Oleh: Amang Mawardi
PERMISI, kali ini review saya agak panjang yang membahas postingan esai ‘Hisnindarsyah Dokter’ di Facebook.
Untuk memahami esai yang diposting tanggal 9 April 2026 itu, mesti didahului esai yang ditulis pada 6 April 2025 di sela tugas doktor yang dokter ini di tepi Pasifik Barat Laut, Amerika Serikat: Oregeon.
Dengan demikian, pembaca diharap akan lebih bisa memahami maksud yang dikandung dari esai yang diposting pada 9 April 2026 itu. Artinya esai ini ditulis pada 6 April 2026, tetapi baru diposting tiga hari kemudian: 9 April 2026.
Inilah deskripsi postingan yang diberi judul:
Akhirnya Inilah Rumah Kita : Indonesia
HSD
Di Eropa, pagi hari berjalan begitu tertata dengan jadwal bus yang sangat presisi.
Budaya antre diimbangi langkah tergesa menyisir pagi.
Berbeda dengan di sini. Pagi disambut oleh riuhnya anak-anak sekolah yang menyusuri gang, tukang sayur keliling yang dikerubungi emak-emak sambil berghibah tentang harga daging, ayam, dan cabe yang mulai naik pelan, tetapi pasti. Hingga sapaan basa-basi tetangga, “Rapi amat … mau ke mana, lo? Duh mobil baru yak…,” yang selalu sukses bikin kita senyum dan dongkol sendiri.
Di sana, transaksi apa pun serba praktis : tinggal tap kartu.
Di sini? Kita masih punya _kalimat sakti_: “Bu, ngutang dulu ya, besok dibayar.”
Hebatnya, si ibu warung dengan santai menjawab, “Iya, bawa aja …”
Coba bayangkan, mana ada cerita di Eropa ngutang mie instan dibayar pas gajian ?
Soal sarapan, orang di sana terbiasa makan sandwich dingin sambil berjalan terburu-buru.
Di sini, kita dimanjakan dengan nasi uduk hangat lengkap dengan sambal, kerupuk, dan teh manis. Duduk berlama-lama pun tidak akan diusir.
Bahkan, nongkrong di warkop dengan modal segelas kopi saja sudah bisa jadi sesi obrolan panjang—membahas kerasnya hidup, kelakuan pejabat, sampai kenangan pada mantan.
Terkadang, abang warkop malah memberi gorengan gratis karena kasihan melihat pelanggannya dari tadi cuma ngopi doang.
Secara teori ekonomi, ini jelas tidak masuk akal. Tetapi secara solidaritas? Kita ini negara kaya dan harusnya bisa gratisan. Masak kalah sama Iran.
Di Eropa , tidak ada gema azan yang bersahut-sahutan. Di sini? Mulai dari rest area jalan tol, gedung perkantoran megah, hingga di ujung gang buntu, musala selalu bertebaran, dan bebas kita pilih: mau salat di mana. Hebatnya, banyak yang milih nongkrong, cangkruk, nyulut rokok dan ngopi ketimbang melangkah ke musala yang tak lebih sepuluh langkah tanpa lari.
Dan satu hal lagi yang agaknya mustahil Anda akan temukan dikotomi :
Tempat bordil yang nyempil di dalam perumahan, mirip lokasi tukang jahit yang letaknya tersembunyi di jalanan kecil Depok. Kalau abang ojol kebingungan, cukup berikan patokan sakti: “Rumah cat hijau, pagar putih,” seketika abang ojol pun hadir di depan mata.
Di Eropa, mangkalnya terang-terangan, di pinggir jalan — di kawasan yang sudah ditentukan.
Selalu muncul di atas pukul 10.00. Tandanya ada tulisan tergantung di leher : 50 minute only 25 USD.
Dan kita nemunya cuma di aplikasi ijo…wkwkwk…
Negara ini berdiri bukan karena sistemnya yang tanpa cela, melainkan berkat para pahlawan yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan yang bahkan belum sempat mereka cicipi.
Mereka tidak membuang waktu berdebat di kolom komentar; mereka langsung turun bertaruh nyawa di medan perang.
Sekarang, kita tinggal menikmati kemerdekaan itu—nyaman menatap layar HP sambil menyeruput kopi yang dibayar tarsok, ‘ntar besok.
Pada akhirnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan negeri ini, kita semua akan tiba di satu titik. Titik di mana kita tersenyum sendiri dan menyadari: “Seberisik apa pun Indonesia, ini adalah : RUMAH KITA.”
