Dunia Versi Anak-Anak Tersaji dalam Pameran Fotografi “What We See”
Melalui Mata dan Lensa Anak-anak
REKAYOREK.ID — Orang dewasa sering merasa telah mengenal dunia dengan baik. Namun, pameran fotografi “What We See” di Wisma Jerman Surabaya justru membuktikan bahwa ada banyak hal yang selama ini luput dari perhatian.
Melalui mata dan lensa anak-anak, sudut-sudut sederhana yang biasa dilewati setiap hari berubah menjadi cerita yang menarik untuk disimak. Sebanyak 16 siswa anggota Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo menghadirkan karya-karya yang lahir dari rasa ingin tahu, kepekaan, dan keberanian mereka dalam melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Pameran yang berlangsung pada 7 hingga 9 Juni 2026 tersebut menampilkan puluhan foto hasil proses belajar yang telah dijalani para siswa selama hampir tiga tahun. Beragam objek menjadi perhatian para fotografer cilik, mulai dari ekspresi teman-teman mereka, permainan cahaya, aktivitas sehari-hari, hingga detail-detail kecil yang sering dianggap biasa.

Kurator pameran, Idealita Ismanto, mengatakan bahwa seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil seleksi dari arsip pembelajaran para siswa selama mengikuti klub fotografi.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa fotografi bukanlah ruang eksklusif bagi kalangan profesional atau orang dewasa semata. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak pun mampu menghasilkan karya yang memiliki cerita dan makna tersendiri.
Memasuki ruang pameran, pengunjung akan menemukan beragam sudut pandang yang unik. Ada foto yang menangkap tatapan polos seorang anak dari balik lubang tembok, ada pula karya-karya eksperimental yang memanfaatkan gerakan dan kecepatan rana lambat hingga menghasilkan visual yang tak biasa.
Kepala SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Ririn Indriyanti, menyebut pameran ini sebagai ruang ekspresi yang memperlihatkan kemampuan anak-anak dalam mengolah pengamatan menjadi sebuah karya visual.

Menurutnya, setiap foto yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis menggunakan kamera, tetapi juga menggambarkan kreativitas, keberanian, dan cara berpikir para siswa dalam memaknai lingkungan sekitar.
Sementara itu, Management Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber, mengaku terkesan dengan perspektif yang ditawarkan para peserta pameran. Ia menilai karya-karya tersebut mampu mengajak orang dewasa keluar dari cara pandang yang selama ini dianggap lazim.
“Kadang kita terlalu terbiasa melihat sesuatu dari sudut yang sama. Anak-anak justru mengajarkan bahwa hal sederhana dapat terlihat luar biasa jika dipandang dengan rasa ingin tahu,” ujarnya.
Keseruan mengikuti klub fotografi juga dirasakan oleh salah satu peserta pameran, Celine Justopo. Siswi tersebut mengaku semakin percaya diri setelah belajar memotret dan memahami berbagai teknik fotografi.
Baginya, fotografi bukan hanya aktivitas yang menyenangkan, tetapi juga memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, kemampuan yang diperolehnya kini digunakan untuk membantu memotret produk usaha milik keluarganya.
Selain menampilkan karya visual, pameran “What We See” juga menghadirkan sesi diskusi bersama pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Diskusi tersebut membahas proses belajar fotografi serta berbagai tantangan yang kerap dihadapi dalam perjalanan berkarya.
Lebih dari sekadar ajang memamerkan hasil belajar, “What We See” menjadi ruang yang mempertemukan dunia pendidikan, seni, dan masyarakat. Pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal usia, serta mengingatkan bahwa cara pandang anak-anak sering kali menyimpan kejujuran dan kesegaran yang sulit ditemukan dalam perspektif orang dewasa.
Di balik foto-foto yang dipajang, tersimpan pesan sederhana: dunia selalu memiliki cerita baru bagi mereka yang mau melihatnya dengan rasa ingin tahu.@peq