Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Menengok Alat Giling Tebu Kuno di Surabaya

REKAYOREK.ID Ketika komunitas menjadi bagian dalam penyusunan penulisan ensiklopedia Surabaya, maka semangat untuk melakukan penelusuran sejarah dan budaya kian membara. Mereka merasa memiliki wadah yang lebih representatif untuk mendokumentasikan hasil penelusuran.

Selama ini hasil hasil penelusuran komunitas pegiat sejarah, yang tergabung dalam Forum Begandeing Soerabaia, disalurkan melalui kegiatan publik sebagai bentuk distribusi koleksi yang mereka dapatkan.

Selain melalui kegiatannya jelajah sejarah yang bernama Surabaya Urban Track (Subtrack), mereka juga mendistribusikan melalui dokumentasi video yang dapat dilihat melalui kanal YouTube bernama Heritage Walk.

Tidak ketinggalan hasil hasil penelusuran juga dipublikasikan melalui media dan medsos. Bersama tim penulisan Ensiklopedia Surabaya, maka bertambah lagi platform untuk mendokumentasikan dan sekaligus penyebarluasan hasil penelusuran dan penelitian.

Area dan koridor penulisannya jelas. Yaitu di seputar 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana termuat pada pasal 5 Undang Undang no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dari 10 obyek Pemajuan Kebudayaan itu adalah Obyek Tehnologi Tradisional.

Menurut Undang Undang no 5/2017 bahwa Teknologi Tradisional adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang atau cara yang diperlukan bagi kelangsungan atau kenyamanan hidup manusia dalam bentuk produk, kemahiran, dan keterampilan masyarakat sebagai hasil pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan lingkungan, dan dikembangkan secara terus menerus serta diwariskan lintas generasi. Contoh teknologi tradisional adalah proses membajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbau, atau menumbuk padi dengan menggunakan lesung.

Masih banyak lagi bentuk bentuk teknogi tradisional yang pernah ada dan yang masih ada di bumi pertiwi ini, khususnya di kota Surabaya. Salah satunya adalah alat penggilingan tebu untuk proses produksi gula sebelum teknologi mesin dipergunakan oleh pabrik pabrik gula. Surabaya adalah daerah yang tercatat pernah memiliki pabrik gula di masa lalu. Siapa yang menduga?

Batu giling tebu jaman dulu. Foto: repro

 

Banyak orang tidak tau. Maklum, pabrik pabrik gula yang pernah ada di Surabaya tidak berbekas. Sudah punah. Untung masih ada dokumentasi peta lama Surabaya yang masih memberi petunjuk pernah adanya pabrik gula.

Di sana tertulis Suikerfabriek yang disingkat SF. Ada SF Ngagel, SF Bagong, SF Goebeng, SF Darmo dan SF Karah Ketintang. Setidaknya teridentifikasi ada 5 pabrik gula. Tapi sekarang pabrik pabrik gula itu sudah lenyap tak berbekas.

Alhamdulillah, meski bekas pabrik pabrik gula di Surabaya sudah tidak ada, namun masih ditemukan sepasang bekas gilingan tebu yang terbuat dari batu jenis andesit atau granit.

Gilingan tebu tradisional ini dipakai sebelum ada teknologi mesin uap (ketel) untuk menggerakkan piston piston penggiling tebu. Sepasang alat penggilingan tebu kuno itu dapat ditemukan di SMA Trimurti Surabaya. Posisinya berada di gerbang masuk halaman sekolah. Pada bagian atas setiap benda bersejarah ini menjadi tatakan pot bunga.

Giling Tebu Kuno Wujud Teknologi Tradisional

Manusia sejak masa lampau telah mengenal cara yang digunakan untuk mempermudah pekerjaannya yang disebut tehnologi. Seperti halnya dalam pembuatan gula yang berbahan baku tebu.

Peta letak pabrik tebu di Surabaya: SF Ngagel, SF Baging, dan SF Goebeng. Foto: repro

 

Awal mulanya manusia mengenal pembuatan gula secara tradisional yakni menggunakan seperangkat alat sederhana yang dinamakan kilang. Yakni alat yang dibuat dari bahan kayu atau batu. Gunanya untuk memeras atau menggiling tebu. Alat ini digerakkan oleh tenaga hewan sapi atau kerbau.

Cara-cara pembuatan gula secara tradisional tersebut setidak-tidaknya telah dikenal sejak abad ke-17 hingga abad ke-18 di Banten, Batavia dan bahkan Soerabaia. Bersamaan dengan lebih berkembangnya kekuasaan Belanda, pada abad ke-19, maka mulai diperkenalkanlah teknologi baru dalam hal cara-cara pembuatan gula. Yakni menggunakan mesin-mesin mekanik dan mendirikan pabrik-pabrik gula.