Portland Old Twon Oregeon 06/04/2026.
***
Nah, sekarang mari kita telaah apa sesungguhnya maksud yang
dikandung dari esai yang kadar humornya cukup tinggi itu. Kelihatannya enteng. Padahal dalam.
Sekilas ini seperti curhatan ringan. Tetapi kalau dibedah, isinya satir cinta. Bukan cinta asmara, melainkan cinta universal yang menjunjung tinggi etika dan moral. Sederhananya, ini tulisan marah-marah sambil sayang.
Dari segi gaya, tulisan ini masuk ke ‘esai reflektif dengan sentuhan satir hangat’. Penulis terus-menerus memainkan kontras “Di Sana dan Di Sini”. Eropa digambarkan serba tertata, presisi, dan dingin. Sementara Indonesia diilustrasikan riuh, acak-acakan, tetapi hangat dan manusiawi.
Bahasanya juga akrab. Ada kata “emak-emak berghibah”, “cangkruk”, sampai “tarsok”. Rasanya seperti sedang ngobrol di warkop. Ditambah humor-humor kecil seperti adegan ngutang mie instan, patokan “rumah cat hijau pagar putih”, dan “bordil nyempil”. Lucu, tapi punchline-nya nusuk.
Pesan utamanya sebetulnya cuma satu dan diletakkan di akhir, “Seberisik apa pun Indonesia, ini adalah : RUMAH KITA.”
Artikel ini ingin bilang bahwa secara sistem kita memang berantakan. Tapi dalam hal rasa, solidaritas, dan budaya, kita kaya. Jadi kritik di sini bukan untuk merendahkan. Ini adalah bentuk penyadaran agar kita tidak hanya mengeluh. Karena bagaimanapun juga, ini rumah kita.
Dan kontras yang dibangun penulis cukup tajam. Di Eropa ada bus yang tepat waktu, orang berjalan tergesa, semua serba tap kartu, makan sandwich dingin sambil jalan, dan transaksinya rasional. Tidak ada azan. Pelaku bordil bahkan mangkal terang-terangan. Berbanding terbalik dengan Indonesia.
Di sini ada anak sekolah, tukang sayur, dan emak-emak berghibah. Ada kalimat “Ngutang dulu ya, Bu”. Ada nasi uduk dan teh manis yang bisa dinikmati sambil duduk berlama-lama. Ada gorengan gratis karena ‘kasihan’. Azan bersahutan, tetapi musala yang jaraknya 10 langkah malah sepi. Tukang jahit pun nyempil dan patokannya “rumah cat hijau”.
Kontras ini bukan untuk mengatakan Eropa lebih baik. Ini hanya sekadar menunjukkan bahwa kita memang beda DNA. Kita tidak seefisien mereka, tapi kita lebih manusiawi.
Di dalam kehangatan itu, penulis juga menyelipkan kritik halus.
Pertama, soal ekonomi dan solidaritas. Secara teori ekonomi, “ngutang boleh” dan “gorengan gratis” itu tidak masuk akal. Tapi secara solidaritas, kita kaya. Ini menyindir logika kapitalis.
Kedua, soal agama dan kelakuan. Azan ada di mana-mana, musala dekat, tapi orang lebih memilih nongkrong. Ini menyindir kemunafikan sosial.
Ketiga, soal sejarah dan sekarang. Dulu para pahlawan taruhan nyawa. Sekarang kita hanya “nyeruput kopi bayar tarsok”. Ini menyindir generasi rebahan. Generasi leha-leha.
Kekuatan tulisan ini ada karena penulis tidak jatuh ke dalam dua lubang. Dia tidak meromantisasi berlebihan. Penulis tetap mengakui bahwa kita ribut, dan –boleh jadi korup– sekaligus tidak tertib. Tetapi penulis tersebut juga tidak sinis total. Dia masih bangga dengan nasi uduk, gorengan gratis, dan budaya saling tolong. Ditutup dengan catatan : Portland, Oregon, 6 April 2026. Akhirnya kita jadi tahu tulisan ini lahir dari rasa rindu. Makanya campurannya jadi pas: ada kangen, ada greget, ada bangga.
Singkatnya, artikel ini adalah ode untuk negara yang tidak sempurna. Sama seperti kita ke orang tua. Kita komplain, kita kesal, tapi ujungnya tetap bilang “ortu adalah rumah kita”. Dan kalimat : Masak kalah sama Iran, harusnya bisa gratisan — ini adalah puncaknya. Kedengarannya lucu, tapi maknanya dalam.@