Jejak Aksara Jawa Raden Saleh Ada di Wisma Jerman Surabaya
REKAYOREK.ID Hubungan diplomasi budaya antara Kota Maxen di Jerman dan Surabaya di Indonesia terikat erat oleh rekam jejak pelukis legendaris Raden Saleh pada abad ke-19. Dari warisan sejarah lintas benua ini, kita dapat memetik pelajaran berharga mengenai arti penting toleransi, diplomasi kultural, serta pelestarian sejarah dalam mempererat persahabatan antarnegara.
Sikap toleransi tersebut berakar dari kedekatan antara maestro lukis Indonesia, Raden Saleh, dengan sahabat karibnya, Friedrich Anton Serre. Seniman muda penuh talenta itu diketahui sempat menetap dan hidup di Maxen, Jerman, selama satu dekade penuh dari tahun 1839 hingga 1849.
Secara geografis, Maxen merupakan sebuah desa penuh sejarah di wilayah Sachsen, Jerman, yang masuk dalam administrasi kotamadya Müglitztal. Lokasinya yang berdekatan dengan Dresden dan Heidenau membuat nama Maxen begitu familier di telinga masyarakat Indonesia, mengingat di sanalah Raden Saleh menghabiskan waktu untuk menetap sekaligus menelurkan karya-karya besarnya pada abad ke-19.

Waktu sepuluh tahun yang dihabiskan Raden Saleh di Maxen tentu bukanlah durasi yang singkat. Demi menghormati sang pelukis sebagai seorang Muslim Jawa yang taat, Friedrich Anton Serre berinisiatif mendirikan sebuah tempat ibadah khusus. Guna memfasilitasi kebutuhan spiritual sahabatnya, Serre membangun sebuah paviliun berkubah biru yang dinamai Blaues Häusel (Rumah Biru) pada tahun 1848, yang sekaligus difungsikan sebagai tempat salat (masjid) bagi Raden Saleh.
Tepat di area atas pintu masuk paviliun Rumah Biru tersebut, terdapat pahatan dua inskripsi yang menggunakan aksara Jawa serta bahasa Jerman. Guratan kalimat yang dirancang langsung oleh Raden Saleh itu bermakna, “Muliakan Tuhan dan Cintailah Manusia”.

Untaian kalimat indah tersebut membawa pesan mendalam dari Raden Saleh mengenai toleransi, perdamaian universal, dan kasih sayang yang melampaui sekat-sekat perbedaan budaya.
Selain menjadi simbol arsitektur yang unik, Rumah Biru ini memang sengaja dibangun pada tahun 1848 oleh seorang bangsawan militer Jerman, Mayor Friedrich Anton Serre. Tujuannya sangat mulia, yaitu menyediakan ruang yang tenang dan representatif bagi Raden Saleh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta selama berada di Maxen.

Tulisan di atas pintu tersebut sengaja dihadirkan dalam format bilingual—menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jerman—sebagai representasi nyata jembatan persahabatan yang menghubungkan kebudayaan Timur dan Barat.
Sebagai langkah konkret untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tersebut, pelataran di depan Rumah Biru kerap dijadikan lokasi berbagai agenda kegiatan guna memperingati hari kelahiran sang pelukis Jawa. Peran Raden Saleh bagi perkembangan historis Kota Maxen memang sangat signifikan sejak kedatangannya pada 1839, hingga akhirnya paviliun tersebut didirikan oleh Serre pada 1848 sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Keberadaan Blue House sukses menjadi katalisator kebudayaan yang menghubungkan Indonesia dan Jerman. Sosok Raden Saleh sendiri bertindak sebagai perekat kultural yang memungkinkan masyarakat kedua negara untuk saling mengenal, berkolaborasi, dan memperkaya khazanah budaya satu sama lain. Terlebih lagi, karya-karya seninya sangat diapresiasi di Jerman, di mana ia berhasil memperkenalkan eksotisme dan identitas Jawa kepada publik Eropa melalui goresan kuasnya.


Kini, spirit penguatan relasi budaya tersebut diadopsi oleh Wisma Jerman di Surabaya melalui penerapan aksara Jawa pada papan nama ruang-ruang kelas belajarnya. Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, mengungkapkan bahwa langkah visualisasi aksara Jawa ini sangat kontekstual dan menjadi bentuk nyata dari estafet pemajuan budaya, yang akarnya telah ditanamkan pertama kali oleh Raden Saleh di Maxen, Jerman, pada tahun 1848 silam.@nang