Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

PTPN XI Terima Penghargaan Cagar Budaya

REKAYOREK.ID Apresiasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim kepada para pengelola gedung cagar budaya patut diaprsiasi. Alasannya, apresiasi itu akan mendorong pengelola gedung untuk memanfaatkan gedung bisa lebih bermanfaat kepada publik demi tujuan tujuan pendidikan, penelitian, ilmu pengetahuan, budaya dan pariwisata sebagaimana diamanahkan oleh Undang Undang Cagar Budaya.

Belum lama Disbudpar Jawa Timur memberikan penghargaan kepada pengelola bangunan Cagar Budaya di Jawa Timur yang mampu merawat asetnya dengan baik. Salah satu penerima penghargaan itu adalah PTPN XI yang dulu, di era kolonial, merupakan kantor administratur perkebunan mewakili Handels Verenigging Amsterdam (HVA) yang berpusat di kota Amsterdam, Belanda.

Tidak salah jika pada Selasa 27 September 2022, tim produksi film dokumenter dari Belanda, Bie Muusze, datang ke PTPN XI untuk mendokumentasikan nilai nilai perpaduan budaya pada gedung yang dibangun pada 1925 itu.

Tim film dokumenter Bie Muusze dari Belanda. Foto: nanang

 

Gedung PTPN XI ini memiliki nilai seni arsitektur yang megah dan luar biasa. Ornamennya menggambarkan kekayaan Jawa Timur dari sektor perkebunan. Berbagai komoditas hasil bumi menjadi relief indah yang terpampang di interior lantai dua. Kekayaan bumi Jawa Timur mulai dari tembakau, tebu, cacau, karet, teh, singkong, kelapa sawit dan lainnya terukir indah dalam karya keramik buatan dari kota Delf, Belanda.

Ada karya seni lainnya seperti kaca timah yang menghiasi lantai 1. Disana terhias logo logo berbagai kota di Hindia Belanda. Diantaranya adalah Batavia, Semarang, Makasar, Cirebon dan Surabaya sendiri. Tidak lupa logo kota Amsterdam yang menjadi pusat kantor administrasi perkebunan ini.

Semua itu adalah nilai yang patut dihargai dan dijaga karena itu semua bisa menjadi modal pembangunan masa depan dan lebih mempererat kerjasama antara Belanda Indonesia melalui jalur Kebudayaan. Inilah yang dilakukan oleh tim film dokumenter dari Belanda.

Frans Leidelmeijer, pakar spesialis dekorasi dan kesenian arsitek bangunan kolonial, sekaligus produser program dokumenter ini, mengungkapkan sangat terpesona dengan keindahan arsitektur peninggalan kolonial. Saat mengunjungi Surabaya dan melihat banyak sekali bangunan bangunan yang indah. Khususnya gedung PTPN XI ini, sangat menyukai karya dari karakternya dan juga arsitektur khas kolonial.

Salah satu panel relief bergambar kuli mengangkut gula. Foto: nanang

 

“Bangunan ini terlihat seperti kastil raja yang megah dihiasi dengan motif-motif yang eksotis, tidak hanya oriental tapi juga motif natural dari Indonesia, dan ini merupakan alasan saya sangat menyukai bangunan ini,”  terang Frans Leidelmeijer yang juga pakar Seni Baru di program televisi ‘Tussen Kunst & Kitsch’ di Belanda.

Sementara itu Direktur PTPN XI, R Tulus Panduwidjaja, ikut bangga karena gedung yang dikelola sebagai kantor perkebunan, khususnya komoditas tebu dan gula bisa memberi manfaat. Tidak hanya bagi warga lokal, tetapi juga manca negara. Pencapaian itu terukur dengan diterimanya penghargaan dari propinsi Jawa Timur.

“Kami berterimakasih atas kepercayaan yang diberikan dengan pemberian apresiasi Pelestari Cagar Budaya Tahun 2022, terbaik dua kategori Heritage Cagar Budaya dari Dinas Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Gedung ini memiliki sejarah baik histori perkebunan di Indonesia maupun bagian dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, warisan sejarah untuk kita semua,” kata Direktur PTPN XI, R Tulus Panduwidjaja.

Gedung PTPN XI ini adalah karya arsitektur yang bernuansa klasik, karya asli arsitek Belanda, yaitu Huswit Fermont dan Ed Cuypers. Mereka mengusung gaya art deco yang digabungkan dengan unsur tradisional.

Relief kantor pusat HVA di kota Amsterdam, Belanda. Foto: nanang

 

Penggabungan unsur tradisional dan kolonial inilah yang menjadi fokus Frans Leidelmeijer dan tim datang ke Surabaya untuk membuat film dokumenter bertema “Pembauran’.

Frans dalam kegiatan pendokumentasian ini didampingi oleh mitra pegiat sejarah  Begandring Soerabaia.

“Sejarah memang kejadian masa lalu, tapi akan menjadi pijakan saat ini untuk menatap masa depan. Dengan belajar sejarah berarti kita menatap masa depan, dengan merawat gedung ini PTPN XI mengajak kita belajar sejarah untuk menatap masa depan,” ungkap Nanang Purnowo, Ketua Begandring Soerabaia, yang mendampingi Bie Muusze Filmer Holland.

Saat ini PT Perkebunan Nusantara (PT.PN XI) telah mengelola 13 pabrik gula aktif dengan wilayah kerja Jawa Timur dan memiliki kontribusi terhadap produksi gula [email protected]

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...