Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Memoar Wartawan Biasa-Biasa #15

Tongkrongan Seperti Guru

Oleh: Amang Mawardi

Seputar tahun 1978-1979 saat Perwakilan Pos Kota masih berkantor di Jalan Embong Wungu 49 A Surabaya, saya didatangi Hadi Mulyanto teman sekolah saat di STM II (Kimia Industri) Surabaya.

Saya pernah duduk sebagai Seksi Kesenian saat Hadi Ketua OSIS, yang kemudian Hadi memutasi ke Seksi Perpustakaan lantaran OSIS STM II mendirikan perpustakaan yang letaknya berdempetan dengan rumah dinas kepala sekolah.

(Pada sekian puluh tahun kemudian, saya baru menyadari: ‘pantesan saat ini saya akrab dengan dunia kesenian dan literasi, ternyata landasannya sudah saya rintis sejak di SLTA itu’).

Maksud kedatangan Hadi, saya diminta tinggal di rumahnya di Jalan Kalibokor 53 Surabaya, rumah dengan tiga kamar tidur yang berhalaman relatif luas dimana posisinya di ‘hook’ (tikungan).

Dua hari sebelumnya ayah Hadi berpulang karena penyumbatan di otak disebabkan kolestetol tinggi. Saat itu saya belum mengenal istilah kolesterol. Semata saya pahami, ada masalah di otak almarhum sehingga menyebabkan kematian.

Setelah berpulangnya ayahnya di rumah Jalan Kalibokor 53 itu, praktis tinggal ibunya Hadi dan dua kakak perempuan yaitu Mbak Titin yang karyawan distributor farmasi dan Mbak Tatik yang penjahit. Mereka masih bujang. Mbak Titin cantik, lembut. Mbak Tatik tomboi.

Sedangkan Hadi tinggal di Jakarta sebagai karyawan perusahaan keramik.

Intinya saya disuruh menemani ibu dan dua kakak perempuannya. Hadi adalah anak bungsu. Kakak yang sulung, Mbak Pung, tinggal di Manado ikut suami yang perwira TNI AD.

Yang nomor dua Mbak Titin, nomor tiga Mas Edi tinggal di Pasuruan kerja di perusahaan tekstil, nomor empat Mbak Tatik, nomor lima Mas Totok berkarier di Ciputra Group ditempatkan di Palu.

Dan yang bungsu sahabat saya itu : Hadi Mulyanto.

Saya masih ingat guyonan Dik Suti Rahayu pacar Hadi yang kemudian putus.

Dik Suti adik cewek yang saya taksir yang juga adik Bu Srimulatsih guru fisika saya. Nama cewek yang saya taksir, sebut saja: SP.

Terhadap saya, Dik Suti pernah berpantun begini: “Gedang kepok gedang ijo, arek mondok dipek bojo”. Artinya: Pisang kepok pisang ijo/ambon, anak kos (akhirnya) dijadikan suami (sama yang punya kos/anak gadisnya).

Dik Suti dan mbaknya yang saya taksir waktu itu masih kuliah di IKIP Surabaya, keduanya ikut mbaknya yang Bu Srimulatsih di Jalan Legundi, Surabaya.

SP cewek yang saya taksir teman se-angkatan di IKIP dari sobat saya Dr. Suharmono Kasiyun yang di fesbuk menggunakan nama Harmono Suharmono K.

Kembali ke Hadi Mulyanto. Mendapat permintaan pertolongan itu, saya tidak langsung menerima. Masih menimbang-nimbang.
Ada keuntungan, makan dan tidur gratis. Setidaknya gratis di sarapan dan makan malam. Makan siang di kantor atau di tempat lain.

Namun, pada kondisi itu, saya akan bertindak seperti kepala keluarga.

Mikir lagi saya. Membayangkan, bagaimana kalau ada genteng bocor, listrik mati dan urusan ‘uba rambe’ lainnya yang tidak saya akrabi. Apalagi saat itu saya masih terbilang belia, 25 tahun.

Kendati saya berlatar-belakang sekolah tehnik, tapi perkara pertukangan saya tidak prigel.

Pernah saya mendapat ledekan (bukan bully) dari beberapa teman sekelas, antara lain: “Amang ngono kan STM jurusan sastra…wkwkwk… ”

Saat di SLTA tersebut puisi-puisi saya sudah sering dimuat di Radio Rajawali, Jawa Pos, dan beberapa koran tidak terkenal seperti Mungguan Surabaya Express dan Pelita Kota.

Karena terus mendesak, akhirnya permintaan Hadi saya penuhi.

Dan, pada akhirnya saya berusaha untuk menjadi “kepala keluarga” yang baik, di antaranya: karena tembok rumah mulai kusam, maka saya labur dengan larutan gamping yang saya campuri sesendok semen sebagai perekat dan blau yang berfungsi pemutih.
Perihal ini pernah saya ceritakan ke Max Margono yang koresponden Kompas.

Apa kata Max? “Mbok yo ojo nganggo gamping to Mang, tukokke cat tembok… ” Lah…cat tembok kan mahal.

Ibu Hadi pinter masak. Apapun yang “disentuh” beliau, jadi sajian lezat.

