Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Hubungan Prasasti Canggu Dengan Rekam Jejak Surabaya Masa Klasik

REKAYOREK.ID Satu-satunya sumber sejarah yang menyebut “Surabaya” pada masa klasik adalah Prasasti Canggu. Prasasti Canggu atau disebut Prasasti Trawulan I, karena pertama kali ditemukan di sekitar Trowulan.

Berdasarkan catatannya ditemukan awal di Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, yang lokasinya tidak jauh dari situs Candi Tikus dan Situs Gapura Bajangratu.

Prasasti Canggu merupakan sebuah prasasti lempeng (Tamra Prasasti) berukuran 36,5 cm x 10,5 cm, terbuat dari tembaga, yang bertuliskan aksara Jawa Kuna (Kawi) dan berbahasa Jawa Kuna. Aksara dipahatkan pada bagian lempeng sisi depan dan belakang.

Berdasarkan catatan riwayatnya, saat pertama kali ditemukan Prasasti Canggu berjumlah 5 lempeng. Namun kini yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta hanya tersisa 1 lempeng dengan nomor inventaris E.54.

Prasasti Canggu dikeluarkan pada masa pemerintahan raja Majapahit ke-4, yaitu “Sri Rajasanagara” atau yang dikenal dengan Hayam Wuruk, pada tahun Saka 1280 (1358 M). Penanggalan Saka pada prasasti tersebut dikonversikan menjadi tanggal 7 Juli 1358.

Pada lempeng bagian sisi depan (recto) Prasasti Canggu, baris ke-3 dan 4 menyebutkan :

“……i gsang i bukul i curabhaya muwah prakaraning naditira pradesa sthananing anambangi….”

Terjemahan :
“di gsang di bukul di surabhaya, juga segala macam masalah di wilayah pinggir sungai tempat penambangan (penyeberangan sungai).

Nama toponim “curabhaya” (baca : syurabhaya), yang muncul pada prasasti tersebut diidentifikasi dengan Surabaya. Selain itu juga muncul toponim nama “gsang” yang diidentifikasi dengan Pagesangan dekat Sepanjang, dan toponim “bukul” yang diidentifikasi dengan Bungkul daerah dekat Jalan Darmo yang kini terdapat makam keramat Ki Ageng Bungkul.

Secara garis besar isi Prasasti Canggu merupakan penganugerahan status sima perdikan dari raja Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) kepada desa-desa tepian sungai sepanjang Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo. Dari urutan toponim nama-nama desa tepian sungai yang disebutkan, muncul toponim kuno yang bisa diidentifikasi, antara lain :

CANGGU

Toponim Canggu diidentifikasi kini menjadi Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

SARBA

Toponim Sarba diidentifikasi kini menjadi Desa Serbo, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

WARINGIN PITU

nama toponim Waringin Pitu mengingatkan pada sebuah lokasi Dawuhan (bendungan) yang tersebut dalam Prasasti Kamalagyan, yang dikeluarkan tahun 1037 M pada masa pemerintahan raja Airlangga.
Toponim Waringin Pitu diidentifikasi kini menjadi Desa Wringin Pitu, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

PAMOTAN

Toponim Pamotan diidentifikasi kini
Kini menjadi Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Di daerah tersebut terdapat beberapa situs kekunoan antara lain : Situs Candi Pamotan I dan II, juga Situs Lemah Duwur.

TULANGAN

Nama Tulangan sudah tersebut pada masa Medang (Mataram Kuno). Sebuah prasasti lempeng yang kelak disebut “Prasasti Tulangan” berangka tahun 832 Śaka (910 M), dan ditemukan sekitar Jedong, Mojokerto menyebut toponim kuno “tulangan”.

Toponim Tulangan diidentifikasi kini menjadi Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Di kawasan wilayah Kecamatan Tulangan, banyak dijumpai jejak kekunoan di punden-punden dan makam keramat.

PANUMBANGAN

Toponim Panumbangan diidentifikasi kini menjadi Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

JRUK

Toponim Jruk diidentifikasi kini menjadi Desa Jeruk Legi, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

TRUNG

Toponim Trung juga sering disebut pada beberapa prasasti yang lain. Toponim Trung diidentifikasi kini menjadi Desa Terung Wetan dan Terung Kulon, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Di wilayah terdapat beberapa situs kekunoan yang dihubungkan dengan masa klasik. Antara lain situs temuan struktur bata kuno di dekat makam keramat Putri Pecat Tondo Wurung.

KAMBANG CRI

Toponim Kambang Cri diidentifikasi kini menjadi Desa Bangsri, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Tapi ada pendapat lain yang menghubungkannya dengan Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Jejak kekunoan pada 2 daerah tersebut bisa dihubungkan dengan toponim Kambang Cri masa klasik.

TDA

Toponim Tda diidentifikasi kini menjadi Desa Tado Singkalan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Jejak kekunoan berupa reruntuhan struktur bata kuno masih tampak di beberapa makam dan punden desa.