Mesin mesin tersebut adalah mesin bertenaga uap air bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh ketel. Teknogi ini mulai berkembang pada pertengahan abad 19. Jawa Timur menjadi ladang pabrik gula. Wilayah Pasuruan, Sidoarjo, Jombang, Mojokerto Nganjuk hingga Kediri menjadi ladang perkebunan tebu yang di sekitarnya menjamur pabrik pabrik gula.

Industri gula di Jawa Timur menopang perekonomian yang ternyata berkontribusi hingga ke Belanda dan negara negara Eropa. Industri gula menjadi mekanisme simbiosis yang merangkai mesin, manusia dan alam.

Bahan batu yang dipakai untuk penggilingan tebh. Foto: nanang

 

Mekanisme ini terdiri dari lingkungan atau sumberdaya alam yang mendukung: adanya ketersediaan bahan baku, mesin, peralatan, bangunan, dan orang-orang atau manusia yang melakukannya.

Akibat Industri gula, peradaban semakin berkembang. Sirkulasi uang pun mendorong perkembangan daerah. Kota Surabaya menjelma menjadi kota beton karena gula.

Di kota Surabaya pada pertengahan abad 19 mulai bermunculan perkantoran Industri gula dan perkebunan. Muncul perkantoran perbankan, perkantoran asuransi yang semuanya merupakan perwujudan pertumbuhan perekonomian dan perdagangan serta industrialisasi kota Surabaya.

Stedelijk Museum Van Soerabaia

Di lahan dimana gedung sekolah SMA Trimurti di jalan Gubernur Suryo (di samping gedung negara Grahadi) dulunya pernah berdiri Museum Kota (Stedelijk Museum van Soerabaia).

Museum itu didirikan oleh GH von Faber, seorang budayawan, sejarawan dan wartawan Surabaya yang berdarah Jerman Belanda. Makam von Faber masih ditemukan di pemakaman Kembang Kuning.

Soera ing Baia sebagai bukti peninggalam museum kota, Stedelijk Museum Van Soerabaia. Foto: nanang

 

Dalam perjalanannya, Stedelijk Museum pernah berpindah ke kawasan Tegalsari sebelum akhirnya menetap di jalan Mayangkara (dekat Kebon Binatang) dengan nama Museum Mpu Tantular. Stedelijk Museum adalah cikal bakal Museum Mpu Tantular dan GH von Faber adalah Bapak Museum Surabaya (menurut Begandring Soerabaia).

GH von Faber melalui Stedelijk Museum di Simpang (kini SMA Trimurti) mengoleksi banyak benda benda bersejarah yang ada kaitannya dengan sejarah Surabaya.

Sebagian koleksi koleksi itu kini masih bisa dilihat di Museum Mpu Tantular di Sidoarjo (karena Museum Mpu Tantular telah berpindah dari Surabaya ke Sidoarjo). Namun ada sebagian kecil yang tersisa di SMA Trimurti. Ada emblem kota Surabaya yang bergambar ikan hiu dan buaya lengkap dengan semboyan “Soera ing Baia”.

Ada lonceng yang hingga sekarang masih digunakan. Ada patung setengah badan von Faber tapi tadi siang (Senin, 6/12) penulis belum berkesempatan melihat karena harus bertemu dengan petugas Sarana dan Prasarana (Sarpras) sekolah. Satu benda koleksi lagi yaitu sepasang alat penggilingan tebu kuno.

Alat penggilingan tebu kuno terbuat dari batu (andesit atau granit) kini terpasang pada kiri kanan gerbang sekolah yang di setiap benda bersejarah ini ditempati pot bunga. Benda kuno ini jelas bersejarah. Karenanya, benda itu menjadi koleksi Museum Stedelijk di era Hindia Belanda. GH von Faber pun tau persis mana benda benda yang memiliki nilai sejarah bagi kota Surabaya (Stad van Soerabaia).

Sepasang benda bersejarah yang kini menjadi peletakan pot bunga itu adalah bukti industrialisasi di kota Surabaya sebelum teknologi moderen diperkenalkan dan dipakai pada pertengahan abad 19.

Sebenarnya dengan mengacu kepada Undang Undang RI no. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sepasang benda kuno yang dulu merupakan alat penggilingan tebu tradisional ini adalah wujud dari salah satu dari 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, yakni Teknologi Tradisional. Keberadaannya patut diamankan dan dilindungi karena sudah sangat langka.

Di Surabaya, benda ini menjadi satu satunya dan dapat dipakai sebagai bukti pernah adanya Industri (pabrik) gula di Surabaya.

Sebagaimana sudah disebut di atas bahwa di Surabaya pernah ada pabrik gula. Yakni pabrik gula Ngagel, Bagong, Darmo, Karah dan Gubeng.[]

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...