Di halaman rumah Hadi yang luas itu terdapat banyak tanaman: mangga, jambu keluthuk, jambu air, belimbing wuluh, jeruk pecel, sejumlah tanaman sayuran seperti kenikir dan kemangi; ada juga kolam kecil yang bentuknya alami tempat mujair dan gurame tumbuh gemuk-gemuk.

Pernah saya “dipaksa” sarapan beliau (kadang kalau tergesa saya sering tidak sarapan di rumah).

Di meja bundar jati kuno yang terletak di dapur sudah tersedia: piring dan sendok, nasi di wakul; sambal di cobek yang di pinggirannya ada tahu, tempe, serta sepotong gorengan bandeng, juga kenikir rebus hasil ‘ramban’ samping rumah.

Di sambal itu terlihat beberapa biji jeruk pecel tanda habis dikecruti. Wow…inilah salah satu sarapan yummy sedap nikmat huenak haujek yang pernah saya lahapi.

Sebelah kiri rumah Hadi milik salah satu famili ayahnya yang saat itu ditempati oleh salah satu rumah tangga anaknya: pasangan muda dengan satu anak. Saya lupa nama persisnya, Mas Tono apa Mas Djono ya?

Sosok “Mas Tono” ini mengingatkan saya pada aktor WD (Wagino Dahrin) Mohtar. Cuma “Mas Tono” sedikit lebih kurus.

Saya sebagai anggota baru di rumah Jalan Kalibokor 53 yang tetangga “Mas Tono”, sudah didengarnya.

Suatu hari kami bertemu di depan pagar halaman rumah beliau. Lantas terjadilah dialog.

“Dik Amang wartawan ya?”

“Ya, Mas… ”

“Wartawan apa, Dik?”

“Pos Kota… ”

Kemudian: “Ee… Eeee… “, seperti ada yang mau disampaikan tapi tidak keluar.

“Ada apa, Mas,” kata saya.

Lantas “Mas Tono” bilang yang sebelumnya didahului dengan senyum-senyum: “Kok tidak mirip wartawan ya… ”

Saya sedikit kaget.

“Kalau nggak mirip wartawan, lantas mirip apa, Mas…? ”

“Mirip potongan guru… ”

(Eladalah! Bujleng… Bujleng… Buto galak rambut geni!).

Mungkin di mata “Mas Tono” penampilan wartawan mestinya seperti sosok Sondang P. Napitupulu, Bens Leo, atau Joko Quartantyo yang juga pemain teater yang urakan itu. Atau kalau di Surabaya mirip sosok almarhum Yuleng Ben Tallar ganteng, lincah, supel.

Tapi yang disampaikan “Mas Tono” tadi agaknya tidak salah. Sebab, sebagai tampak luar, saya sering dikesankan ‘klewas-klewes’ dan introvert. Apalagi jika melihat ‘outfit’ saya saat itu: baju tetoron lengan panjang dimasukkan ke celana gelap, sepatu mengkilap dan rambut belah pinggir, bukan belah tengah seperti potongan penyanyi David Cassidy yang lagi ‘in’ saat itu.

Tubuh saya yang tingginya 178 sentimeter kelihatan makin tinggi dengan baju lengan panjang dimasukkan ke celana. Maka makin “runyam”-lah saya. Apalagi berat badan saat itu 53 kilogram. Kurus bangettt. Sekarang 68 kilogram.

Masih di seputaran Jalan Kalibokor 53, suatu sore terjadi “keributan” di jembatan Kalibokor yang terletak 150 meter ke utara dari rumah yang saya tinggali. Jembatan ini posisinya di depan Puskesmas agak nyerong kanan.

Ternyata setelah saya dekati ratusan orang sedang menangkapi ikan lele yang mbludak di kali sekitar jembatan tersebut. Ada yang menggunakan jaring, samber, serok, dan banyak juga dengan tangan kosong. Bejibun lele, ada beberapa terlihat lele bule.

Penangkapan ikan mayoritas lele ini makin memacetkan jalan dengan banyaknya warga yang nonton.

Dua hari kemudian saya bertemu Ivans yang kepala perwakilan di ruang redaksi. (Tidak setiap hari saya ketemu dengannya, seringkali tlisipan). Pada saat itu terlihat satu-dua koresponden. Tidak lengkap.

Lantas kami ngobrol ngalor-ngidul. Tibalah saya cerita perkara lele. Saya tidak menyangka dengan pertanyaan Ivans: “Terus endi berita-e lele mau?” Artinya: Terus mana berita lele (-lele) tadi, kok saya gak baca di halaman Jawa Timur?

Deg! Saya tidak menjawab. Ivans kontan setengah teriak: “Waaa…. !!!”, langsung ngeloyor meninggalkan ruang redaksi.

Intinya wartawan tidak sekadar terampil menulis, tapi punya kepekaan tinggi mengendus kejadian untuk selanjutnya diolah menjadi berita yang layak baca.

Saya cuma setahun di rumah Hadi Mulyanto, karena kamar depan yang saya tiduri akan dipakai mbaknya Hadi dan suaminya sebagai rumah transit sepulang dari tugas belajar di pendidikan militer West Point Amerika Serikat, sambil menunggu di Kodam mana [email protected]

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...