GSANG

Toponim Gsang diidentifikasi kini menjadi Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Diduga dulu wilayah Gsang sangat luas tidak hanya terbatas seperti sekarang. Tidak jauh dari Pagesangan, terdapat toponim “Simowau” dan “Sepanjang Tani” yang bisa dihubungkan dengan jejak-jejak daerah perdikan (sima) merujuk pada nama Simowau masa silam, dan “thani” yang kini menjadi Sepanjang Tani.

BUKUL

Toponim Bukul diidentifikasi kini menjadi kawasan Taman Bungkul di dekat Jalan Darmo, Surabaya. Disitu terdapat makam keramat Ki Ageng Bungkul. Beberapa fragmen bata kuno dijumpai pada komplek makam tersebut. Tidak jauh sebelah timur Taman Bungkul terdapat Sungai yang disebut Kali Mas yang mengalir ke utara membelah Kota Surabaya.

CURABHAYA

Toponim Curabhaya diidentifikasi kini menjadi wilayah Surabaya. Dalam prasasti Canggu, nama Curabhaya hanya sebatas desa tepian sungai. Yang diduga berada di sekitar kawasan Peneleh hingga kawasan Tugu Pahlawan. Kawasan Peneleh dan sekitarnya tepat diapit 2 sungai yang membelah Kota Surabaya, yaitu Kali Mas (peta lama menyebut “rivier van sourabaja) dan Kali Pegirikan (peta lama menyebut “rivier van Ampel).

Di kawasan Peneleh, tepatnya di Kampung pandean gang I, pada tahun 2018 ditemukan sumur jobong dari bahan terakota yang mirip sumur jobong di daerah Trowulan. Temuan sumur jobong di saat penggalian saluran air.

Dugaan kuat lokasi Desa Curabhaya yang tersebut pada prasasti masa Majapahit itu, berada di sekitar antara kawasan Peneleh hingga kawasan Tugu Pahlawan. Pada peta lama tahun 1677 terkait peristiwa Trunojoyo membangun beberapa pertahanan di Surabaya, tampak sebuah lokasi dengan keterangan kraton lama Surabaya sebelum ditaklukkan Susuhunan Mataram. Lokasi yang dimaksud bisa diidentifikasi kini di sekitar Jalan Sulung tepat dipinggir barat Kali Mas.

Jadi begitu pentingnya isi Prasasti Canggu yang menyebut salah satunya nama “curabhaya” yang diidentifikasi kuat dengan Surabaya, menambah kazanah kesejarahan akan kondisi wilayah Surabaya pada masa klasik. Dan pada tanggal 26 April 2023, komunitas Begandring Soerabaia yang diwakili mbak Dian Nur Aini, berkunjung ke Museum Nasional Jakarta, untuk melihat secara langsung dan dekat lempeng Prasasti Canggu.

Selain Prasasti Canggu, nama Surabaya juga muncul pada Kakawin Nagarakrtagama (Desawarnana) yang ditulis Mpu Prapanca di tahun 1287 Saka (1365 M), pupuh 17 ; 5 menyebut :

“Yan ring jangala lot sabha nrpati ring surabhaya manulus mare buwun”

Terjemahan :
Jika sampai di Janggala singgah di Surabhaya terus menuju Buwun.

Berdasarkan informasi dari Kakawin Nagarakrtagama tersebut, ada gambaran informasi bahwa wilayah Surabaya yang saat masa Majapahit masih berupa desa dan sempat disinggahi oleh raja Hayam Wuruk. Tentunya hal ini mempertegas kesejarahan Surabaya pada masa klasik yang merupakan daerah penting dalam suatu peradaban kuno.

Toponim “Buwun” sebagian sejarawan menghubungkannya dengan Bawean. Tapi ada tafsir lain yang menduga Buwun merupakan toponim kuno dari “Kabuwunan” yang kini kita kenal menjadi nama daerah “Keboan” yang terletak tidak jauh dari daerah Gedangan, Sidoarjo.

Akhir kata Surabaya merupakan bagian dari kawasan kuno yang sudah disebutkan dalam Prasasti Canggu dan Kakawin Nagarakrtagama yang dikeluarkan pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Begitu pentingnya informasi yang menyebut toponim Surabaya pada masa klasik, dan harus dikaji lebih dalam akan kesejarahannya.

Dengan masih adanya lempeng Prasasti Canggu yang masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta, semoga menjadi inspirasi kajian para ahli sejarah dalam mengungkap kazanah kesejarah Surabaya yang sudah eksis pada masa Kerajaan Majapahit, dan atau mungkin ada sumber lain yang bisa dihubungkan dengan masa sebelum Majapahit.@TP Wijoyo

Sumber pustaka :
– Buku ” Mitos Curabhaya” karya Soenarto Timur, 1983
– Buku “Prasasti” karya Boechari
– Buku “Tafsir Nagarakrtagama” karya Slamet Muljana
– Buku “Oud Soerabaia” karya Von Faber
– Dan sumber-sumber lainnya

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...