pembuatan film dokumenter bertema Aksara Jawa.

Produksi film dokumenter ini, Puri Aksara Rajapatni akan bekerja sama dengan tokoh tokoh dan ahli Aksara Jawa, Filologi dan sineas di Yogyakarta dan Jakarta.

Christ Wibisono, sineas Surabaya yang menjadi tim periset film Saur Sepuh serta film film dokumenter Pariwisata Indonesia, yang kini bersama Puri Aksara Rajapatni, akan memandegani produksi film dokumenter Aksara Jawa, yang untuk sementara diberi nama “Javagraph”.

“Aksara Jawa, termasuk Jawa Kuna, pada eranya pernah menjelajah dunia. Ini menunjukkan kehebatan peradaban kala itu”, jelas Christ yang menggambarkan kebesaran zaman itu.

Fakta kebesaran masa lalu inilah yang mendorong Christ untuk mendokumentasikan peradaban Nusantara, Aksara Jawa. Rencana pembuatan film dan Peringatan Hari Aksara Sedunia adalah langkah berani seperti halnya Surabaya menghadirkan Aksara Jawa di era global dan dunia digital.

“Digitalisasi tidak usah dihindari hanya karena Aksara Jawa distigma tradisional. Tapi digitalisasi harus dihampiri karena Aksara Jawa itu bisa adaptif, tergantung kita yang bermain peran”, jelas Nanang kepada tim usai bertemu tim Pemerintah Kota Surabaya.

Disampaikan oleh Nanang bahwa apresiasi kepada pemerintah Kota Surabaya terkait dengan penggunaan Aksara Jawa di Surabaya sangat membanggakan. Salah satu pujian itu bahkan datang dari Yogyakarta.

“Karenanya pada momen bertemu pak Sekda, saya sampaikan bila ada slot waktu, di momen apa dan kapan dalam rangka peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke 731 ini, selanjutnya akan saya komunikasikan ke pihak pemberi apresiasi”, jelas Nanang kepada Sekda Ikhsan.

Ikhsan menyadari akan kehebatan kota Surabaya, sehingga slogan kota pun “Surabaya Hebat”.

“Surabaya ini kan Kota modern, masyarakatnya majemuk, tapi Aksara Jawa dapat tumbuh dalam keberagaman itu”, kata Ikhsan.

Kehadiran Aksara Jawa di Surabaya disambut ceria oleh Novita, sekretaris ꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Rajapatni Karena ia berkeinginan bahwa Aksara Jawa menjadi sumber inspirasi dan kreativitas seni dan craft yang ekonomis.

“Iya Pak, Aksara Jawa bisa mendorong hadirnya produk dan atmosfer ekonomi kreatif di Surabaya”, tambah Novita, sekretaris Puri Aksara Rajapatni.

Sementara itu, dalam rangka mendukung revitalisasi kawasan Kota Eropa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni mengusulkan pembuatan papan nama jalan yang menggunakan Aksara Jawa, Latin, Bahasa Indonesia dan Belanda. Seperti apa wujudnya?@Tim PAR

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...