Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

#KaburAjaDulu: Cerminan Keresahan Mahasiswa dan Tantangan Masa Depan Indonesia

Penulis: Mahasiswa Program Studi: S1-Statistika Universitas Airlangga*

Di tengah maraknya dunia digital, tagar #KaburAjaDulu muncul dan langsung ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia. Bukan sekadar tren sesaat, tagar ini mencerminkan keresahan yang dirasakan banyak anak muda, khususnya di kalangan mahasiswa yang merasa tertahan dalam sistem yang kerap kali tidak berpihak pada masa depan mereka.

Bagi banyak mahasiswa, tagar ini bukan tentang lari dari tanggung jawab atau sekadar ikut-ikutan tren. Ia adalah bentuk refleksi dari rasa lelah, bingung, bahkan frustrasi menghadapi realita yang makin tak menentu. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, terbatasnya lapangan kerja yang layak, hingga kebijakan yang seringkali terasa jauh dari kebutuhan generasi muda. Di tengah semua itu, wajar bila muncul pertanyaan: apakah masa depan di Indonesia memang layak diperjuangkan?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga mencoba membedah lebih jauh kampanye ini. Hasilnya cukup mengejutkan:57% mahasiswa menyatakan dukungan terhadap kampanye #KaburAjaDulu. Ini bukan angka kecil, dan tentu bukan pula tanpa alasan. Banyak mahasiswa memandang bahwa mengejar pendidikan atau karier di luar negeri adalah solusi rasional untuk menghindari jalan buntu yang mereka rasakan di dalam negeri.

Tren ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dalam konteks persaingan kerja yang makin kejam, tuntutan sosial yang tinggi, serta sistem yang belum mampu menjamin hak dasar secara merata, termasuk jaminan kesehatan, akses pendidikan, dan kebebasan berekspresi. Ketika semua itu terasa menyesakkan, opsi untuk “kabur” menjadi masuk akal, bukan karena kurang nasionalis, tapi karena ingin bertahan dan berkembang. Ke Australia atau Malaysia, misalnya, terdapat banyak peluang yang lebih terbuka bagi mahasiswa Indonesia untuk mengejar pendidikan dan jaminan kesehatan yang lebih berkualitas, lapangan pekerjaan yang luas, dan kebebasan dalam mengeluarkan ekspresi.

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Indonesia kini menempati posisi kedua setelah India di kawasan ASEAN dalam hal jumlah mahasiswa yang menempuh studi ke luar negeri. Australia dan Malaysia menjadi pilihan utama, menunjukkan bahwa banyak anak muda Indonesia melihat peluang yang lebih terbuka di sana. Fenomena ini seharusnya tidak dianggap sepele. Kampanye #KaburAjaDulu bukan sekadar bentuk protes spontan, tapi merupakan cerminan dari keresahan yang nyata terhadap situasi sosial dan ekonomi di dalam negeri. Pertanyaannya sekarang: bagaimana pemerintah merespons hal ini? Sudah saatnya ada kebijakan yang benar-benar berpihak pada masa depan generasi muda, mulai dari memperbaiki kualitas pendidikan, membuka lebih banyak akses kerja yang layak, hingga menjamin keamanan sosial yang membuat generasi muda, khususnya mahasiswa merasa aman untuk bertahan. Jika semua itu bisa diwujudkan, mungkin banyak dari mereka akan memilih tetap tinggal dan membangun Indonesia, bukan mencari alternatif dengan pergi ke luar negeri.

Dalam penelitian yang sama ditemukan pula hubungan signifikan antara angkatan mahasiswa dengan tingkat pesimisme terhadap dunia kerja. Mahasiswa angkatan yang lebih muda cenderung merasa bahwa peluang mereka di pasar kerja Indonesia lebih kecil dibandingkan generasi sebelumnya. meskipun secara statistik, tidak ditemukan hubungan signifikan terkait dengan aspek pendidikan, jaminan kesehatan, dan kebebasan berekspresi.

Untuk menjawab fenomena ini, pemerintah perlu lebih serius memberdayakan anak muda lewat kebijakan yang menyentuh akar persoalan, mulai dari perbaikan sistem pendidikan hingga penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan layak. Ruang berekspresi bagi generasi muda juga perlu diperluas, agar mereka merasa suaranya didengar dan perannya diakui dalam membangun negara ini.

Lembaga pendidikan juga tak bisa tinggal diam. Kurikulum harus terus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan nyata dunia kerja. Jangan sampai materi yang diajarkan di kelas justru menjauhkan mahasiswa dari realitas yang akan mereka hadapi setelah lulus. Di sisi lain, sektor swasta punya peran penting dengan membuka ruang kerja yang inklusif dan menyediakan pelatihan yang membuat lulusan siap bersaing, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di kancah global.

Tren #KaburAjaDulu seharusnya jadi alarm, bukan sekadar fenomena viral yang dibiarkan lewat begitu saja. Ini adalah ajakan untuk introspeksi bersama, bahwa jika kita ingin anak muda tetap tinggal, bertumbuh, dan berkontribusi di Indonesia, maka negara ini harus jadi tempat yang layak diperjuangkan. Butuh kolaborasi nyata antara pemerintah, kampus, dan dunia usaha agar generasi muda tak lagi merasa satu-satunya jalan adalah pergi.

*) Penulis: Azka Dynina, Nazilatur Rokhmah, Timothy Christian A., Fernanda Rizky H.

Komentar
Loading...