Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Menengok Sisa dan Situs Tembok Kota Lama Surabaya

REKAYOREK.ID Bagai sebuah paradoks tatkala melihat wajah kota Lama Surabaya. Ada kekontrasan. Akibatnya, di satu sisi dipuji dan di sisi lain masih dimaki. Lumrah revitalisasi Kota Lama Surabaya masih berproses. Belum selesai.

Konteks Kota Lama Surabaya adalah satu kawasan luas, yang meliputi Kampung Eropa, Kampung Pecinan, Kampung Melayu dan Kampung Arab. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, digadang akan meresmikan Kota Lama Surabaya, setelah semua Kampung ini dianggap selesai. Tidak sebagian sebagian. Karena beberapa kegiatan fisik di lintas kampung ini masih berjalan, seperti di jalan Karet dan jalan Kembang Jepun di sisi Timur sungai Kalimas serta di jalan Jembatan Merah yang sedang membersihkan Gedung Singa.

“Kita butuh 15 hari mengerjakan gedung ini”, kata Aris, pengawas pekerjaan gedung Singa pada Rabu siang (5/6/2024).

Denah peta kota lama (Eropa) Surabaya dengan batas temboknya. Foto: dok PAR

 

Sementara di Barat sungai Kalimas adalah Kampung Eropa. Kampung Eropa terlihat megah dengan gedung gedung indah, yang semakin indah, berkat revitalisasi. Kampung Eropa, menurut beberapa sumber, adalah kawasan yang pernah dibatasi oleh tembok dan menjadikan tempat ini berjuluk Kota Bertembok (walled town).
Kota Bertembok Surabaya, Walled Stad van Soerabaja.

Luasan Kota Bertembok Surabaya ini hanya sekitar 4 hektar. Pada 1743 ketika Surabaya dipilih sebagai ibukota wilayah Pantai Utara Jawa sisi Timur (Java’s van den Oosthoek), kelengkapan anatomi kota sudah mumpuni sebagai sebuah ibukota. Mataram memberi VOC wilayah di Pantai Utara Jawa sisi Timur sebagai bentuk kompensasi atas bantuan VOC kepada Mataram. Tanggal resmi penyerahan dan penetapan Surabaya sebagai kota administrasi Wilayah Pantai Utara sisi Timur itu jatuh pada 11 November 1743 (Asia Maior: Soerabaja 1900-1950). Jejer dengan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Sejak itulah Surabaya melengkapi organ organ administrasi dan struktur kotanya. Di dalam kawasan bertembok ini pernah terdapat Balai Kota, Gereja, Alun Alun (Taman) Kota, Sekolahan, Bank, Duane, Rumah Sakit, Perumahan Pejabat dan Pabrik. Surabaya adalah konsep sebuah kota yang diboyong dari Eropa.

Menurut politisi Gerindra, yang juga sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, A. Hermas Thony bahwa kota bersal dari kata Polis, yang juga berarti negara kota. Secara fisik negara kota adalah kota yang dikelilingi oleh tembok pembatas dan perlindungan yang dilengkapi dengan benteng.

“Kota Lama (red: Eropa) Surabaya sebagai sebuah negara kota seperti Monaco, Vatican dan yang paling dekat adalah Singapore, merupakan kota kosmopolitan”, jelas Thony.

Orang Yunani menganggap polis (kota) sebagai asosiasi agama dan politik: meskipun polis juga mengontrol wilayah dan koloni di luar kota itu sendiri, polis tidak hanya terdiri dari wilayah geografis.

Kota bertembok Amersfort di Belanda yang menjadi jujugan wisatawan dunia. Foto: nanang

 

Di Amersfoort Belanda masih berdiri sebuah kota bertembok yang masih memiliki segala kelengkapannya. Kecuali tembok kota. Namun demikian masih meninggalkan bagian dari tembok yang menjadi gerbang masuk ke kota sejarah Amersfoort.

Kota Amersfoort bisa dibuat sebagai peraga perbandingan visual bagaimana dulu kota Surabaya di era VOC dan Hindia Belanda, yang dikenal dengan nama Stad van Soerabaja. Kawasan Kota Lama Surabaya ini juga mengingatkan pada Stad van Paramaribo di negeri Suriname, yang juga sama sama koloni Belanda. Struktur kota Lama Paramaribo sama seperti Surabaya. Ada benteng, secara alami dilewati sungai, ada gereja dll.

