Prodi Sastra Indonesia Unesa Pentaskan Dua Pintu, Suarakan Marginalisasi Waria
REKAYOREK.ID Mahasiswa Program Studi S1 Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan pentas teater Dramaloka 2025 bertajuk “Dua Pintu”.
Naskah yang dipentaskan pada Jumat, 12 Desember 2025 di Graha Sawunggaling Unesa Kampus Lidah Wetan itu merupakan adaptasi dari naskah “Rini, Di Bawah Lampu Kota”.

Drama tersebut bercerita tentang tokoh utama waria bernama Syahroni atau Syahrini. Kehidupannya penuh dilema, perjuangan, dan akhir tragis sebagai kaum marginal yang dipandang sampah masyarakat. Sejumlah adegan memukau diperlihatkan, mulai dari teatrikal transformasi Syahroni, musikal antara ibu-ibu, hingga hubungan terlarang dengan Pak RT.
Pementasan Drama ini merupakan output dari dua matakuliah yaitu matakuliah Gender dan Inklusi Sosial serta matakuliah Penulisan dan Pementasan Drama. Ririe Rengganis dan Erwan Saing, pengampuh mata kuliah mengatakan, tujuan utama output perkuliahan adalah mempublikasikan tentang inklusi sosial dan kajian gender yang selama ini timpang di masyarakat, salah satunya melalui naskah drama yang bisa ditonton banyak orang.

“Kami menyambut baik dukungan Unesa dalam mengembangkan SDGs Gender Equality termasuk kelompok-kelompok marginal yang selama ini terpinggirkan agar mempunyai ruang yang sama luasnya dengan mereka yang berada di bagian poros tengah,” ujar Ririe Rengganis.
Inklusivitas terhadap kaum waria masih dianggap tabu di Indonesia sehingga layak disorot. Sutradara drama, Shafa Marwah membenarkan bahwa isu marginalisasi kaum waria karena gender yang kerap mendapat diskriminasi ia angkat untuk mengedukasi masyarakat. Dia berharap melalui pementasan itu, masyarakat lebih memahami kaum-kaum marginal sehingga bisa membantu mereka tanpa kekerasan dan stigma.

Dekan FBS, Syafi’ul Anam mengatakan, gelaran yang lahir dari kreativitas mahasiswa sastra ini sebagai titik tolak edukasi persepsi tentang kaum marginal dan inklusi. Seni sebagai salah satu keunggulan Unesa, katanya, perlu didukung melalui karya yang selaras dengan SDGs di bidang gender
“Ke depan bisa dikuatkan dalam karya juga penelitian gender equality termasuk gender edukasi. Karena saat ini THE Impact ranking Unesa menempati posisi unggul di bidang gender,” ujarnya.

Koordinator Prodi S1 Sastra Indonesia, Parmin berharap naskah dan drama ini tidak berhenti dengan penampilan semata. Tetapi, berpotensi untuk diikutkan dalam berbagai sayembara. Ia menegaskan, output matakuliah yang maksimal tentu merupakan kerja keras semua pihak.
“Ke depannya prodi Sastra Indonesia Unesa akan terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kurikulum termasuk mencapai output mendukung SDGs,” pungkasnya.@azhar