Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Goresan Carakan di Tanah Giri: Jejak Literasi dan Peradaban Kuno Gresik

REKAYOREK.ID Goresan aksara memiliki daya pikat tersendiri. Ketika dituangkan atau direlungi maknanya, tiap lambang tulisan sanggup menjembatani gagasan serta rasa yang kerap kali sulit terucap secara lisan.

​Daya tarik tersebut makin kuat bila menelisik aksara daerah, seperti aksara Jawa. Warisan leluhur yang juga dikenal sebagai Carakan ini bukan sekadar alat komunikasi tulis, melainkan sarat akan falsafah hidup. Tiap susunannya menyimpan riwayat tentang perjalanan usia, kesetiaan, hingga suratan takdir.

​Di kawasan Gresik, keberadaan aksara Jawa menjadi sarana vital dalam membongkar tabir sejarah. Siapa pun yang terampil membacanya akan dapat merangkai kembali kisah-kisah masa lampau yang tersimpan di tanah ini.

​Seluruh rekam jejak tertulis yang ditemukan di Gresik memegang peranan kunci untuk membedah masa kejayaan wilayah tersebut—mulai dari zaman keemasan Kerajaan Majapahit hingga fase awal berseminya dakwah Islam. Bukti peninggalan ini menegaskan kedudukan strategis Gresik sebagai salah satu pusat peradaban utama di pesisir utara Jawa.

​Adapun peninggalan yang tergolong lebih muda dapat dijumpai berupa pahatan aksara pada nisan di kompleks pemakaman Bupati Gresik Poesponegoro, tepatnya di Gapuro Sukolilo. Di dalam kompleks makam tersebut, bersemayam pula para tokoh legendaris seperti Tumenggung Ario Negoro, Kyai Tumenggung Djojodiredjo, Kyai Tumenggung Soeronegoro, serta jajaran kerabatnya.

​Jejak aksara Jawa tidak hanya tertambat pada prasasti batu nisan. Di dalam Masjid Giri Kedaton, goresan tulisan kuno ini juga terpahat pada umpak-umpak (tataan batu) saka guru.

Menariknya, hingga saat ini belum ada yang berhasil mengkaji maupun mengartikan makna tulisan di umpak tersebut. Hal ini dikonfirmasi oleh Muhammad Ma’arif, seorang pengurus takmir masjid yang juga aktif sebagai pegiat budaya asal Kampung Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik.

​Masih banyak rekam jejak serupa yang tersebar di wilayah Gresik. Kondisi ini menempatkan Gresik sebagai perpustakaan hidup (living library) berbasis in-situ.

Berbeda dengan konsep perpustakaan umum, pendekatan living library in-situ memungkinkan pemeliharaan warisan histori, tradisi, dan ekologi agar tetap menyatu serta dipelajari secara langsung di habitat aslinya.

​Buku baru terbitan Puri Rajapatni dan Musee ID Konsultan Museum. Foto: nng

 

​Akan sangat disayangkan jika bukti autentik aksara Jawa ini dibiarkan berlalu tanpa dipahami oleh masyarakat lokal. Padahal, pada era lampau, para ulama dan tokoh agama di Gresik secara aktif mengandalkan aksara Jawa sebagai media literasi utama mereka.

​Lantas, pesan apa saja yang tersimpan di dalam berbagai artefak maupun manuskrip yang masih tersisa? Aksara Jawa sesungguhnya merupakan instrumen yang digunakan generasi terdahulu di Gresik untuk mendokumentasikan nilai ajaran, kebiasaan adat, khazanah ilmu, serta ragam data sejarah.

Pemajuan literasi aksara kuno ini mendesak dilakukan agar generasi muda Gresik tidak kehilangan akar budayanya dan tetap terhubung dengan akar peradaban masa lalu, termasuk jejak kejayaan Kerajaan Giri Kedaton.

​Hadirnya buku “Peradaban Aksara Jawa di Kerajaan Giri Kedaton” menjadi sarana pembuka untuk membedah fakta-fakta historis serta kebudayaan Gresik.

Karya ini merupakan buah penelusuran nyata dari sebagian kecil peninggalan masa lalu Gresik, di mana masih banyak rekam jejak lain yang menanti untuk diteliti lebih dalam.

​Buku “Peradaban Aksara Jawa di Kerajaan Giri Kedaton” menjadi gerbang krusial dalam memahami fondasi kebudayaan Islam di wilayah Gresik. Warisan peradaban yang ditinggalkan oleh Sunan Giri amatlah melimpah, mencakup naskah-naskah kuno, struktur pemerintahan, hingga proses akulturasi sastra yang jejaknya masih bisa kita lacak hingga hari ini.

​Proses penerbitan buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Puri Aksara Rajapatni bersama Musee ID, sebuah lembaga konsultan museum yang berkantor di Jakarta.

​Selain diterbitkan bersama Musee ID, karya setebal 125 halaman ini juga mendapat dukungan penuh dari budayawan lokal, Muhamad Ma’arif. Di dalamnya terangkum 19 artikel menarik yang disusun berdasarkan hasil investigasi dan pencatatan langsung di lapangan. @nang

Komentar
Loading...