Kota Lama Surabaya masih memiliki perbandingan. Yaitu dengan Kota Bertembok Amersfoort dan Stad van Paramaribo.

Sisa Tembok Surabaya

Jerman pernah terpisah menjadi dua. Jerman Timur dan Jerman Barat. Keduanya dipisah oleh tembok, yang terkenal dengan nama Tembok Berlin. Kini tembok itu sudah dijebol dan tidak ada Jerman Barat dan Jerman Timur. Sebagai memorabilia, ada bekas bekas tembok Berlin ini diabadikan menjadi sebuah Monumen.

Jika Surabaya pernah berkalang tembok, kita kira dimanakah jejak tembok itu. A. Hermas Thony, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, yang juga sebagai penggerak budaya kota, melihat bekas tembok kota Surabaya. Situsnya ada di jalan Krembangan Timur, tepatnya berseberangan dengan Depot Laksana Jaya.

Sejengkal tembok, yang masih berdiri ini, masih lengkap dengan pintu sederhana tapi kuat. Terbuat dari kayu jati yang keras bagai cadas. Thony melihat sisa struktur tembok Surabaya beserta pintu yang masih menempel. Tidak hanya tembok yang menjadi perhatian Thony. Tetapi struktur bangunan tembok yang tebalnya 50 cm dan pondasi yang tebalnya hingga 1 meter. Pondasinya terbuat dari struktur batu bata cadas yang sangat keras. Struktur itu masih membekas. Tapi keberadaannya terabaikan sehingga menjadi saksi mata yang terlupakan. Padahal sisa dan situs ini penting sebagai wahana edukasi untuk mendukung kawasan Kota Lama (Eropa) Surabaya.

Ketebalan tembok dan pondasi menjadi petunjuk kuatnya pertahanan kota. Foto: nanang

 

Letak struktur dan situs ini ada di belakang (Barat) bagian kota lama Surabaya. Orang Surabaya mengatakan pada bagian Buritan. Sementara bagian wajah adalah jalan Jembatan Merah dan Rajawali.

Kedua fasad ini memang kontras. Pada bagian wajah (depan) penuh dengan arsitektur indah. Pada bagian buritan (belakang), tampilannya bagai sebuah paradoks. Tetapi sama sama penting sebagai bagian dari struktur kota.

Di bagian buritan ini pernah ada sebuah Rumah Sakit. Sebagian bangunannya masih ada. Gerbang rumah sakit masih berdiri. Keberadaan Rumah Sakit ini dapat dibuktikan dengan nama jalan, yang digunakan pada waktu itu. Yaitu Oude Hospitaal Straat, yang kini telah berubah menjadi Jalan Mliwis.

Thony sempat masuk ke rumah yang diduga kuat sebagai bagian dari komplek rumah sakit. Kini menjadi tempat tinggal, yang didiami oleh Zaini, Wakil Ketua RT 02/RW10 Kelurahan Krembangan Selatan.

Tegel kuno yang terbuat dari granit hitam di rumah warga. Foto: nanang

 

Rumah ini masih berlantai granit hitam dan terakota dengan ukuran sekitar 30 cm persegi. Masing masing dengan ketebalan hampir 10 cm. Menurut Zaini, per tegel granit ini pernah ditawar pemborong bangunan tua dengan harga 400.000 per buah.

“Tidak saya berikan pak. Selain dibayar saya juga diganti keramik berukuran 60 cm persegi dan sekalian dipasangkan. Tapi saya gak mau”, jelas Zaiki kepada Thony.

“Benar pak. Njenengan ikut menyelamatkan sejarah Kota Lama Surabaya”, respon Thony singkat.

Thony didanping Zaini, Wakil Ketua RT 02 RW 10 Kelurahan Krembangan Selatan melihat gapura gerbang di bekas Rumah Sakit zaman VOC. Foto: nanang

 

Dari rumahnya, lantas Thony diajak melihat Regol bekas Rumah Sakit lama yang letaknya berseberangan dengan lahan bekas Pemakaman Belanda Krembangan, yang kini menjadi lahan PDAM Surabaya.

“Lahan dan Kawasan ini adalah bagian dari fakta sejarah Kota Lama Surabaya. Pantas kiranya kawasan ini menjadi perhatian dalam rangka mengkonstruksi pemahaman dan edukasi publik tentang apa itu Kota Lama Surabaya”, pungkas Thony.@nanang

Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari penggunaan kata yang mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Loading...